thaharah          Ulama fiqih menganggap thaharah merupakan satu syarat pokok sahnya ibadah. Tidaklah berlebihan bahwa dikatakan tidak ada satu agamapun yang betul-betul memperhatikan thaharah seperti agama Islam. Menurut istilah ahli fiqih thaharah berarti membersihkan hadas atau menghilangkan najis jasmani seperti darah, air kencing, dan tinja. Mereka yang terkena hadas wajib berwudhu, mandi, atau tayammum. Thaharah dari hadas dan najis itu menggunakan air, sebagaimana firman Allah:

          ‘’… dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu…’’ (QS. Al-Anfal: 11)

          ‘’… dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih…’’ (QS. Al-Furqan: 48)

Para ulama membagi air menjadi dua macam berdasarkan banyak sedikitnya atau berdasarkan keadannya, yaitu:

  1. Air Muthlaq dan air Musta’mal.
  2. Air Mudhaf.

Air Muthlaq: air yang turun dari langit atau keluar dari bumi. Contohnya: air hujan, air laut, air sungai, air telaga, setiap air yang keluar dari bumi. Air ini suci dan mensucikan.

Air Musta’mal: air Muthlaq yang kena najis/ telah digunakan bersuci. Misalnya air bekas membersihkan najis di badan, pakaian atau bejana. Air ini tidak dapat digunakan untuk membersihkan hadas atau najis lagi.

Air Mudhaf: air perahan/ekstrak dari suatu benda seperti limau, tebu, anggur, atau air yang Muthlaq pada asalnya, kemudian bercampur dengan benda-benda lain, misalnya air bunga. Air semacam ini suci namun tidak dapat mensucikan najis dan kotoran.

 

Berdasarkab banyaknya, yaitu:

  1. Air dua kullah
  2. Air mengalir dan air tenang

Air dua Kullah: semua ulama sepakat bahwa apabila air berubah warna, rasa, dan baunya karena najis, baik air itu jumlahnya sedikit atau banyak maka air itu menjadi najis. Air dikatakan jumlahnya banyak jika air itu sampai dua kullah (200 liter air atau ukuran bak mandi sekitar 60x60x60 ). Jika air sudah mencapai dua kullah maka jika air tersebut terkena najis tapi tidak merubah rasa, warna, dan bau, maka air itu suci dan dapat digunakan bersuci.

Air mengalir dan air tenang: jika air itu berhubungan dengan sumber mata air, baik alirannya itu perlahan maupun deras maka air itu dikategorikan air dalam jumlah banyak dan dapat digunakan bersuci. Namun jika air itu tidak berhubungan dengan sumber mata air, jika mencapai dua kullah maka air itu suci walaupun terkena najis dengan catatan warna, rasa dan baunya tidak berubah. Jika kurang dari dua kullah air tersebut najis jika terkena najis.

          Adapun macam-macam najis adalah sebagai berkut:

Anjing dan babi : cara mensucikan adalah dengan dibasuh sebanyak 7 kali dan satu kali diantarnya dengan tanah.

Bangkai : semua bangkai binatang darat adalah najis (kec binatang laut) selain manusia, namun menurut Imam hanafi bangkai manusia itu najis.

Darah : semua darah adalah najis kecuali darah orang yang mati syahid, selama darah itu berada diatas jasadnya. Begitu pula darah yang tertinggal dari persembelihan, darah ikan, darah kutu, dll.

Mani : menurut Imamiyah, Maliki, dan Hanafi berpendapat bahwa mani anak adam dan lainnya adalah najis. Namun menurut syafi’i mani bersifat suci kecuali mani anjing dan babi.

Nanah dan Kencing : sebagian besar Imam Madzab berpebdapat bahwa nanah dan                            kencing adalah najis.

Sisa binatang : menurut syafi’i sisa-sisa binatang yang dagingnya dimakan hukumnya suci sedangkan sisa-sisa binatang yang darahnya mengalir dan tidak dimakan hukumnya najis. Semua madzab sepakat sisa binatang yang najis itu najis

Benda cair yang memabukkan :benda cair yang memabukkan hukumnya najis walaupun benda yang asal mulanya cair dirubah bentuknya dengan cara dibekukan atau atau yang lainnya.

Muntah : najis menurut 4 imam Madzab. Namun beberapa ulama hadis sperti Ibn Hazm, As-Syaukani, dan Shidiq Hasan Khan berpendapat muntah tidaklah najis.

Wadzi dan Madzi : najis menurut Syafi’i, Maliki, dan Hanafi namun menurut Hambali hanya wadzi yang najis.

 

(Sumber utama: Buku Fiqih Lima Madzab oleh Muhammad Jawad Mughniyah)

 ~Ar-Rayyan Edisi April 2015~

Advertisements