06-BERBAGI 10Bumi ini semakin panas, Bagai air mengalir deras, Kehidupan pun semakin bebas, Kebebasan pun tidak terbatas…

Begitulah bunyi sebuah lagu tentang kondisi dunia saat ini. Sobat mungkin udah denger ya, 2015 adalah era persaingan bebas. Nggak cuma perdagangan antarnegara nih, tapi juga persaingan antar manusianya. Manusiawi sekali kalo banyak yang bersaing en berlomba untuk menjadi lebih dari yang lain. Ada sebagian orang bersaing menjadi lebih cantik, lebih kaya, lebih terkenal, pokoknya lebih sukses dari yang lain. Yups, masa kini bejibun orang berlomba untuk jadi pemenang di dunia.

Sukses di dunia, itu boleh. Boleh banget malah. Tapi, siapa berani jamin sukses di dunia bakal sukses juga di akhiratnya? Belum tentu sobat! Bersaing dalam meraih sukses dunia juga boleh, tapi tak semua cara boleh ditempuh, ya? Nah, kalo bersaing buat akhirat, gimana ya?

Sobat A’er pasti udah tau donk, sahabat Rasulullah yang bernama Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. dan Umar bin Khaththab ra.? Pasti tau donk! Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah yang kaya raya, memiliki karakter mirip Rasulullah dan pertama kali membenarkan peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah. Jempol banget iman beliau sampai Rasulullah bersabda, Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh ummat niscaya akan lebih berat keimanan Abu Bakar.” (HR. Al Baihaqi). Wuih keren bener.

Umar bin Khattab adalah sahabat Rasulullah yang terkenal keras kepada orang kafir, tapi lemah lembut kepada sesama muslim. Bahkan, setanpun lari lho sobat kalo sahabat Umar lewat di depannya. Sahabat Abu Bakar dan Umar terkenal karena persaingannya sobat. Wah, sahabat Rasulullah bersaing juga ya? Iya, donk! Tapi, bukan sembarang persaingan. Mereka bersaing sehat untuk merebutkan akhirat.

Suatu hari, sahabat Abu Bakar dan Umar mendengar sabda Rasulullah yang berisi pujian terhadap bacaan Al-Qur’an Abdullah bin Mas’ud. Lalu, pada malam hari, Umar ra. segera berangkat untuk menemui Ibnu Mas’ud. Maka Ibnu Mas’ud berkata, “Apakah yang mendorongmu datang kemari?” Umar berkata, “Aku datang untuk memberikan kabar gembira kepadamu dengan ucapan Rasulullah saw.” Ibnu Mas’ud berkata, “Abu Bakar ra. telah mendahuluimu.” Umar berkata, “Jika ia melakukan, maka sesungguhnya ia adalah jagonya berlomba dalam kebaikan. Belum pernah kami berlomba dalam kebaikan kecuali Abu Bakar telah mendahului kami.

Peristiwa demikian pun terulang kembali saat Rasulullah ﷺ meminta dari para sahabatnya untuk bersedekah. Umar berkata, “Kebetulan aku mempunyai harta, maka aku berkata, ‘Pada hari ini aku mendahului Abu Bakar’ lalu aku datang dengan setengah hartaku.” Rasulullah bertanya, “Apakah yang engkau sisakan untuk keluargamu?’ Umar menjawab, “Seumpamanya (yakni setengah dari hartanya)” dan Abu Bakar datang dengan semua miliknya kemudian Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Bakar, apakah yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Saat itu Umar berkata, “Aku tidak bisa mendahuluinya (melebihinya) untuk selamanya.

Demikianlah persaingan yang mulia. Persaingan yang murni dilandasi aqidah yang bersih, rasa cinta sesama dan saling menghormati tanpa dendam atau iri hati. Hati-hati ya sobat, bersaing harus dengan cara yang baik dan jangan sampai ada rasa benci. Jangan halalkan semua cara biar jadi pemenangnya. Jangan saling dorong atau saling menjatuhkan! Lakukan cara yang halal saja plus jangan sampai iri hati. Punya saingan nggak apa, tapi jangan sampai kita menginginkan nikmat yang ada padanya pindah ke kita. Iri hati boleh kalo dalam masalah ibadah, beramal dan melakukan kebaikan. Tapi kalo iri hati karena masalah harta, kedudukan, dan masalah dunia saja, jelas nggak boleh ya??? Bersaing untuk dunia tak apalah, tapi bersaing untuk akhirat, jangan mau kalah! Sebagaimana firman Allah “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (QS. Al-Baqarah: 148) Tapi, ingat! Niat hati tetap harus satu ya, demi meraih ridho Allah swt. semata.

Kalo para sahabat aja bisa berlomba dalam beribadah, kenapa kita tidak? Mereka juga manusia seperti kita, berarti kita pun bisa seperti mereka. Waktu mereka 24 jam, sama dengan kita. Jangan cuma berlomba buat dunia yang nggak bisa nambah pahala. Rugi atuh! So, mau berlomba untuk meraih ridho Allah dan janji surga? Mau donk! Semoga Allah senantiasa memudahkan kita berlomba dalam kebaikan hingga kita menjadi pemenangnya. Aammiin…. Wallahua’lambisshowab. (WD)

Ar-Rayyan Edisi Mei 2015

Advertisements