2_20130303_143709Alangkah bahagianya mengenang Islam pernah berjaya hingga menguasai 2/3 dunia. Namun, betapa sedihnya mengingat Islam kini tak seperti yang dulu lagi. Kekuasaan Islam yang pernah berdiri dari masa Rasulullah dan Khulafa’ur Rasyidin hingga generasi-generasi setelahnya, akhirnya mengalami keruntuhan dan harus berganti dengan kekuasaan orang-orang kafir. Dan kekuasaan tersebut hingga kini pun masih berlangsung.

Kalau sobat pernah mendengar, salah seorang dalang atas runtuhnya kekuasaan Islam, bernama Mustafa Kemal Pasha yang mendapat julukan Attatürk (Bapak Turki). Siapakah dia? Dia dikenal sebagai penggagas Republik Sekuler Turki, pemimpin revolusiTurki. Dialah yang mendirikan negara Turki di atas puing-puing reruntuhan Islam di Turki di tahun 1923. Attatürkmemindahkan ibu negara Turki dari Istanbul ke Angora yang kini dikenali sebagai Ankara. Mustafa Kemal telah membentuk aspek kehidupan rakyat Turki agar sesuai dengan tuntutan ideologi Kemalist yang bertujuan membawa Turki menjadi negara yang berprinsip modernisme, nasionalisme, dan sekulerisme.

Pada tahun 1919-1923 terjadi revolusi Turki di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Kecemerlangan karier politik Mustafa Kemal dalam peperangan, mengantarkannya menjadi pemimpin dan juru bicara gerakan nasionalisme Turki. Gerakan nasionalisme ini merupakan leburan dari berbagai kelompok gerakan kemerdekaan di Turki, semula bertujuan untuk mempertahankan kemerdekaan Turki dari rebutan negara-negara sekutu. Namun pada perkembangan selanjutnya gerakan ini diarahkan untuk menentang khalifah, Sultan Abdul Hamid II.Selanjutnya, dengan berbagai perjanjian dan perundingan yang dilakukan Attatürkdengan Inggris, maka semakin terbuka jalan untuk rencana kejam Attatürkmenghapus kekhilafahan secara total dari Turki.

Akhirnya, 3 Maret 1924, kekhilafahan resmi dihapuskan dan diresmikan pemisahan agama dari urusan negara (Sekulerisme). Setelah Republik Turki berdiri, rencana keji Attaturk makin menjadi, tak hanya menggencarkan paham sekulerisme, Attatürkpun menghapuskan lembaga syari’ah, mengganti hukum Islam dengan hukum Barat, menutup madrasah-madrasah, mengganti adzan dari bahasa arab ke bahasa Turki, masjid di set seperti gereja (terdapat kursi dan muslim masuk masjid dengan bersepatu bersih), melarang penggunaan jilbab oleh muslimah, mengganti semua tulisan arab dengan tulisan latin dan masih banyak lagi.

Begitu besar sumbangsih Attarturk terhadap runtuhnya kekhilafahan Islam di Turki hingga Allah pun mengganjarnya dengan proses kematian  yang begitu mengerikan. 26 September 1938, ia pingsan selama 48 jam disebabkan terlalu panas, lalu ia sempat siuman, namun kemudian hilang ingatan secara permanen. 9 November 1938, ia pingsan lagi selama 36 jam dan akhirnya meninggal dunia pada 10 November 1938. Selama sakit Mustafa berteriak-teriak sedemikian keras sehingga teriakannya sampai ke teras istana yang ditempatinya. Tubuhnya tinggal tulang berbalut kulit. Beratnya hanya 48 kilogram. Giginya banyak yang tanggal hingga mulutnya hampir bertemu dengan kedua alis matanya. Badannya menderita demam yang sangat sehingga ia tidak bisa tidur, darah keluar dari hidungnya, menderita penyakit kelamin. Tubuhnya juga mengeluarkan bau bagaikan bau bangkai. Walau demikian, Mustafa masih saja berwasiat, jika dia meninggal maka jenazahnya tidak perlu dishalati.

Sewaktu ia meninggal, konon tidak seorang pun yang memandikan, mengafani dan menshalatkannya. Mayatnya diawetkan selama 9 hari 9 malam, sehingga adik perempuannya datang meminta ulama-ulama Turki memandikan, mengafani dan menshalatkannya. Menurut banyak sumber, ketika dibawa ke pemakaman, mayatnya tidak mau masuk ke liang lahat. Akhirnya orang-orang yang menguburkan mayatnya mengawetkan mayat Attaturkdan memasukkannya ke museum yang diberi nama Etnografi di Ankara selama 15 tahun atau sampai tahun 1953. Setelah 15 tahun mayatnya kembali hendak dikuburkan, namun masih juga susah. Akhirnya, jenazahnya dibawa ke satu bukit dan ditanam dalam satu bangunan marmer yang beratnya 44 ton. Mayatnya dikubur di celah-celah batu marmer. Na’udzubillahi min dzalik.

Demikian sobat, cerita singkat Mustafa Kemal Attatürk.Kebenciannya terhadap hukum Islam telah mengakibatkan laknat Allah hingga ujung kematiannya. Dan semoga Allah menguatkan kaum muslimin untuk menjadikan Al Quran dan Sunnahsebagai pedomannya, tidak membantah hukum didalamnya namun memegangnya dengan sekencang-kencangnya agar Islam kembali berjaya di seluruh belahan dunia. Amin. Wallahua’lam. [Wd]

 ~Edisi Maret 2015~

 

Advertisements