haiiAssalamualaikum wr. wb.

            Hei sobat AeR saya mau tanya, bagaimana hukumnya jika ada orang yang sudah mendaftar haji, namun sebelum keberangkatannya beliau sudah meninggal dahulu?

Dari: Surya Devi Arsyita, Jl. Kasian no. 57 Gambirono, Bangsalsari, Jember.

SMP Negeri 3 Tanggul

Jawaban:

Wa’alaikum salam Wr.Wb. Alhamdulillah ash sholatu wassalamu ‘ala rasulillah, wa ba’du. Sobat AeR rahimakumullah, ibadah jika dilihat dari badan dan harta dapat di bagi ke dalam tiga bagian :

  1. Ibadah badan semata-mata, dan tidak memerlukan harta benda, seperti puasa dan sholat. Dalam ibadah ini ulama mazhab sepakat bahwa bentuk ibadah ini tidak bisa diganti, apapun keadaannya, baik bagi orang yang sudah meninggal maupun bagi orang yang masih hidup. Namun ada juga ulama yang berpendapat hanya bagi orang yang meninggal saja yang bisa diganti, sedangkan orang yang masih hidup sama sekali tidak boleh diwakilkan/digantikan
  2. Ibadah harta semata-mata, dan tidak mempengaruhi badan atau pekerjaan, seperti zakat. Bentuk ibadah ini dapat diganti, maka bagi orang yang mempunyai harta boleh mewakilkan kepada seseorang untuk mengeluarkannya zakat hartanya dan semua shadaqohnya.
  3. Gabungan antara harta dan badan, seperti haji. Haji merupakan ibadah yang membutuhkan pekerjaan/badan seperti : thawaf, sa’I, melempar jumroh dll, juga membutuhkan harta seperti ongkos perjalanan dan keperluan-keperluan lainnya.

Ulama mazhab sepakat bahwa orang yang mampu melaksanakan haji dan dapat memenuhi semua syaratnya, maka dia wajib melaksanakan haji secara langsung, dan tidak boleh menggantikannya kepada orang lain. Kalo digantikan orang lain, dia tidak mendapatkan pahala. Dia wajib melaksanakan haji sendiri, dan kalau tidak melaksanakannya, kewajiban itu tidak gugur karena meninggal dunia, sebab dia mempunyai kelebihan dalam hal harta, maka menurut Imam Syafi’I dia wajib mengeluarkan uang sesuai ongkos haji dari harta warisannya, jika dia tidak berwasiat untuk mengeluarkan ongkos haji. Menurut Hanafi dan Maliki kewajiban haji gugur dari segi kewajiban fisik/badan, tapi kalau dia berwasiat agar mengeluarkan upah haji, maka ahli warisnya harus mengeluarkan sepertiga dari upah haji, sebagaimana wasiat untuk kebaikan-kebaikan yang lain, tapi kalau tidak berwasiat, kewajiban itu tidak wajib diganti.

Untuk kasus orang yang lemah sebab sudah tua atau sebab yang lain seperti sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya, maka  jika dia telah mengumpulkan semua syarat haji dari segia harta/materi maka kewajiban untuk melaksanakannya secara langsung gugur, akan tetapi menurut ulama mazhab dia wajib memberikan ongkos kepada orang yang menghajikannya.

Wallahu a’lam bishshowab.

Rubrik Konsul diasuh oleh Ust. Fitroni Hariado, S.E.

Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Jember

~Ar-Rayyan Edisi Februari 2015~

Advertisements