ibrahimBelajar dari Ibrahim

Belajar taqwa padaNya

Belajar dari Ibrahim

Belajar untuk mencintai Allah….

>>>> S T O P <<<<

Itu tadi sedikit cuplikan lagu nasyid yang dinyanyikan oleh SNADA, pernah denger gak?? Ups, tapi kali ini kita gak bakalan bahasin tentang grup nasyid yang nyanyiiin lagu ntu, but mari kita sedikit mengupas terkait dengan isi lagunya. Key???

Memang pantes banget kalo kita disuruh belajar untuk taqwa kepada Allah lewat nabi Ibrahim a.s.Coz keteladanan Ibrahim a.s. memberikan pelajaran yang sangat berharga buat kita. Sehingga wajar aja nabi Ibrahim menjadi orang yang paling dicintai Allah. En juga sobat A’er tentu dah pada tau kan kalo nabi Ibrahim juga dipilih oleh Allah untuk menjadi abul anbiya ato bapak para nabi?

Nah, Untuk sedikit me-refresh ingatan, kita kaji ulang lagi yuks kisah pengorbanannya nabi Ibrahim yang terukir oleh tinta sejarah dalam Al Qur’an:

Ibrahim dan keluarganya hijrah ke Syam yaitu tepatnya ke Baitul Maqdis, Palestina untuk membebaskan diri dari kezhaliman raja Namrud yang ingin membunuhnya karena gak mw nyembah berhala en nabi Ibrahim kekeh dengan keimanannya yaitu islam dan juga mendakwahkanya. Nah peristiwa ini diabadikan dalam QS Ash-Shaaffat: 99, Allah berfirman : “Dan Ibrahim berkata:”Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku”.

Selama 20 tahun tinggal di Baitul Maqdis, Ibrahim a.s. tidak jua mendapatkan keturunan. Sehingga istrinya, Sarah, merasa kasihan dan meyuruhnya untuk menikah dengan budaknya bernama Hajar. Setelah itu, lahirlah Ismail a.s. Tetapi waktu itu Sarah merasa cemburu berat. Akhirnya, Ibrahim a.s. membawa Hajar dan putranya ke suatu tempat yang disebut Gunung Faran or sekarang dikenal Mekkah, suatu tempat yang sangat tandus, padang pasir yang tidak ada tanda-tanda kehidupan.

Dan tidak lama setelah kelahiran Ismail a.s., Allah juga memberi kabar gembira bahwa dari perut Sarah akan lahir seorang anak. Lahirlah Ishaq a.s. Ibrahim a.s. sujud, bersyukur atas karunia yang sangat besar ini. Puncak kenikmatan yang diberikan Allah kepada Ibrahim adalah kedua putra itu kelak menjadi nabi dan secara turun-temurun melahirkan nabi. Dari Ishaq a.s. lahir Ya’kub dan Yusuf a.s. serta keluarga nabi dari Bani Israil. Sedangkan dari keturunan Ismail a.s. lahirlah Nabi Muhammad saw. Itu sebabnya nabi ibrahim disebut sebagai abul anbiya ato bapak para nabi.

Episode berikutnya, suatu malam Ibrahim a.s. bermimpi bertemu dengan Allah dan memerintahkan untuk menyembelih putra tersayangnya Ismail a.s. dan mimpi ini berulang sampai 3 malam berturut-turut. Nabi Ibrahim yakin ini benar2 perintah Allah untuk menyembelih anak yang sudah puluhan tahun dinanti.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang salih.Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”(Qs. Ash-Shaffaat : 100-101)

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik(Qs. Ash-Shaffaat : 101-105)

Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang Kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (Qs. Ash-Shaffaat : 100-110)

Sungguh kisahnya sangat menakjubkan. Nabi Ibrahim a.s diperintah oleh Allah agar menyembelih buah hati yang tersayang. Padahal, ia adalah seorang anak yang sangat penyabar, taat, dan shalih. But, Nabi Ibrahim a.s rela, berserah diri, dan tunduk kepada perintah Allah. Gak ada ragu en bimbang sedikit pun dalam jiwanya tuk njalanin perintah Allah ntu.

Trus, Nabi Ibrahim a.s menginformasikan perintah Allah kepada anaknya, subhanallah hati kita dibuat berdecak bin kagum dengan jawaban yang keluar dari lisan anaknya. Ia berucap dengan penuh semangat, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar“.

Dari kisah inilah awal mula adanya perintah untuk berkurban. Itu loh yang biasanya kita lakuin pas lebaran idul Adha. Biasanya orang2 yang punya kelebihan harta mereka menyembelih kambing, kerbau, sapi en kalo di Arab ada yang nyembelih unta loh… trus daging2nya dibagi2in tuk masyarakat terutama fakir miskin.

Itu tadi sedikit kisah nabi Ibrahim dan Ismail a.s. so pasti dapat kita petik seabrek hikmah dibalik kisah tadi. Diantaranya:

  1. Cinta butuh pengorbanan

sobat A’er, kalau kita mengaku diri ini mencintai Allah en RasulNya, pastinya harus kita buktikan sebesar apa binti sedalam mana dunkz cinta itu. Cara ngebuktikannya adalah sampe sejauh mana kita berani berkorban untuk yang kita cintai? Kalo nabi ibrahim a.s rela mpe disuruh nyembelih anaknya. Trus kita apa? Kalo kita masih enggan bangun subuh tuk solat coz alasanya masih ngantuk en dingin, trus kita disuruh rogok kantong dikit dari uang jajan tuk berinfaq, tapi kita masih eman mending dibuat beli pulsa or komik or kosmetik. Giliran kita disuruh pake kerudung kita masih berat coz ntar rambut kita yang bagus dah gak keliatan lagi, De-es-be aturan islam yang laen.Waaahhhhhh, kalo kayak geto berarti cintanya patut diragukan neh!!!

Seorang muslim, kalau dia mencintai Allah dan RasulNya harus mau berkorban tuk jalankan apa2 yang diperintahkan en menjauhi semua yang dilarang. Kita gak nimbang2 apakah perintah itu enak dijalankan ato gak.

  1. Mengutamakan Allah dan RasulNya

Seorang Muslim harusnya meletakkan Allah en RasulNya di urutan paling atas. It’s mean, kita menjadikan Allah en RasulNya lebih kita cintai dari pada dunia en semua isinya. Seperti dalam firman Allah dalam Al Quran:

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. QS: At-Taubah 24.

  1. Taat pada orang tua

seorang muslim harus selalu berusaha untuk taat pada ortu sebagai wujud taat dia kepada Allah. Apapun yang diperintahkan oleh ortu, kita harus senantiasa menjalankannya selagi perintah itu dalam lingkup taat pada Allah. Ketaatan nabi ismail a.s pada ortunya bisa kita contoh tuh. CATET! Ridho Allah tergantung Ridho orangtua en murka Allah tergantung murka orangtua.

  1. senantiasa berbuat kebaikan

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (QS. Al Mulk: 2).

so, bagaimana hari2 kita isi dengan amal ato perbuatan yang telah dicontohkan oleh rasul qta.

  1. we do all of thing just for Allah

Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal (saleh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam syurga). (QS. Saba: 37)

  1. Peduli pada fakir miskin

Dengan adanya perintah berqurban kita bisa berbagi dengan orang2 fakir miskin. Yaitu membagi2kan daging kurban kepada mereka.

Itu tadi sedikit makna dibalik pengorbanan nabi Ibrahi a.s dan nabi Ismail a.s dalam ketaatan pada Allah. Ketika kita mau sedikit berkorban, maka hindari berpikir mendapatkan balasan dari manusia. Ketika Allah swt menginginkan keabadian bagi hamba tersebut, maka balasannya akan di simpan di akhirat kelak. Mari belajar melakukan banyak deposito kebaikan. wallohu’alam bishowab.

~Edisi Desember 2009~

Advertisements