transaksi-jual-beli-onlineSobat A’er kini Ar-Rayyan hadir kembali dengan tema jual beli online yang pastinya sobat pernah atau jangan-jangan sering melakukannya. So,, sobat A’er harus menyadari bahwa manusia diciptakan dalam bingkisan sosial, dimana manusia dituntut untuk berinterakasi dan menyadari akan keterlibatan orang lain dalam suatu kehidupan ini, yaitu saling berinteraksi untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama-sama, dan mencapai tujuan hidup yang lebih maju.

Sekarang dengan seiringnya waktu yang terus berjalan dan teknologi yang semakin canggih maka di kenallah jual beli dengan cara online dan  apapun modelnya bentuk jual beli, menurut Islam boleh dan halal selama memenuhi aturan-aturan yang telah di tetapkan dalam syari’at Islam. Hal yang harus diperhatikan adalah:

  1. Rukun Jual Beli
  • Ada penjual
  • Ada pembeli
  • Ada uang dan barang yang dijual
  • Ijab qabul
  1. Syarat penjual dan pembeli
  • berakal
  • kehendak sendiri
  • baligh

As-Salam merupakan istilah dalam bahasa arab yang mengandung makna “penyerahan”. Sedangkan para fuqaha’ menyebutnya dengan al-Mahawi’ij (barang-barang mendesak) karena ia sejenis jual beli barang yang tidak ada di tempat, sementara dua pokok yang melakukan transaksi jual beli mendesak. Secara terminology ulama’ fiqih mendefinisikannya: “menjual suatu barang yang penyerahannya ditunda, atau menjual suatu barang yang ciri-cirinya jelas dengan pembayaran modal di awal, sedangkan barangnya diserahkan kemudian”.

Sedangkan Ulama’ Syafi’iyah dan Hanabilah mendefinisikannya sebagai berikut: “akad yang disepakati dengan menentukan ciri-ciri tertentu dengan membayar harganya terlebih dulu, sedangkan barangnya diserahkan kemudian dalam suatu majelis akad”.

Dengan adanya pendapat diatas sudah cukup untuk memberikan perwakilan penjelasan dari akad tersebut, dimana inti dari pendapat tersebut adalah; bahwa akad salam merupakan akad pesanan dengan membayar terlebih dahulu dan barangnya diserahkan kemudian, tapi ciri-ciri barang tersebut haruslah jelas penyifatannya. Hukum diperbolehkannya as-salam adalah hadis berikut, “dari Abdullah bin Abbas, ia berkata, Nabi datang ke Madinah, dimana masyarakat melakukan transaksi salam (memesan) kurma selama dua tahun dan tiga tahun, kemudian Nabi bersabda, barang siapa melakukan akad salam terhadap sesuatu, hendaklah dilakukan dengan takaran yang jelas, timbangan yang jelas, dan sampai batas waktu yang jelas.

Sebagaimana ungkapan Abdullah bin Mas’ud : Bahwa apa yang telah dipandang baik oleh muslim maka baiklah dihadapan Allah, akan tetapi sebaliknya.
Dan yang paling penting adalah kejujuran, keadilan, dan kejelasan dengan memberikan data secara lengkap, dan tidak ada niatan untuk menipu atau merugikan orang lain, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah 275, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba dan ayat 282 “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya”

Dalam salam berlaku syarat jual beli dan tambahan :

  • Ketika melakukan akad salam, disebutkan sifat-sifatnya yang mungkin dijangkau oleh pembeli, baik berupa barang yang dapat ditakar, ditimbang ataupun diukur.
  • Dalam akad harus disebutkan segala sesuatu yang bisa mempertinggi dan memperendah harga barang itu. Contoh, kalau kain, sebutkan jenis kainnya, kualitas nomor 1, 2 atau tiga dan seterusnya. Pada intinya sebutkan semua identitasnya yang dikenal oleh orang-orang yang ahli di bidang ini yang menyangkut kualitas barang tersebut.
  • Barang yang akan diserahkan hendaknya barang-barang yang biasa didapatkan di pasar.
  • Harga hendaknya ditentukan di tempat akad berlangsung. (Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid, 1985, hal. 178-179)

Pandangan Madzhab Asy-Syafi’i terhadap praktik jual beli berbasis informasi dan transaksi elektronik diperbolehkan hukumnya secara Ijma. Dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 29 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

Jual beli dalam pandangan Madzhab Asy-Syafi’i terjadi karena ada rasa kerelaan antar penjual dan pembeli. So, guys silahkan berjual beli secara on line (salam) karena Islam juga membolehkannya. Tapi ingat jauhi tipu-menipu dan berjual belilah dengan jujur dan bertanggung jawab, insyaAllah hasilnya juga akan berkah. Wallahua’lambisshowab. (Zlf)

Ar-Rayyan Edisi Mei 2015

Advertisements