berjuang okGa’ kerasa ya sudah menginjak bulan Ramadhan sob. Lagi puasa kan sob? By the way, sobat A’er tau ga’ hal-hal yang perlu diketahui saat berpuasa? Umm ada yang belum tau ya…

Puasa (Shaum) menurut bahasa yaitu menahan diri. Sedangkan pengertian menurut syariat islam adalah suatu bentuk aktifitas ibadah kepada Allah swt dengan menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan berniat terlebih dahulu sebelumnya.Tidak sedikit masyarakat yang menyalahgunakan makna puasa. Bagi mereka puasa itu ya menahan lapar, haus dan berhubungan suami istri. Hasil yang di dapat dari itu hanya sekedar lapar, haus saja tidak ada nilai lainnya. Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan warning terhadap umat muslim melalui hadisnya yang berbunyi: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia ti dak mendapatkan dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabraniy).

Puasa bukan hanya sebatas menahan lapar dan dahaga (haus, red), akan tetapi juga menahan hawa nafsu. Maksudnya menahan hawa nafsu disini ialah, bisa menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan, tidak berpikiran yang buruk atau haram, berlaku yang jujur, tidak ngegosip, tidak menyakiti orang lain, dan masih banyak lagi. Dan ingat juga sobat puasa adalah perintah Allah dalam firman-Nya “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah: 183). Selain itu puasa adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah di bulan Ramadhan. Dengan berpuasa juga mengajarkan kita untuk tau penderitaan saudara-saudara kita yang kelaparan. Sehingga ketika seseorang memahami essensi puasa maka ia akan mendapatkan pujian (pahala) di hadapan Allah. Akan tetapi jika ia melaksanakanya hanya sebatas mengugurkan kewajiban, maka ia hanya mendapatkan rasa lapar dan dahaga saja.

Trus ni sob, ada yang bilang tidurnya orang yang berpuasa itu adalah ibadah, bener ga’ sih? “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.” Perawi hadits ini adalah ‘Abdullah bin Aufi. Hadits ini dibawakan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437. Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perawi yang dho’if (lemah). Juga dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dho’if dari Ma’ruf bin Hasan. Dalam riwayat lain, perowinya adalah ‘Abdullah bin ‘Amr. Haditsnya dibawakan oleh Al ‘Iroqi dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dho’if (lemah). Jadi intinya hadist ini adalah DHOIF (lemah).  Tidur adalah perkara mubah seperti halnya makan dan minum, akan tetapi hal ini bisa mendapatkan pahala dan bernilai ibadah apabila diniatkan untuk melakukan ibadah. Sebagaimana An Nawawi dalam Syarh Muslim (6/16) mengatakan “Sesungguhnya perbuatan mubah, jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan (ganjaran).” Jadi tidur yang demikian bisa bernilai ibadah. Jika tidurnya hanya sekedar malas-malasan, maka tidur seperti ini adalah tidur yang sia-sia. Namun jika tidurnya adalah tidur dengan niat agar kuat dalam melakukan shalat malam dan kuat melakukan amalan ibadah lainnya, tidur seperti inilah yang bernilai ibadah.

Karena diawal tadi disampaikan bahwa puasa adalah sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah, maka seharusnya kita memanfaatkan momen ini untuk berfastabiqul khoirot di jalan Allah. Allah akan senantiasa melipatgandakan pahala bagi hamba-Nya yang beramal shalih di bulan puasa. Setiap amal anak adam akan dilipatgandakan; satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa sampai tujuh ratus kali. Allah berfirman “Kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya…” (HR. Muslim, An Nasa’I, Ad Darimi dan Al BAihaqi)”. Jadi jangan mengkambing hitamkan puasa dengan tidak menjalankan kewajiban lain. Karena kewajiban satu tidak akan mengugurkan kewajiban yang lain. Nach, jadi tau kan sobat, kalo udah tau, ga’ usah tidur and males-malesan lagi waktu puasa sobat, mending buat bertaqorrub (mendekat, red) kepada Allah, dapet pahala pula.

Puasa juga merupakan aktivitas perang melawan hawa nafsu lo sobat. Ketika puasa itu dajalankan dengan benar, ikhlas dan dengan niatan semata-mata karena Allah, insyaallah puasa biasa menjadi tameng melawan hawa hafsu. Akan tetapi jika hanya sebatas untuk mengugurkan kewajiban saja, maka yah hanya dapat haus dan laper doank sob. Orang-orang yang seperti itu berpuasa sebagaimana orang lain berpuasa, tetapi tidak mampu menahan gejolak hawa nafsu mereka. Mereka masih saja berkata bohong pada saat berpuasa, menyakiti hati dan belum bisa memberi maaf terhadap kesalahan orang, belum peduli terhadap penderitaan sesama, dst. Ini berarti, puasa mereka sia-sia dan mereka tidak dapat apa-apa. Oleh karena itu, puasa haruslah ikhlas karena dan mengharap ridho-Nya semata, sehingga puasanya bisa menjadi perisai melawan hawa nafsu. Selain itu, mereka akan mendapat derajat TAQWA dihadapan ALLAH. Yuks… perbaiki niat kita, agar puasa kita menjadi barokah dan diridhoi Allah swt. Jadikan momen Ramadhan ini untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita serta menggapai maghfirah Allah swt. Aamiin. Wallahua’lambisshowab. [ASH]

Ar-Rayyan Edisi Juni 2015

Advertisements