downloadEh, ketemu lagi dengan sobat AeR. Edisi kali ini, Qishah ingin berbagi tentang kisah cinta dua sejoli yang patut jadi teladan sepanjang zaman. Ehm, siapa ya, mereka? Romi and Juli? Ah, udah kagak zaman! Kalo dua sejoli yang satu ini, nih, dijamin, kisah cintanya romantis abis dan bikin nangis… kisah cinta yang begitu mulia, berdiri di atas nama cinta Rabbnya. Inilah romansa cinta Ali dan Fatimah. Ingatkah, sobat, siapakah mereka?

Ali bin Abi Thalib adalah sepupu Rasullah saw., putra dari paman beliau, Abi Thalib. Ali merupakan pemuda yang termasuk golongan yang pertama masuk Islam (Assabiquunal awwaluun). Ia termasuk sahabat Rasul yang sangat berpengaruh dan berjasa. Ali adalah pemuda yang gagah, tampan, kuat dan cerdas. Bahkan, Rasul pernah berkata, jika Rasul adalah sebuah gudang ilmu, maka Alilah gerbang untuk memasuki gudang tersebut. Sedangkan Fatimah az-Zahra adalah putri kesayangan Rasulullah dari istri pertama beliau, Siti Khadijah binti Khuwailid. Fatimah adalah perempuan yang tegar, cantik, baik dan lembut. Sebagai anak yang berbakti pada ayahnya, Fatimahlah yang mengurus dan mendampingi Rasul sejak Khadijah meninggal sampai Rasul menikah lagi.

Ali dan Fatimah telah tinggal dan melewati hari-hari bersama sejak kecil karena Ali ikut tinggal bersama dengan Rasul dan keluarganya. Saat remaja, tumbuhlah rasa cinta Ali kepada Fatimah. Namun, karena keimanannya yang begitu kuat, Ali berusaha untuk menjaga hatinya memilih memendam rasa cintanya bertahun-tahun lamanya. Hingga ketika Ali dewasa dan siap menikah, Ali berniat menghadap Rasul untuk melamar Fatimah. Sayang, niat Ali telah didahului oleh Abu Bakar yang lebih dulu melamar Fatimah. Ali pun harus ikhlas bahwa cintanya selama ini berakhir pupus, mengingat Abu Bakar adalah sahabat setia Rasul yang sangat shalih dan begitu sayang kepada Rasul, dan Rasul pun menyayanginya sedangkan ia hanyalah pemuda miskin yang selama ini tinggal bersama Rasulullah. Namun ternyata, Rasul menolak lamaran Abu Bakar. Ali pun senang. Namun, lagi-lagi Ali harus kecewa karena niat tulusnya telah didahului oleh Umar. Kembali, hati Ali tersayat. Ali sangat bersedih. Ali merasa tak ada harapan lagi.

Sobat, rencana indah Allah memang tiada yang bisa menduga. Disaat Ali merasakan derita cintanya, datanglah Abu Bakar dengan senyum indahnya memberitahu Ali untuk segera bertemu dengan Rasul karena ada yang ingin beliau sampaikan. Pikir Ali, pasti ini tentang pernikahan Umar dengan Fatimah. Sepertinya Rasul meminta Ali untuk membantu persiapan pernikahan mereka. Ali pun menyemangati dirinya sendiri agar kuat dan tegar walaupun sebenarnya, hatinya sangat perih teriris-iris. Apalagi harus membantu mempersiapkan dan menyaksikan pujaan hatinya menikah dengan orang lain. Sungguh rencana Allah memang yang paling indah. Setelah Ali bertemu Rasul, tak disangka, lamaran Umar bernasib sama dengan lamaran Abu Bakar. Bahkan, Rasul menginginkan Ali untuk menjadi suami Fatimah. Karena Rasul sudah lama tahu bahwa Ali telah lama memendam rasa cinta kepada putrinya. Ali pun sangat bahagia dan bersyukur.

Ali pun langsung melamar Fatimah melalui Rasul dengan menyerahkan baju perangnya sebagai mahar. Rasul pun menerima lamaran itu. Fatimah pun mematuhi ayahnya serta siap menikah dengan Ali. Akhirnya, Ali pun menikah dengan Fatimah, perempuan yang telah lama ia cintai. Tak disangkanya lagi, ternyata Fatimah juga memendam perasaan cinta yang sama kepada Ali. Perempuan luar biasa dengan segala keshalihahannya ini pun memilih untuk mencintai dalam diam, meski ia tak pernah tahu perasaan Ali kepadanya. Maha Kuasa Allah dalam mengatur setiap ketetapan untuk hamba-Nya. Keagungan dan kesucian cinta Ali dan Fatimah yang terjaga, mengantarkan mereka kepada nikmat yang begitu indah dalam pernikahan penuh berkah yang dilandasi kecintaan mereka kepada Rabbnya.

Sobat, demikian kisah cinta Ali dan Fatimah yang begitu mulia, yang seharusnya menjadi teladan bagi kita semua, terutama anak muda sepanjang masa. Mencintai adalah naluri, namun ungkapan cinta juga ada aturannya. Cinta yang dilandasi keimanan, akan membuat cinta itu suci, terjaga dari bumbu-bumbu kemaksiatan yang ditaburkan setan. Diam akan membuat hati terjaga. Dan Allah Maha Tahu terhadap hamba-hamba yang hatinya selalu terjaga. Mencintai dalam diam memang berat, namun cinta yang diumbar atau diungkapkan dengan sembarangan sedangkan belum ada kesiapan untuk menempuh jalan pernikahan, bisa memungkinkan interaksi yang terjadi akan menjurus maksiat, berbuah laknat. Nau’dzubillah. Semoga kisah ini bermanfaat untuk sobat yang menginginkan cinta suci yang penuh keridhoan-Nya. Sampai jumpa di Qishah berikutnya. Wallahu a’lam.  (Wd)

~Ar-Rayyan Edisi Februari 2015~

Advertisements