Ibn-Firnas-flying-contrap-001Edisi bulan lalu A’er sudah sempat bahas tenang masa kejayaan Islam di nostalgia the superpower dimana banyak sekali lahir ilmuwan-ilmuwan muslim yang smart abis. Masih ingatkan sob? Berikut sedikit dari mereka, sekedar inget aja:

  • Al-Ghazali, Al-Kindi dalam ranah falsafat.
  • Al-Jabbar sebagai pelopor ilmu hitung (al-hisab).
  • Ibnu Sina dalam ilmu kedokteran.
  • Ibnu al-Haytam adalah orang pertama yang mengembangkan kemampuan optik untuk difungsikan menjadi kamera.
  • Ibnu Taymiyah sebagai seorang yang keras dalam purifikasi akidah Islam dari pengaruh bid’ah ia juga berhasil mengeluarkan teori yang dikenal dengan ‘price volatility’ atau naik turunnya harga di pasar.
  • Ibnu Al Haytsam(1039) Pelopor di bidang optik dengan kamus optiknya (Kitab Al Manazhir) jauh sebelum Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Keppler, dan Newton, penemu hukum pemantulan dan pembiasan cahaya (jauh sebelum Snellius), penemu alat ukur ketinggian bintang kutub, menerangkan pertambahan ukuran bintang-bintang dekat zenit.
  • Fakhruddin Razi(1290) Ahli matematika, ahli fisika, tabib/dokter, filosof, penulis ensiklopedia ilmu pengetahuan modern.
  • Al Battani(929) Ahli astronom terbesar Islam, mengetahui jarak Bumi – Matahari, alat ukur gata gravitasi, alat ukur garis lintang dan busur bumi pada globe dengan ketelitian sampai 3 desimal, menerangkan bahwa Bumi berputar pada porosnya, dan mengukur keliling Bumi (jauh sebelum Galileo), ia juga membuat table astronomi dan orbit planet-planet. Sekitar 850 – 923  salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Wuh-wuh detail begete. Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri.

Pengklaiman Penemuan Oleh Barat

Sejarah adalah peristiwa yang sudah terjadi, namun baru ditulis kemudian hari, jauh setelah kejadian sebenarnya berlalu. Sebagai cerita masa lalu sejarah mudah untuk dimanipulasi, dan disampaikan kepada generasi berikutnya yang hanya bisa menerima mentah-mentah informasi itu sebagai kebenaran. Bukan rahasia lagi kalau sejarah tergantung siapa yang sedang berkuasa. Kita mungkin tahu dulu saat era orde baru banyak sejarah nusantara yang dibelokkan.

Informasi mengenai penemuan-penemuan sains dan teknologi yang pernah kita terima kebanyakan berasal dari buku-buku pengetahuan Barat. Penemu-penemu yang disebut sebagai yang pertama di dunia itu pun dipuji sebagai orang yang berjasa kepada ilmu pengetahuan dan umat manusia.

Sejarah kini menyatakan studi Isaac Newton di abad ke-17 tentang lensa, cahaya, dan prisma menjadi dasar dari sains optik modern. Padahal fakta sejarah sebenarnya pada abad ke-11 (6 abad sebelum ditemukan Newton sob), al-Haytham mengemukakan hal yang diungkapkan Newton dan dijuluki oleh para ilmuwan sebagai “Bapak penemu optik”. Karya-karyanya digunakan dan dikuotasi oleh banyak pelajar Eropa pada bad ke-16 dan 17, melebihi kombinasi Newton dan Galileo.

Sejarah kini menyatakan pada abad ke-17, William Harvey menemukan hal bahwa darah bersirkulasi. Dia pertama kali mendeskripsikan fungsi jantung,  arteri, dan vena secara benar. Fakta sejarah sebenarnya ar-Razi (hidup pada abad ke-10, artinya 7 abad sebelum ilmuwan barat) menuliskan hasil penelitian tentang sistem vena, termasuk deskripsi fungsi vena dan katupnya. Lebih dari itu, Ibn an-Nafs dan Ibn al-Quff (abad ke-13) menyediakan dokumentasi lengkap tentang sirkulasi darah dan mendeskripsikan fisiologi jantung dan fungsinya ratusan tahun sebelum Harvey. William Harvey merupakan lulusan Universitas Padua di Italia yang pada masa itu kurikulumnya mengacu kepada textbooks yang ditulis oleh Ibn Sina dan ar-Razi.

Fakta sejarah diatas hanyalah contoh kecil saja sob, belum ngomongin Al-Kindi (abad 9) yang menemukan dasar-dasar teori relativitas. Tapi buku sejarah mencatat bahwa penemu teori tersebut adalah ilmuwan modern albert Einstein (abad 20). Jadi 11 abad sebelumnya ilmuwan muslim (Al-Kindi) sudah mengemukakan dasar-dasar teorinya. Lainnya sobat A’er bsa surf di ‘mbah google’.

The Dark Age or the Golden Age?

Ketika umat Islam tahu sejarah kejayaannya kemudian bangkit, hal ini akan menjadi kekhawatiran bagi negara-negara barat yang sering kali mendiskreditkan kaum muslimin. Sehingga mereka menyebut masa kejayaan Islam sebagai the dark age. Faktanya kaum muslimin mengalami masa keemasan (the Golden Age) dan berhasil membawa eksistensi umat diakui oleh seluruh dunia. Islam dengan Quran dan Sunah  sebagai pokok ajarannya, telah mampu membimbing manusia dari zaman kegelapan menuju gemerlapnya ilmu pengetahuan. Bahkan dalam kitab Sîrah an-Nabawiyah karangan Dr. ‘Ali Muhammad As-Shalâbiy, zaman jahiliyah (kebodohan) telah usai dengan datangnya risalah Islam 1400 tahun yang lalu. Bahkan dengan diwahyukan al-Quran kepada Rasulullah ﷺ pada abad ke -7 M yang lampau, ajaran Islam masih tetap eksis dan applicable hingga saat ini.

Keseimbangan jasmani penting, karena jika kita sakit akan menghalangi aktivitas kita untuk berkontribusi. Keseimbangan rohani pun menjadi kunci utama yang dimiliki seorang Muslim, karena segala sesuatu akan kembali kepada Allah. Tanpa iman, ilmu yang kita gunakan dapat saja menjadi bersifat destruktif. So, sudah siapkah sobat menjadi “The Next Muslim Scientist”?. Wallahua’lambisshowab. [Ly]

Ar-Rayyan Edisi Mei 2015

Advertisements