Teti adalah penyanyi pendatang baru yang suxes luar biasa, tawaran manggung bukan hanya dari dalam negeri bahkan luar negeri, wooow. But, si suami, Totti mulai resah ketika Teti mulai sering pulang dini hari, bahkan ga pulang terkadang. Waduh padahal Teti punya 2 buah hati yang masih butuh perhatian terutama bundanya. Akhirnya Totti maksa Teti untuk meninggalkan dunia yang membesarkan namanya. “Pilih aku ato kerjaanmu”. Wah udah marah ni mas Totti, Teti, istrinya tak mau kalah, “Aku kan cari duit buat anak-anak juga o, aku juga punya hak yang sama untuk melakukan apa yang ku mau”. Karena Teti ga mau ninggalin kerjaannya akhirnya mereka sepakat cerai. Udah bisa ditebak pasti anak-anak mereka yang jadi korban. Weleh-weleh jangan sampai ini menimpa kita ya sobat. (Ilustrasi berdasarkan inspirasi kisah nyata). Ya, itulah sekelumit berita tentang para artis yang ngga’ terima bila dunia mereka hanya sibuk melulu untuk ngurusin anak, suami dan rumah tangga. Kalo kaum adam bisa melakukan segalanya, kenapa kaum hawa ngga’ bisa! Girls and women pada nuntut kesetaraan dengan kaum Adam. Nurul Arifin, Si Oneng alias Dyah Pitaloka dan sederetan para artis lain ikut mendukung menyuarakannya. Juga menteri negara Meutia Hatta dan mantan ibu negara Sinta Nuriyah Wahid. Dimata mereka perjuangan membela hak perempuan harus terus digalakkan. Wah, kok kayak mau maju perang aja..he..he. Tapi, pertanyaan besar yang perlu kita bahas, kesetaraan seperti apakah yang mau diperjuangkan ? Gender itu apaan sih..?? Kata Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (John M. echols & Hassan Sadhily, 1983: 256). Secara umum, pengertian Gender adalah perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan apabila dilihat dari nilai dan tingkah laku. Gender lebih menekankan pada aspek maskulinitas (masculinity) atau feminitas (femininity) seseorang. Dalam Women Studies Ensiklopedia dijelaskan bahwa Gender adalah suatu konsep kultural, berupaya membuat perbedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional antara laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat. Nah, inilah yang nggak bisa diterima oleh kaum feminis. Sehingga mereka pun membuat pandangan bahwa bila sex tidak bisa diubah maka peran gender bisa diubah melalui budaya dan teknologi. Misalnya; perempuan dikenal dengan lemah lembut, cantik, emosional dan keibuan. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan dan perkasa. Ciri-ciri dari sifat itu merupakan sifat yang dapat dipertukarkan, misalnya ada laki-laki yang lemah lembut, ada perempuan yang kuat, rasional dan perkasa. Teori inilah yang akhirnya menjadikan mereka semangat untuk mensejajarkan peran mereka dengan kaum pria. Sejak PD II (perang dunia kedua, red) program kesetaraan gender pun bermunculan bak jamur di musim hujan. Di Negara kita ini, konsep gender bertolak dari perjuangan Kartini yang memperjuangkan hak-hak wanita agar dapet hak sama dalam pendidikan (A’er garis bawahin sekali lagi lho sobat muslim, dalam pendidikan!). Perjuangan ini lalu dimodifikasi sampai jadi konsep perjuangan hak-hak wanita, yang katanya, dijajah pria! (sst…apa bener sich?). Sobat muslim, kayaknya banyak anak kaum hawa, yang gak ngerti and salah tafsir pada perjuangan Kartini and yang mereka faham hanya satu, emansipasi. Konsep gender sekarang udah campur sama konsep perjuangan kaum kapitalis, jadinya rusak. So, kerap berlebihan hingga timbul banyak masalah yang gak jelas ujung pangkalnya. Kaum Hawa sekarang banyak terjun ke segala profesi. Bahkan industry olah ragapun ada yang namanya sepak bola wanita, angkat besi, ataupun tinju wanita. Wanita gelantungan di bus ataupun lin jadi kenek or kondektur juga sudah biasa. Apa ini emansipasi yang diinginkan?Buat yang mikir, gak bakalan dech terjun ke profesi yang gituan. Apalagi di dunia iklan, tubuh wanita dieksplor sedemikian rupa untuk menarik selera konsumen. Bayangin aja, iklan mie ABC gak hot kalau gak berbaju merah ketat. Iklan mobil mewah belum lengkap tanpa kehadiran gadis berbodi aduhai… Dengan adegan udah mandi, si artis iklankan pompa air, apa hubungannya gitu loh semua itu! Ini emansipasi atau pelecehan terhadap wanita? Ih…ngeri dech! Konsep feminism gender ini telah memunculkan banya persoalan, diantaranya banyak isteri yang durhaka pada suami, perselingkuhan kalangan orang tua dan perceraian, yang pelacuran yang di picu dengan pornografi dan pornoaksi baik di dunia nyata maupun maya, maraknya HIV-AIDS bahkan di Barat telah terjadi lost of generation (generasi yang hilang) sebab para wanita tidak mau menikah alih-alih hamil, karena menurut mereka hal itu dianggap bentuk kekerasan pada wanita dan pelecehan seksual. Bahkan priapun protes jika dituduh sebagai biang kerok pelecehan seksual dan akhirnya jadi perdebatan tanpa ujung. Sobat muslim, kalo dipikir-pikir, sebenarnya RA Kartini hanya mendidik kaum wanita agar bisa memperoleh pendidikan dan wawasan yang luas sama dengan pria dan beraktivitas tanpa melupakan kodrat mereka sebagai wanita dan seorang ibu. Semangat beliau didasarkan setelah beliau belajar Al Quran dan menemukan ayat yang berbunyi “Minadz Dzulumaati Ilan Nur” atau dari kegelapan menuju cahaya. Nah, dari sini sobat muslim bisa berpikir kan pemikiran kesetaraan gender darimana?? Yup…Pemikiran equalitas gender adalah dari Kapitalis, not Islam. Islam Menjawab… Islam sebagai sebuah agama sekaligus pandangan hidup/mabda’ diturunkan oleh Allah Swt agar menjadi problem solving kehidupan. Sebagai sebuah aturan yang sempurna dan paripurna, Islam mengerti betul bagaimana posisi antara pria dan wanita. Hak dan kewajiban pria dan wanita adalah sama dimuka syariat sebagaimana firman Allah Swt, “Siapa saja yang beramal shalih, baik laki-laki ataupun perempuan, sementara ia seorang mukmin, sesungguhnya Kami akan memberikan kepada mereka kehidupan yang baik, dan Kami akan memberikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada amal yang telah mereka kerjakan” (QS. An Nahl: 97). Eiitt..perlu A’er tegasin, ini bukan legitimasi atas kesetaraan gender lho… Maksudnya hukum yang diturunkan oleh Allah Swt disyariatkan kepada manusia tanpa membedakan apakah dia wanita atawa pria. Baik urusan habluminallah, hablumminannnas dan hablum binafsihi, misalnya berdakwah, sholat, puasa, zakat, infaq, berpendidikan, de el el. But, tunggu dulu!! Allah pun Maha Mengetahui bahwa sesungguhnya pria dan wanita secara sex dan gender itu berbeda. Kemaskulinan pria nggak akan pernah bisa disamakan dengan feminitas wanita. Allah berfirman,“Janganlah kalian berangan-angan tentang apa yang Allah tetapkan kepada kalian atas yang lain. Bagi kaum pria ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi kaum wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan” (QS. An Nisa’: 32). Contohnya nih… kaum pria nggak boleh ngiri bila kaum wanita nggak bisa sholat gara-gara datang bulan. Kaum pria pun nggak boleh ngiri bila para wanita meminta haknya seperti nafkah karena ini sudah menjadi kewajiban suami untuk menafkahinya. “Yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki di kilang-kilang minyak, yang tidak saja menyalahi kodrat, tetapi bisa menghancurkan kehormatannya.” Yups, demikian pengakuan jujur seorang penulis bule. Bagaimana dengan kita? Padahal, kita udah punya panutan, yakni Nabi Muhammad SAW, yang senantiasa memberikan bimbingan dalam banyak hadistnya. Banyak pula wanita teladan di masa kejayaan Islam yang patut diacungi jempol. Kenapa tidak meneladani mereka? Suatu ketika, saat siding, Asma melontarkan pertanyaan yang membebani kaum wanita,”Ya Rasulullah, aku mewakili kaum wanita untuk menanyakan kepadamu tentang beberapa hal. Bukankah engkau diutus oleh Allah untuk rahmat bagi manusia laki-laki dan wanita? Namun dalam beberapa masalah ternyata kami merasa dibedakan dari kaum laki-laki. Kami sama-sama beriman dan bertaqwa, namun kami juga merasa iri dengan perbuatan kaum laki-laki yang seolah menempatkan mereka pada posisi yang baik untuk mendapatkan pahala yang besar. Mereka boleh berjihad, sementara kami hanya mengurus anak-anak dan menjahit pakaian mereka. Mereka diberi kesempatan untuk meraih pahala sholat jumat, sementara kaum wanita tidak boleh. Bagaimana ini ya Rasulullah?” Rasulullah tersenyum dan berkata kepada Asma’, “Wahai Asma’ kau pahami dan sampaikan nanti pada kaummu, kebaktianmu pada suami dan usaha mencari kerelaannya telah meliputi dan menyamai semua yang dilakukan oleh suami kalian (kaum pria),” jawab Rasulullah singkat, namun padat dan bermakna tinggi. Dalam kehidupan Islam, posisi wanita begitu terhormat, aurat mereka tertutup rapat, sehingga menjadi mulia. Hal ini sesuai dengan firman-Nya: “Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin:’Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al Ahzab: 59). Bahkan dulu di masa Rasulullah, bila ada wanita yang keluar rumah tidak memakai jilbab maka orang akan tahu bahwa dia wanita budak atau kafir. Kemuliaan wanita juga diwujudkan syariat Islam dengan sabda Rasulullah SAW : “Surga itu di bawah telapak kaki ibu” (HR. Ahmad). Sobat muslim, Islam juga memuliakan wanita. Untuk itu, kaum wanita ditempatkan pada posisi yang aman, terhormat dan terjaga kesuciannya. Suatu ketika seorang muslimah di kota Amuria, terletak antara wilayah Irak dan Syam, berteriak minta tolong karena kehormatannya dinodai oleh seorang pembesar Romawi. Teriakan ini ternyata terdengar oleh Khalifah Mu’tashim, pemimpin umat Islam saat itu. Kontan saja ia mengerahkan tentaranya untuk membalas pelecehan itu. Bukan saja sang pejabat, tapi kerajaan Romawi langsung digempur. Untuk membayar penghinaan tersebut, 30.000 tentara musuh tewas dan 30.000 lainnya menjadi tawanan. Sayangnya, kondisi seperti itu belum bisa kita saksikan sekarang. Dan gak bakalan kita saksikan selama system kehidupannya bukan Islam. Dalam system kapitalisme seperti sekarang ini, rasa aman, kehormatan, dan kesucian diri amat mahal. Gak bisa kita beli kalau gak pake duit. Untuk itu, berkacalah pada Islam, khususnya bagi Kartini-Kartini Millenium ini. Dengan taat dan patuh kepada ajaran Islam, insya Allah selamat dunia dan akhirat. Gimana mulainya? Mari belajar tentang Islam. Islam sebagai sebuah ideologi. ~ Ar-Rayyan Edisi 4 / April 2008 ~

Advertisements