siputAssalamu’alikum wr wb. A’er mau nanya nih, dulu aku pernah denger bahwa bekicot/siput, karena binatang darat maka biar bisa dimakan haruslah disembelih dulu. Sebenarnya siput itu halal apa haram ya? terus kl misalkan haram, bagaimana kalau untuk obat? terkadang orang-orang ga’ papa makan yang haram kalau untuk obat, seperti kadal, katak, tokek, dll katanya gitu. Apakah itu benar? lalu apakah ada batasan-batasannya?

Dari akun FB Zahra Muttaqin

Alhamdulillah Ash-sholatu wassalamu ‘ala Rasulillah amma ba’du, dalam pembahasan masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan mujtahid, sebelum sampai pada sebuah kesimpulan hukum perlu kiranya kita mengetahui faktanya terlebih dahulu. Siput atau keong adalah nama umum yang diberikan untuk anggota kelas moluska Gastropoda, Siput dapat ditemukan pada berbagai lingkungan yang berbeda: dari parit hingga gurun, bahkan hingga laut yang sangat dalam. Sebagian besar spesies siput adalah hewan laut. Banyak juga yang hidup di darat, air tawar, bahkan air payau. Kebanyakan siput merupakan herbivora, walaupun beberapa spesies yang hidup di darat dan laut dapat merupakan omnivora atau karnivora predator. Beberapa contoh Gastropoda adalah bekicot (Achatina fulica), siput kebun (Helix sp.), siput laut (Littorina sp.) dan siput air tawar (Limnaea sp.)

Dari fakta tersebut dapat kita ketahui bahwa siput hidup di dua habitat, yaitu darat dan air (baik air laut maupun air tawar). Untuk siput yang hidup di air/bekicot air/keong maka hukumnya halal sebagaimana keumuman hewan yang hidup di air. Allah Ta’ala berfirman,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ

Dihalalkan bagimu binatang buruan air dan makanan (yang berasal) dari air.” (QS. Al Maidah: 96).

Syuraih –sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkata,

كُلُّ شَىْءٍ فِى الْبَحْرِ مَذْبُوحٌ

“Segala sesuatu yang hidup di air telah disembelih (artinya: halal).” (Disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab shahihnya)

Sedangkan untuk siput darat/bekicot darat sebagian ulama mengkategorikan sebagai hasyarot (hewan kecil yang hidup di darat). Jumhur (mayoritas ulama) mengharamkan hasyarot. Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ (9: 16) berkata, “Dalam madzhab ulama dan madzhab kami (Syafi’iyah), hukum hasyarot (seperti ular, kalajengking, kumbang, kecoak, dan tikus) itu haram. Demikian pula pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dan Daud (Azh Zhohiri). Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa hasyarot itu halal.”

Komisi Fatwa MUI juga sudah memutuskan bahwa mengkonsumsi bekicot sebagai makanan hukumnya haram. selain memakan, mengelola dan membudidayakan untuk konsumsi juga tidak boleh.

Walaupun dengan alasan pengobatan, mengkonsumsi bekicot adalah haram dengan catatan tidak adanya alternative obat lain selain bekicot. Jadi, tidak dibenarkan mengkonsumsi sesuatu yang haram walaupun dengan alasan pengobatan, kecuali dalam keadaan terpaksa. Sesuatu yang haram ini dibolehkan dalam keadaan darurat, yang tidak ada lagi obat yang dapat menyembuhkan penyakit selain zat haram tersebut. Tetapi juga harus berdasarkan anjuran/nasihat dokter yang dapat dipercaya.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُم مَّا حَرَّ‌مَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِ‌رْ‌تُمْ إِلَيْهِ

Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya”  (QS. Al An’am: 119)

فَمَنِ اضْطُرَّ‌ غَيْرَ‌ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ  إِنَّ اللَّـهَ غَفُورٌ‌ رَّ‌حِيمٌ

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 173)

Keharaman siput darat/bekicot ini hanya untuk dimakan, jika dipakai untuk obat luar maka diperbolehkan.

Selanjutnya berkaitan dengan penyembelihan, tidak semua binatang darat cara mematikannya dengan disembelih, hewan yang memiliki darah yang mengalir saja yang bisa disembelih, sedangkan hewan yang tidak memiliki darah mengalir cara mematikannya boleh dengan ditusuk di bagian manapun, contohnya seperti belalang, siput. Wallahu a’lam bsh-showab.

Ar-Rayyan Edisi Mei 2015

Advertisements