images (2)Sahabat Rasul yang satu ini, punya pribadi yang istimewa. Bukan berarti yang lain gak ya..!. Pinter n baik hati. Ah… biasa aja namanya juga sahabat Rasul, masbadung!.

Dia pemuda Quraisy yang tampan, penuh semangat, wangi, rapi, anaknya wong siper tajir pula. IDola para gadis. bahkan selalu menjadi buah bibir para pemuda-pemuda arab. Fedi Nuril mah, lewat oy…!. Akan tetapi, dia rela ninggalin semuaya demi Islam. Bahkan dia rela terusir dari keluarga yang menyayangi dan ia sayangi karena mereka tak mau menerima keislaman Mush’ab.
Ujian dan penderitaan harus dilaluinya. Suatu hari Mush’ab tampil dihadapan kaum Muslimin yang duduk mengelilingi Rasul. Semua mata tertuju padanya, lalu menundukkan kepala dan memejamkan mata. Sebagian dari mereka meneteskan air mata. Why?. Mereka melihat Mush’ab memakai jubah usang yang penuh tambal. Begitulah keadan Mush’ab saat itu. Namun, ia merasa puas bahwa kehidupannya telah layak dipersembahkan bagi pengorbanan terhadap penciptanya Yang Maha Tinggi, Allah SWT. Rasulullah menatapnya dengan penuh cinta kasih, seraya bersabda: “Dahulu saya melihat Mush’ab tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya”.
Sobat muslim Mush’ab juga merupakan duta islam yang pertama. Dia menjadi duta di Madinah untuk mengajarkan Islam kepada kaum Anshar, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrahnya Rasul. Pemuda baik hati ini, memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah, berupa kecerdasan dan keluhuran budinya. Dengan sifat zuhut, jujur dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan hati penduduk Madinah hingga mereka semua masuk islam. 
Emang jadi sunnatullah, kalo nyampein kebenaran tuch gak selalu diterima dengan mulus. Seperti yang dialami Mush’ab, ia menghadapi peristiwa yang megancam keselamatan diri, kalo gak karena kecerdasan diri dan kebesaran jiwa juga beckupan Allah of course. Waktu enak-enaknya ngasih petuah ke orang-orang, tiba-tiba Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid menodong Mush’ab dengan lembing karena dia pikir Mush’ab akan mengacau, apalagi keEsaan Tuhan yang disampaikan Mush’ab bertentangan dengan kepercayaan mereka, yang so pasti jauh banget dari kebenaran Islam. 
 
Melihat gelagat Usaid persis seperti singa yang akan menerkam, Mush’ab yang baik mengeluarkan ucapan yang halus: “kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu?seandainya anda menyukai nanti, Anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”Dan apa yang terjadi?saat Mush’ab membacakan ayat-ayat al-Quran dan menguraikan dakwah yang dibawa oleh Muhammad saw.,maka dada Usaid pun mulai terbuka, meresapi keindahannya. Seketika itu Usaid menyatakan keislamannya,yang disusul oleh temannya Sa’ad bin Mu’adz, kemudian oleh Sa’at bin Ubadah.Akhirnya, banyak orang Madinah yang yang mendatangi Mush’ab bin Umair untuk mendengarkan kebenaran yang disampaikannya.
Keberhasilan misi penyampaian islam di Madinah, membuat Rasul dan para sahatnya berhijrah ke negeri tersebut. Sedangkan orang-orang Quraisy semakin geram.Mereka menyiapkan tenaga untuk berbuat kekerasan terhadap hamba-hamba Allah yang shalih.Terjadilah perang Badar dilanjudkan dengan perang Uhud.Dalam perang Uhud itulah Mush’ab tampil sebagai pembawa bendera perang.
Sobat muslim, peperangan berlangsung sengit,ditambah lagi pasukan panah kaum muslimin tidak menaati peraturan Rasul, yang membuat pasukan Islam kalah.
Mush’ab melihat barisan kaum muslimin porak poranda, membuat musuh mengarahkan serangan mereka kepada Rasulullah saw.Baginya keadaan segenting itu harus cepat diatasi, dengan apa? Maka, diacungkannya bendera setinggi-tinggiya. Ia maju ke tengah pertempuran, untuk mencari perhatian musuh,yang intinya adalah untuk melindungi Rasulullah dari serangan musuh.Gais, inilah puncak memoar Mush’ab bin Umair,ia menjemput ajalnya dengan cara mulia,shahid.
Sekalipun hanya seorang diri,tapi Mush’ab bertarung seperti pasukan tentara yang besar. Tangan yang satu memegang bendera perang, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam. Datang seorang musuh menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan:”Muhammad itu tiada lain adalah seorang Raasul yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul” lalu, dipegangnya bendera dengan tangan kiri sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya sampai putus juga. Mus’ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil mengucapkan: “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Lalu datang musuh yang lain menyerangnya dengan tombak, dan menusuknya sampai tombaknya patah. Mush’ab pun gugur.
 
Mungkin sobat muslim yang baca riwayat hidup Mush’ab ini akan mengatakan : ”Sungguh tragis nasib Mush’ab”. Apalagi dengan kenyataan, saat gugur di medan tempur tidak ada kain yang bisa menutupi mayatnya kecuali, kain burdah penutup kepalanya. No guys, itu bukan tragis. Itulah pahlawan Islam. Mush’ab gugur karena keinginannya melindungi Rasulullah. Dia adalah bintang dan mahkota para syuhada’. 
 
~ Edisi 5 / Mei 2008
Advertisements