puasa rajab bid'ahAssalamualaiukum wr. Wb.

Saya mau tanya. Apakah keutamaan dari bulan rajab? Dan apakah puasa dibulan rajab termasuk puasa sunnah? Karena ada yang mengatakan puasa dibulan Rajab mendapatkan pahala sekian sekian…. dan teman saya membaca ternyata hal tersebut berasal dari Hadist maudhu’. Mohon penjelasannya. Trimakasih.

(Rezita Nur Pradana Putri, SMA Negeri Umbulsari)

Alhamdulillah, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasulillah, Amma ba’du. Mengenai hukum puasa di bulan Rajab ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama’, ada yang berpendapat hukumnya sunah, ada juga yang berpendapat makruh, namun banyak juga kalangan yang menganggap itu bid’ah. Kesemuanya memiliki hujjah (dasar pijakan hukum) masing-masing, bagaimana kita harus bersikap? Dalam menjalankan setiap amalan ibadah kita harus menanamkan keyakinan bahwa apa yang kita lakukan adalah benar, sesuai dengan tuntunan syari’ah. Karena dalam urusan ibadah tidak boleh didasarkan pada akal semata, tapi pada dalil-dalil syara’ berupa Alqur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Sebagai seorang muqallid (orang yang ikut pendapat mujtahid) keyakinan itu dapat kita tanamkan jika telah mengikuti ijtihad para mujtahid, karena memang kita belum memiliki kemampuan untuk menggali hukum sendiri.

Dalam kesempatan ini sengaja hanya kami sampaikan beberapa hadis dan pendapat para mujtahid yang menghukumi sunah puasa rajab. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dijelaskan bahwa :

“Sesungguhnya Ustman Ibn Hakim Al-Anshori, berkata: “Aku bertanya kepada Sa’id Ibn Jubair tentang puasa di bulan Rajab dan ketika itu kami memang di bulan Rajab”, maka Sa’id menjawab: “Aku mendengar Ibnu ‘Abbas berkata: “Nabi Muhammad berpuasa (di bulan Rajab) hingga kami katakan beliau tidak pernah berbuka di bulan Rajab, dan beliau juga pernah berbuka di bulan Rajab, hingga kami katakan beliau tidak berpuasa di bulan Rajab.” (HR. Muslim)

Dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah Rasulullah ﷺ bersabda, “Jika engkau menghendaki berpuasalah engkau di bulan-bulan haram (Rajab, Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah dan Muharram) dan jika engkau menghendaki maka tinggalkanlah, beliau mengatakan hal itu tiga kali sambil menggemgam 3 jarinya kemudian membukanya.

Sedangkan pendapat para mujtahid mengenai puasa rajab diantaranya adalah :

Dalam kitab Syarh al-Kharsyi ‘ala Mukhtashar Khalil (2/241), ketika menjelaskan puasa yang disunnahkan, al-Kharsyi berkata:

 “Muharram, Rajab dan Sya’ban. Yakni, disunnahkan berpuasa pada bulan Muharram – bulan haram pertama -, dan Rajab – bulan haram yang menyendiri.” Dalam catatan pinggirnya: “Maksud perkataan pengarang, bulan Rajab, bahkan disunnahkan berpuasa pada semua bulan-bulan haram yang empat, yang paling utama bulan Muharram, lalu Rajab, lalu Dzul Qa’dah, lalu Dzul Hijjah.”

Imam al-Nawawi berkata dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab (6/439), “Teman-teman kami (para ulama madzhab Syafi’i) berkata: “Di antara puasa yang disunnahkan adalah puasa bulan-bulan haram, yaitu Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, dan yang paling utama adalah Muharram. Al-Ruyani berkata dalam al-Bahr: “Yang paling utama adalah bulan Rajab”. Pendapat al-Ruyani ini keliru, karena hadits Abu Hurairah yang akan kami sebutkan berikut ini insya Allah (“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa bulan Muharram.”)”.

Ibnu Qudamah al-Maqdisi berkata dalam kitab al-Mughni (3/53):“Pasal. Dimakruhkan mengkhususkan bulan Rajab dengan ibadah puasa. Ahmad bin Hanbal berkata: “Apabila seseorang berpuasa Rajab, maka berbukalah dalam satu hari atau beberapa hari, sekiranya tidak berpuasa penuh satu bulan.” Ahmad bin Hanbal juga berkata: “Orang yang berpuasa satu tahun penuh, maka berpuasalah pula di bulan Rajab. Kalau tidak berpuasa penuh, maka janganlah berpuasa Rajab terus menerus, ia berbuka di dalamnya dan jangan menyerupakannya dengan bulan Ramadhan.”

Tentunya kita tidak meragukan lagi kemampuam imam mazhab dan juga imam yang lain dalam menggalli hukum (istimbath hukum) dari Al-qur’an dan Assunah, dan sebagai muqallid kita diperbolehkan taklid (ikut) dalam masalah syari’ah (bukan masalah aqidah) namun alangkah baiknya kita tidak hanya taklid saja tapi juga mengetahui dalilnya. Sedangkan masalah pahala, maka kita serahkan kepada Allah, zat yang memberi pahala kepada hambanya yang taat. Yang terpenting bagi kita, jika seruan Allah dan Rasulnya telah sampai kepada kita maka bersegeralah untuk memenuhinya, pasti Allah akan memberikan balasannya jika kita lakukan dengan ikhlas semata-mata karena Allah. Wallahu a’lam bish-showab.

~Ar-Rayyan Edisi Juni 2015~

Advertisements