512ee02524a83_512ee02525a24Habib bib Zaid adalah seorang muslim dari angkatan lama, yang megangkat baiat kepada rasulullah dan keimanannya yang telah mendarah daging. Semenjak hijrahnya Nabi ke Madinah, beliau selalu berada disampingnya tak pernah ketinggalan dalam suatu peperangan dan tidak pula melalaikan kewajibannya.

Pada suatu ketika, diselatan jazirah arab muncullah pembohog besar yang mengaku sebagai nabi, dialah Musailamatul Kaddzab, Musailamuah si pembohong besar. Tidak disangka, datang seorang utusan yang dikirim oleh Musailamah untuk membawa sepucuk surat kepada Rasulullah yang berisi agar Rasulullah mau memberikan separuh wilayah berikut rakyatnya kepada dirinya. Tidak hanya sampai disitu saja, penipu besar ini masih menyebarkan kebohongan dan kepalsuannya, sementara hasutan dan penganiayaan terhadap orang-orang yang beriman kian bertambah. Dan Rasulullah hendak mengirim surat kepada Musailamah agar dia menghentikan penyelewengan-penyelewengannya. Dan sebagai pembawa surat kepada Musailamah, Rasulullah menjatuhkan pilihan kepada Habib bin Zaid. Maka berangkatlah habib melangkahkan kakinya dengan cepat dan berbesar hati menerima tugas yang dipercayakan kepadanya oleh Rasulullah SAW.

Akhirnya sampailah Habib ketempat Musailamah, lalu Musailamah membaca surat Rasulullah dan marah. Apa yang terjadi yaitu Musailamah si pembohong besar itu menyiksa dan menganiaya Habib. Pengikut-pengikut Musailamah dikumpulkan untuk menyaksikan Habib yang disiksa dan dipaksa beriman kepada Musailamah. Kata Musailamah kepada Habib, “Apakah kamu mengakui Muhammmad itu utusan Allah ?” Kata Habib, “Benar, saya mengakui bahwa Muhammad itu utusan Allah”. Wajah Musailamah merah padam karena marah. Lalu Musailamah berkata, “ Dan apakah kamu mengakui aku sebagai utusan Allah ?”, Habib berkata : “Tak pernah aku mendengar tentang itu…….” Kata Habib. Musailamah marah besar, lalu dipanggilnya algojonya yang kemudian segera datang dan menusuk tubuh Habib dengan ujung pedangnya. Kemudian dilanjutkannya dengan menyayat dan membagi-bagikan tubuh habib tersebut kepada para pengikutnya. Sementara pahlawan besar itu tiada berdaya dan yang dapat dilakukannya hanyalah bergumam mengulang-ulang senandung sucinya ”Lailahaillah, Muhammaddurr Rasulullah………

Sobat muslim, seandainya saat itu Habib berpura-pura mengikuti Musailamah tentu tidak akan berkurang keimanan dalam dirinya. Namun, Habib adalah seorang tokoh yang menyaksikan langsung Baiat Aqabah dan sejak itu beliau begitu teguh memikul tanggung jawab dari keimanannya. Peristiwa diatas menunjukkan kesabaran, kerelaan berkorban, serta teguhnya keimanan.

Iman yang kuat terpatri dalam diri seorang muslim akan mampu menumbuhkan jiwa berkorban dan loyalitas terhadap Islam. Iman seperti inilah yang saat ini diharapkan tumbuh dalam diri generasi muslim, sehingga ngga’ mudah ditipu oleh orang-orang kafir Barat dan menjadi pejuang dan pelindung-pelindung islam agar cahaya Dien ini tidak padam.

 
~ Edisi 2/ Februari 2008 ~
Advertisements