wanita superAssalamualaikum. Yo yo, apa kabar sobat AeR tercinta??? April adalah bulannya perempuan, ya ga sobat? Disebut bulannya perempuan karna dibulan ini ada event Hari Kartini. Kemaren-kemaren juga rame ni media bahas tentang Feminisme. So, AeR kali ini mo bahas ”Perlukah wanita menuntut kesetaran seperti laki laki?” Menurut shobat AeR gimana? Perlu ga’? Uke marilah kita kelupas, ups salah kupas maksudnya secara berjamaah alias bersama sama (hehe).

          Di era yang serba kapitalis ini tidak jarang manusia yang ingin memiliki hak yang sama antara satu sama lain, baik itu laki laki ataupun perempuan. Mereka berlomba lomba untuk mendapatkan hak mereka. Bahkan perempuan-perempuan saat ini ingin memiliki hak yang sama dengan laki laki dalam segala aspek kehidupan. Semboyan yang mereka emban adalah “Jika laki laki bisa kenapa perempuan tidak?”. Inilah yang menjadi momok bagi perempuan diseluruh dunia, yang tidak lain dikenal dengan sebutan “EMANSIPASI WANITA atau dikenal dengan FEMINISME” (wuihhh besar naget tulisannya).

          Emansipasi wanita secara harfiah adalah kesetaraan hak dan gender. Secara istilah makna emansipasi wanita adalah perjuangan sejak abad ke 14 M, dalam rangka memperoleh persamaan hak dan kebebasan seperti hak kaum laki-laki (Kamus ilmiah Populer hal 74-75). Jadi para penyeru emansipasi wanita menginginkan agar para wanita disejajarkan dengan kaum pria di segala bidang kehidupan. Intinya nech sobat emansipasi wanita memperjuangkan agar wanita bisa memilih dan menentukan nasib sendiri dan mampu membuat keputusan sendiri. Emansipasi wanita bertujuan memberi wanita kesempatan bekerja, belajar, dan berkarya seperti halnya para pria, seimbang dengan kemampuannya. Pengertian sama di sini lebih dipersepsikan pada kata sejajar karena tidak bisa dipungkiri wanita dan laki-laki jelas-jelas berbeda. Is it clear for you? Ok, next.

      Nach, dari mana dan bagaimana sech the history of feminism itu? gerakan feminisme lahir dari awal kebangkitan perempuan untuk menggeser status sebagai makhluk kedua setelah laki-laki di dunia ini. Gerakan feminisme ini berkembang pada abad pertengahan Eropa, abad 16-18 M. Pada periode awal ini perempuan dianggap tidak rasional (yang selalu menggunakan perasaan sebagai tolak ukur) dan laki-laki hanya untuk melindungi saja, tidak harus bekerja mencari nafkah. Pada saat itu para perempuan juga secara diam-diam memulai gerakan-gerakan kecil untuk menentang dominasi laki-laki. Namun tuntutan akan kesetaraan derajat antara perempuan dan laki-laki baru bisa mereka wujudkan pada awal abad ke 17 di Inggris. Pada abad 18-19 M, terjadi pembodohan terhadap perempuan. Nach dari sinilah kemudian mucul banyak gerakan feminism antara lain: feminism liberal, feminism radikal, feminism sosial, feminism marxisme dsb. Ok, lanjut!!!

kartini

          Di Indonesia, tokoh yang dianggap sebagai pencetus Emansipasi adalah Raden Adjeng Kartini. Saat itu beliau menulis surat-surat yang mengobarkan semangat kaum perempuan, “Kami anak-anak perempuan yang masih terbelenggu oleh adat-istiadat lama, hanya boleh memanfaatkan sedikit saja dari kemajuan di bidang pendidikan itu. Sebagai anak-anak perempuan, setiap hari pergi meninggalkan rumah untuk belajar di sekolah sudah merupakan pelanggaran besar terhadap adat negeri kami.” Hal ini DISALAHARTIKAN (maaf kegedean sobat) oleh kaum perempuan, padahal pada saat itu kesetaraan perempuan yang dimaksud adalah perempuan mendapat hak yang sama dalam hal menuntut ilmu sebagaimana yang ajarkan Islam.

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. “

[Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

          Sesungguhnya Islam telah memuliakan wanita dengan aktifitasnya yang sudah disesuaikan dengan fitrahnya. Sebagai hamba Allah seorang muslimah juga berperan menunaikan segala perintah Allah, yaitu rukun Islam dan segala ibadah yang lain. Selain itu, mereka juga bertanggungjawab untuk mengembangkan dan memperluas ajaran Islam. Hal ini bukan hanya berlaku untuk muslimah saja melainkan juga untuk muslimin. Dari aspek rumah tangga, berperan sebagai seorang istri dan seorang ibu. Ketika seorang muslimah mampu melaksanakan tugas rumah tangganya dengan maksimal maka Allah akan memberikan pahala yang melimpah. Dalam dunia pendidikan seorang muslimah mendapatkan hak yang sama seperti halnya laki laki, karena dalam Islam menuntut ilmu terlebih tsaqofah Islam adalah kewajiban bagi laki laki maupun perempuan.

          Akan tetapi ada beberapa hukum tertentu yang dibuat oleh Allah untuk muslimah. Allah menjadikan laki-laki sebagai kepala keluarga, bukan perempuan. Dan Rasulullah juga menyebut dengan jelas bahwa perempuan dilarang menduduki jabatan sebagai kepala negara. Kita harus yakin bahwa setiap perintah dan larangan Allah pasti mengandung kebaikan didalamnya. Sungguh Allah telah memuliakan wanita. Ada surga ditelapak kaki seorang ibu serta Rasulullah Muhammad ﷺ juga menyampaikan yang harus dihormati didunia ini adalah ibumu dan beliau menyebutkannya sebanyak tiga kali baru yang keempat adalah ayahmu. Ini membuktikan betapa Islam telah memulikan wanita, lalu patutkah kita mencari alasan untuk mengambil gerakan dan mengikuti faham feminisme? Jawabannya adalah NO.

         Jauh sebelum barat memplokamirkan emansipasi wanita, Islam telah lebih dahulu mengangkat derajat wanita dari masa pencapakan di era jahiliah ke masa kemuliaan wanita. Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab: 35, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin,, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.

Dari ayat diatas kita bisa melihat betapa islam tidak membedakan antara wanita dan laki-laki, semua sama dihadapan Allah ta’ala, yang membedakan adalah mereka yang paling tinggi taqwanya.

So, guys buat apalagi mengikuti feminisme, yuks kembali kepada Islam dan sampaikan kepada para wanita muslimah bahwa Allah telah memuliakan mereka… Wallahua’lambisshowab. [Ash].

~Ar-Rayyan Edisi April 2015~

Advertisements