hausSaat buka mata di waktu subuh, dan tersadar saat itu adalah hari SENIN, serasa dibangunin guru ter-killer, ada yang gitu?! Coba “tag” temen kamu yang gitu… . Sangat penting, tertanam dalam diri kita bahwa menuntut ilmu itu wajib sobat. Sok atuh sob, datang ke sekolah, bukan untuk nyenengin ortu (orang tua, red), apalagi meratapi nasib, tapi karena emang udah perintah dari Allah swt. Menghadiri majlis taklim bukan untuk mencari popularitas, tapi karena memang suatu keawajiban menuntut ilmu akhirat (agama) adalah FARDHU ‘AIN, sama halnya dengan sholat 5 waktu, sama halnya dengan puasa ramadhan. Masih inget kan Idola kita, Rasulullah saw. pernah bersabda: ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”. (HR. Ibnu Majah).

Bahkan ayat Al Quran yang pertama turun berbunyi: “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. …”. Inilah firman Allah yang pertama kali turun dengan perintah pertamanya, yaitu “Bacalah…” merupakan indikasi diperintahkan umat islam untuk menuntut ilmu Sob.” Rasulullah juga menyatakan, ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi). Di lain hadits Rasulullah juga menegaskan bahwa menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia: “Tuntutlah ilmu mulai dari buaian sampai liang lahat.” (Al-hadist). Bahkan kita diharuskan untuk mendahulukan ilmu sebelum  beramal. Tidak bisa kita hanya sekedar beramal hanya karena orang lain berbuat amal tersebut (sekedar ngikut), lebih jauh ketahui dulu ilmu tentang perbuatan itu, apakah wajib, sunnah, mubah, makruh atau justru haram.

Niat dalam mencari ilmu kudu ditata. Nabi saw. bersabda, ”Semua amal itu tergantung pada niatnya …”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan berniat, “Bismillah, untuk menuntut ilmu karena Allah…” insyaAllah gak sekedar bermanfaat tapi barokah juga sobat A’er. Maksud dari barokah disini juga bisa membawa si pemilik ilmu, semakin dekat dengan Allah. Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oksigen dan hidrogen, dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu ia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya tidak lebih dari setitik air. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran: 190-191)

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah telah menjelaskan ilmu apa saja yang wajib dipelajari oleh setiap muslim. Artinya, tidak boleh ada seorang muslim pun yang tidak mempelajarinya. Wah ilmu apa aja ya?

  1. Ilmu tentang pokok-pokok keimanan, yaitu keimanan kepada AllahTa’alamalaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir.
  2. Ilmu tentang syariat-syariat Islam. Di antara yang wajib adalah ilmu tentang hal-hal yang khusus dilakukan sebagai seorang hamba seperti ilmu tentang wudhu, shalat,puasa, haji, zakat. Kita wajib untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ibadah-ibadah tersebut, misalnya tentang syarat, rukun dan pembatalnya.
  3. Ilmu tentang lima hal yang diharamkan yang disepakati oleh para Rasul dan syariat sebelumnya. Kelima hal ini disebutkan dalam QS. Al-A’raf: 33. Kelima hal ini adalah haram atas setiap orang pada setiap keadaan. Maka wajib bagi kita untuk mempelajari larangan-larangan AllahTa’ala, seperti haramnya zina, riba, minum khamr, dan sebagainya, sehingga kita jangan sampai melanggar larangan-larangan tersebut karena kebodohan kita.
  4. Ilmu yang berkaitan dengan interaksi yang terjadi antara seseorang dengan orang lain secara khusus (misalnya istri, anak, dan keluarga dekatnya) atau dengan orang lain secara umum. Ilmu yang wajib menurut jenis yang ke empat ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan keadaan dan kedudukan seseorang. Misalnya, seorang pedagang wajib mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan perdagangan atau transaksi jual-beli. Ilmu yang ke empat ini berbeda-beda sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. (LihatMiftaah Daaris Sa’aadah, 1/156)

Kepada orang yang berilmu telah Allah janjikan derajatyang mulia baik di dunia maupun diakhirat. Allah swt berfirman: “Allah Subhanahu Wata’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Subhanahu Wata’ala Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Namun, perlu diingat, setinggi-tingginya ilmu seseorang, jangan sampai membuatnya merasa cukup, apalagi sombong. Mengapa? Karena ilmu Allah itu tiada terhingga. “Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.” (QS. Al Kahfi: 109). “Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Luqman: 27).

Sebagaimana diperibahasakan oleh orang tua kita dahulu bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu dan beramal maka semakin tawadhu, rendah hati dan tidak sombong. Karena seluruh ilmu yang dimiliki manusia adalah ibarat setitik air laut dibandingkan dengan air laut secara keseluruhan. Ilmu yang bermanfaat adalah yang bisa membuat kita mendekat kepada Allah. Suatu ketika Umar bin Khattab menguji kekuatan muraqabatullah-nya. Dikatakan kepada anak itu bahwa kambingnya akan beliau beli dengan harga yang mahal. Namun anak itu menolak. “Kamu bisa mengatakan kepada tuanmu kambingnya dimakan binatang buas,” kata Umar r.a. “Lantas di mana Allah?” tanya anak tersebut. Subhanallah..! Keyakinan terhadap ilmu Allah swt. akan menjadi terapi yang ampuh untuk berusaha melaksanakan perintah dan larangan-Nya baik di tempat ramai maupun sunyi, gak peduli dengan “diketahui” atau “tidak diketahui” oleh orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu, gak perlu juga update status dulu  kalo kita lagi sholat tahajjud. Karena kita menyadari betapa Allah swt. Maha Mengetahui, selalu melihat, mendengar, memperhatikan apa yang kita lakukan di mana dan kapan saja. Wallahua’lambisshowab.

Ar-Rayyan Edisi Mei 2015

Advertisements