education2-386x290Sobat, kali ini A’er akan bahas tentang Pendidikan. Kenapa pendidikan? Ya karena sebagai remaja kita harus tunjukkan kalau kita punya atensi (perhatian, red) pada masalah ini. Kebetulan juga pendidikan di negeri kita tercinta ini belum bisa dikatakan berkualitas jika dibandingkan banyak negara di dunia. Mulai dari kurikulumnya yang ganti melulu (KCBSA, K94, KBK, KTSP, sampai K13), dan mungkin juga akan berganti lagi. Siswa seakan jadi kelinci percobaan untuk membentuk sebuah sistem pendidikan yang bermutu. Meskipun seringkali akhirnya malah siswa dan guru dibuat semakin bingung. Ada juga yang membudaya nech sob, yakni budaya mencontek. Sobat bisa lihat berita-berita dimedia  April kemarin tentang kebocoran soal UN SMA di internet, bahkan kuncinya juga didapat banyak peserta ujian H-1 UN. Hal yang serupa terjadi di tahun-tahun sebelumnya selalu terulang kembali. Ditambah banyak sarana dan prasarana yang kurang bahkan jauh dari layak dibanyak wilayah (terutama yang jauh dari kota).

Selain itu pendidikan kita adalah barang sangat mahal yang hanya bisa diraih oleh orang yang beruang (baca ber-uang) saja. Sedangkan bagi mereka yang kurang mampu, mereka harus punya cukup uang untuk mendapatkannya. Untuk masuk ke sekolah negeri saja, SMP/SMA bisa diatas 4 juta (biaya awal kalau sudah diterima). Wajar aja sob kalau kemudian beberapa anak mengalami putus sekolah. Meskipun bagi sobat yang mampu angka ini mungkin sangat wajar, tapi pernahkah kita berpikir bagaimana dengan anak-anak yang kurang mampu??? Untuk bisa makan 3 kali sehari aja kadang susah sob.

Jika kita mampu untuk mengkritisi, maka seyogyanya kita pun harus mampu memberi apresiasi. Banyak masalah memang dalam penyelenggaraan pendidikan di negeri tercinta kita, termasuk biaya pendidikan yang semakin tinggi. Namun setidaknya pemerintah sudah mengeluarkan banyak beasiswa agar orang-orang miskin bisa menyekolahkan anak mereka. Meskipun fakta menunjukkan belum bisa mensolusi permasalahan pendidikan yang ada, tapi kan pemerintah dah berusaha memberikan yang bisa pemerintah berikan. Kritisi dan apresiasi kayaknya belum cukup deh sob, adakah yang kurang? Yup. A’er akan coba memberikan gambaran bagaimana sih seharusnya sistem pendidikan, tentunya bukan karangan A’er sob. Berikut ulasan tentang pendidikan dalam kacamata Islam.

Islam memberikan peraturan dalam segala kehidupan manusia termasuk didalamnya adalah pendidikan. Pendidikan adalah sebuah kebutuhan pokok yang harus dipenuhi dan hal ini tidak terlepas dari peran negara. Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah). Allah mewajibkan setiap hambanya menuntut ilmu maka Allahpun membuat aturan bagaimana semua hamba-Nya bisa menunaikannya. Pendidikan merupakan hak seiap warga negara yang harus disediakan oleh negara. Jadi negara harus menggratiskan pendidikan bagi rakyatnya karena itu adalah hak setiap warga negara, sehingga mereka bebas belajar karena negara telah memfasilitasinya. Bukan hanya itu, negara harus menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap bagi rakyatnya yang ingin menuntut ilmu. Mulai dari perpustakaan yang sangat lengkap, buku buku yang memadai, asrama, ditambah dengan kualitas pengajar yang bagus.

Mengapa demikian? Sebab negara berkewajiban menjamin tiga kebutuhan pokok masyarakat, yaitu pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Berbeda dengan kebutuhan pokok individu, yaitu sandang, pangan, dan papan, di mana negara memberi jaminan tak langsung, dalam hal pendidikan, kesehatan, dan keamanan, jaminan negara bersifat langsung. Maksudnya, tiga kebutuhan ini diperoleh secara cuma-cuma sebagai hak rakyat atas negara (Abdurahman Al-Maliki, 1963). Nabi ﷺ bersabda, “Imam adalah bagaikan penggembala dan dialah yang bertanggung jawab atas gembalaannya itu.” (HR Muslim).

Dahulu khalifah Umar ra dan Utsman ra memberikan gaji kepada para guru, muadzin, dan imam sholat jamaah. Umar memberikan gaji tersebut dari pendapatan negara (Baitul Mal) yang berasal dari jizyah, kharaj  (pajak tanah), dan usyur (pungutan atas harta non muslim yang melintasi tapal batas negara) (Rahman, 1995; Azmi, 2002; Muhammad, 2002).

Sejarah Islam pun telah mencatat kebijakan para khalifah yang menyediakan pendidikan gratis bagi rakyatnya. Sejak abad IV H para khalifah membangun berbagai perguruan tinggi dan berusaha melengkapinya dengan berbagai sarana dan prasarananya seperti perpustakaan. Setiap perguruan tinggi itu dilengkapi dengan “iwan” (auditorium), asrama mahasiswa, juga perumahan dosen dan ulama. Selain itu, perguruan tinggi tersebut juga dilengkapi taman rekreasi, kamar mandi, dapur, dan ruang makan (Khalid, 1994).

Di antara perguruan tinggi terpenting adalah Madrasah Nizhamiyah dan Madrasah Al-Mustanshiriyah di Baghdad, Madrasah Al-Nuriyah di Damaskus, serta Madrasah An-Nashiriyah di Kairo. Madrasah Mustanshiriyah didirikan oleh Khalifah Al-Mustanshir abad VI H dengan fasilitas yang lengkap. Selain memiliki auditorium dan perpustakaan, lembaga ini juga dilengkapi pemandian dan rumah sakit yang dokternya siap di tempat (Khalid, 1994).

Dahulu Sultan Muhammad Al-Fatih (abad 15 M) juga menyediakan pendidikan secara gratis. Di Konstantinopel (Istanbul) Sultan membangun delapan sekolah. Di sekolah-sekolah ini dibangun asrama siswa, lengkap dengan ruang tidur dan ruang makan. Sultan memberikan beasiswa bulanan untuk para siswa. Dibangun pula sebuah perpustakaan khusus yang dikelola oleh pustakawan yang cakap dan berilmu (Shalabi, 2004).

Lalu darimana sumber uang untuk pembiayaan pendidikan yang pasti jumlahnya sangat besar? Negara bisa mengambil dari pos kepemilikan umum, seperti tambang minyak dan gas, hutan, laut, dan hima (milik umum yang penggunaannya telah dikhususkan), dan lain-lain.

Jika sumber pendapatan itu ternyata tidak mencukupi, maka negara wajib mencukupinya dengan segera dengan cara berhutang (qardh). Hutang ini kemudian dilunasi oleh negara dengan dana daridharibah (pajak) yang dipungut dari kaum muslimin (Al-Maliki,1963).

Lalu apakah mungkin negeri kita bisa melakukannya? Menururt sobat gimana? Yups sepakat, negeri kita PASTI juga bisa menggratiskan biaya sekolah yang ada. Bahkan beberapa kabupaten di negeri kita sudah menggratiskan biaya sekolah (bukan hanya SPP yg gratis sob). Pemerintah Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat mengrratiskan biaya sekolah dengan program wajib belajar 12 tahun (SD, SMP, dan SMA bahkan TK) bagi sekolah negeri maupun swasta. Pemkab juga menyediakan dua setel seragam, termasuk batik, dan buku-buku pelajaran secara gratis. ”Dengan demikian, tidak ada alasan orangtua melarang anaknya sekolah. Dan pemerintah sudah melaksanakan kewajibannya dalam mencerdaskan bangsa,’’ kata Hildi Hamid, Bupati Kayong Utara (http://edukasi.kompas.com/). Padahal ni sob, konon katanya Kayong Utara adalah kabupaten termiskin di Kalimantan Barata. Masih ada beberapa yang lain yang melakukan hal serupa. Kalau kalian gimana? Bayar gak buat sekolah sob (uang gedung, seragam, pangkal, buku, dll)??? Ya sabar ya sobat. Semoga pemimpin negeri ini kelak akan dipimpin oleh orang-orang yang amanah dan BEBAS dari korupsi cs. Amin. Melihat potensi Indonesia, sangat mungkin untuk mnyelenggarakan pendidikan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lalu bagaimana dengan content  pendidikan versi Islam? Perlu diketahui bahwa asas pendidikan dalam Islam adalah aqidah Islam. Sedangkan tujuan pendidikan dalam Islam adalah untuk membentuk generasi yang ber-syakhsiyah Islam  (berkepribadian Islam) dan membekali mereka dengan skill atau kemampuan tertentu sebagai bekal menjalani kehidupan didunia. Sehingga, dari usia dini seorang anak sudah diperkenalkan dengan Islam dan diajarkan tentang keimanan dan yang terkait dengannya. Dengan demikian tentu akan melahirkan generasi-generasi yang berkualitas, bukan hanya sains/sosialnya, tapi juga berkualitas dalam pemahaman agamanya. Sehingga mapel agama bukan hanya diberikan 1 minggu sekali, tetapi harus seimbang. Mengapa sob? Percuma ada banyak pegawai pintar tapi pintar tipu-menipu, percuma ada pejabat cerdas tapi cerdas pula dalam mengelabuhi rakyatnya, percuma ada banyak dokter kalau yang dipikirkan hanyalah cara mengembalikan modal kuliahnya. Etc.

Kita bisa tengok beberapa generasi Islam masa silam, Abu Al Walid Muhammad Ibnu Rusyd, menguasai ilmu fiqh, ilmu kalam, sastra arab, matematika, kedokteran, fisika astronomi. Abu Hamid Al Ghazali, beliau menulis buku dan mencapai 288 buku, mengenai tasawuf, teologi, filsafat, logika dan fiqh. Yakub bin Ishak Al Kindi, hasil karyanya di bidang filsafat, logika, astronomi, kedokteran, politik, matematika dsb. Abu Ali Al Husein Ibn Abdullah Ibn Sina, beliau belajar bahasa arab, fisika, geometri, logika, ilmu hukum Islam, teologi Islam, dan ilmu kedokteran. Itu hanya sedikit saja contoh generasi yang dididik berdasarkan pijakan aqidah Islam.

Wah, keren ya sobat… Itulah pemuda pemuda Islam yang lahir dalam lingkup sistem pendidikan Islam. Pemuda adalah generasi bangsa dan penerus perjuangan. Dan hal ini tidak lepas dari akidah mereka. Catatan penting yang perlu sobat ketahui adalah, aqidah Islam adalah dasar dari sebuah pemikiran dan tindakan. Oleh karena itu, inilah yang menjadi asas dan tolak ukur pendidikan dalam Islam. Jika pemuda Islam memiliki aqidah yang kuat maka, segala perilaku dan pemikirannya pun akan berjalan sesuai koridor syara’ dan tentu akan menjadi generasi muslim yang tangguh. Tetapi jika aqidah mereka lemah maka, tentu amal dan pemikiran mereka akan gampang condong dan tergerus oleh pemikiran barat. Pendidikan masa depan ada ditanganmu wahai pemuda Islam. So, let’s learn Islam  and make our aqidah stronger to develop the new qualified education system. See you.. Wallahua’lambisshowab. [Ash]

Advertisements