sujud1Sahwi berasal dari kata sahw berarti lupa atau lalai terhadap sesuatu, sedangkan menurut istilah syar’i adalah dikerjakan pada akhir salat atau sesudah salat untuk menutup kekurungan karena meninggalkan perkara yang diperintakan. Berdasarkan hadis Rasulullah ﷺ. “Jika azan dikumandangkan, setan lari terkentut-kentut hingga tidak mendengar azan. Jika azan telah selesai, ia datang lagi. Jika iqamat dikumandangkan ia pergi lagi. Jika selesai iqamat ia datang lagi untuk melintasi antara seseorang dengan jiwanya seraya mengatakan, ‘Ingatlah ingatlah!’ Bahkan, terhadap hal-hal yang sebelumnya tidak diingatnya. Hingga seseorang lupa sudah berapa rakaat shalatnya. Jika seseorang di antara kalian tidak tahu berapa rakaat ia salat, hendaklah ia sujud dua kali dalam keadaan duduk.”(HR Bukhari,Muslim,Tirmudzi,Nasa’I,Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Sobat A’er tentunya paham bahwa didalam shalat ada rukun-rukun yang harus dilaksanakan karena jika salah satu rukun shalat tidak dilaksanakan maka shalat kita tidak sah. Dan terkadang kita sering lupa bahwa sedang menghadap Allah namun pikiran dan hati kita melanglangbuana (tidak khusyu’), inilah bentuk godaan setan yang senantiasa ingin menyesatkan kita.

Sujud sahwi secara syar’i dibagi menjadi tiga bagian, yaitu terjadi kekurangan rakaat, kelebihan rakaat, lupa atau tidak tasyahud awal dan adanya keraguan.

  1. Jika seseorang meninggalkan salah satu rukun dalam salat karena lupa, kemudian ia ingat sebelum memulai bacaan pada rakaat selanjutnya, maka ia harus kembali kepada rukun tersebut untuk mengerjakannya.
    Kemudian, di akhir salat ia melaksanakan sujud sahwi. Namun, jika ia ingat telah meninggalkan rukun setelah ia memulai bacaan pada rakaat selanjutnya, salatnya menjadi batal dan ia harus mengulangi salatnya serta menyempurnakannya.
  2. Jika seseorang meninggalkan tasyahud awal karena lupa dan memungkinkan ia dapat melakukannya, dan belum sempurna berdirinya, hendaklah ia duduk untuk tasyahud awal dan ia tidak perlu sujud sahwi. Namun, jika ia telah berdiri sempurna dan baru ingat tasyahud awalnya terlewat, maka gugurlah pelaksanaan tasyahud awalnya dan ia melanjutkan salatnya serta melakukan sujud sahwi (sunnah yang utama). Sabda Rasulullah ﷺ.“Jika salah seorang di antara kalian berdiri dari rakaat kedua, tetapi belum sempurna berdirinya, duduklah dan jika berdirinya sudah sempurna, janganlah ia duduk, kemudian sujud sahwilah dua kali sujud” (HR. Turmudzi, Abu Daud, Ibnu Majah,dan Ahmad).
  3. Jika seseorang ragu-ragu dalam bilangan rakaat salatnya, misalnya tiga atau empat rakaat, hendaknya ia mengingat-ingat salatnya, kemudian memilih yang mana lebih kuat dan lebih yakin menurutnya. Namun, jika tidak ada keyakinan untuk itu, ia diperbolehkan memilih di atas keyakinannya yang paling sedikit diantara keduanya (tiga), kemudian ia sujud sahwi di akhir shalatnya.

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Abdulrahman bin Auf yang mengatakan bahwa Rasulullah bersabda,“Jika seseorang di antara kalian lupa dalam shalatnya, kemudian ia tidak tahu apakah ia salat satu rakaat atau dua rakaat, hendaklah ia memastikan satu rakaat. Jika ia tidak mengetahui apakah dua rakaat  atau tiga rakaat hendaklah ia memastikan dua rakaat. Jika ia tidak mengetahui tiga rakaat atau empat rakaat hendakalah ia memastikan tiga rakaat. Kemudia ia sujud sahwi sebelum salam” (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

 

Cara Pelaksanaan Sujud Sahwi

Dalam pelaksanaannya para ulama berbeda pendapat tentang pelaksanaan sujud sahwi, sebelum salam atau sesudah salam.

  1. Sujud sahwi dilaksanakan sebelum salam. (pendapat Abu Hurairah, Makhul, Az-Zuhni, Ibnul Musayyab, Rabi’ah, Al-Auza’I, dan Al-Laits).
  2. Sujud sahwi dilaksanakan sesudah salam (pendapat Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu Mas’ud, Anas, Ibnu Az-Zubair, dan Ibnu Abbas). Pendapat ini juga dikuatkan oleh mazhab Abu Hanifah dan para sahabatnya.
  3. Ibnu Taimiyah berpendapat dengan berdasarkan kumpulan-kumpulan nash yang ada, sujud sahwi dibedakan kedalam beberapa bagian: Pertama, jika berkenaan dengan kekurangan, seperti tidak tasyahud awal, hal ini memerlukan sujud sahwi yaitu dilakukan sebelum salam agar shalatnya menjadi sempurna. Kedua, jika berkenaan dengan kelebihan, seperti rakaat, hendaknya jangan sampai mengumpulkan dua tambahan dalam satu salat. Oleh karena itu sujud sahwi dilaksanakan setelah salam karena hal itu dapat membuat setan marah. Ketiga, jika berkenaan dengan ragu maka hendaknya melakukan sujud sahwi setelah salam, tujuannya untuk menghinakan setan. 

Bagaimana jika seseorang terlanjur salam, namun ternyata masih memiliki kekurangan raka’at? Hendaklah ia menyempurnakan kekurangan raka’at tadi. Pada saat ini, sujud sahwinya adalah sesudah salam dengan tujuan untuk menghinakan setan.

 

Cara melakukan sujud sahwi:

Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam. Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya. Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada dalil sama sekali yang mendukung pendapat ulama yang memerintahkan untuk tasyahud setelah sujud kedua dari sujud sahwi. Karena kadar lamanya tasyahud itu hampir sama lamanya dua sujud bahkan bisa lebih.

 

Do’a Ketika Sujud Sahwi

Sebagian ulama menganjurkan do’a ini ketika sujud sahwi,

Subhana man laa yanaamu wa laa yas-huw” (Maha Suci Dzat yang tidak mungkin tidur dan lupa). Wallahua’lambisshowab. [ZF]

Ar-Rayyan Edisi Juni 2015

Advertisements