suapRisywah/suap/uang pelicin/uang damai saat ini memang hal yang biasa dilakukan ditengah masyarakat mulai dari kalangan pejabat, pebisnis, masyarakat umum, bahkan juga merambah pada dunia remaja (seperti pelajar dan mahasiswa) tanpa rasa malu dan merasa berdosa.

Suap atau uang pelicin sudah menjadi tradisi/budaya. Banyak kasus yang jika tanpa uang pelicin akan banyak menemui kendala untuk mencapai suatu tujuan. Sob, sebenernya apa sih risywah itu? Lalu bagaimana status hukumnya? Secara terminologi fiqh, suap adalah segala sesuatu yang diberikan oleh seseorang kepada seorang hakim atau yang bukan hakim agar ia memutuskan suatu perkara untuk kepentingannya atau agar ia mengikuti kemauannya.  Sedangkan Ibnu Al-Atsir mengatakan bahwa risywah (suap/sogok) ialah sesuatu yang bisa mengantarkan seseorang pada keinginannya dengan cara yang dibuat-buat (tidak semestinya). Jadi uang/hadiah itu diberikan untuk mempengaruhi kebijakan agar sesuai dengan yang diharapkan oleh pemberi suap. Berdasarkan definisi tersebut dinamakan risywah jika mengandung unsur berikut:

  1. pemberian (athiyah) yaitu suatu hal yang tidak pernah kita lakukan sebelum orang yang menerima hadiah menjadi pejabat atau memiliki kekuasaan.
  2. ada niat untuk menarik simpati orang lain (istimalah).
  3. bertujuan untuk membatalkan yang benar (ibtholul haq).
  4. mewujudkan kebatilan (ihqoqul bathil).
  5. mencari perpihakan yang tidak dibenarkan (almahsubiyah bighoiri haq).
  6. mendapatkan kepentingan yang bukan haknya (alhushul’alal manafi’).
  7. untuk memenangkan perkaranya (alhukmu lahu).

Praktik suap menyuap di dalam agama Islam hukumnya haram berdasarkan dalil-dalil syar’i berupa Al-Qur’an, Al-Hadits, dan ijma’ para ulama. Pelakunya dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188). Dan diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr ra ia berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap dan orang yang menyaksikan penyuapannya”. (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi). Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam mengatakan, “Suap menyuap termasuk dosa besar karena Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan yang menerima suap, sedangkan laknat tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar.” (Lihat Taudhihul Ahkam). Dari dalil-dalil diatas menunjukkan bahwa suap-menyuap termasuk dosa besar, karena pelakunya diancam Rasulullah dengan laknat dari Allah. Dan arti laknat ialah terusir dan terjauhkan dari rahmat Allah. Naudzubillah.

Setelah kita bahas ilmunya, coba soba kita cari contoh praktik suap dalam kehidupan sehari-hari. Bisa saja nih sob dosa ini terjadi ditengah-tangah keluarga kita, misalkan orang tua kita memberikan sejumlah uang kepada lembaga agar kita bisa masuk dalam sebuah sekolah atau universitas favorit (tahap peneriman mahasiswa/siswi baru), kenaikan kelas, kelulusan bahkan untuk mendapatkan nilai tertentu dalam ujian mata pelajaran atau mata kuliah. Ataupun mahasiswa akhir yang menempuh skripsi berkunjung kepada dosennya dengan bingkisan menarik dengan maksud memikat hatinya agar memberikan kemudahan dan nilai yang bagus. Ato bisa juga terjadi ketika sobat kena razia polisi tanpa bawa SIM,dsb., lalu sobat bilang sama pak polisi, “Damai itu indah pak (sambil selipkan uang di STNK buat pak polisi berharap bisa segera melaju lagi)”. Bisa juga berupa pemberian uang/barang dari para calon pejabat kepada masyarakat. Rame saat ada pemilu biasanya sob, banyak amplop, beras, kerudung, sembako, dll berseliweran di masyarakat. Banyak juga yang melakukan suap untuk mendapatkan pekerjaan, jabatan, memenangkan hukum peradilan, tender bisnis, pengurusan izin baik berupa izin berusaha, izin mendirikan bangunan, ataupun untuk mendapatkan kepercayaan ditengah-tengah masyarakat.

Adapan jika risywah diberikan sebagai perantara untuk mengambil hak atau untuk menolak kezhaliman dari dirinya, maka tidak mengapa (lihat ‘Aunul Ma’bud). Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ ” Sungguh salah seorang dari mereka ada yang meminta kepadaku, kemudian aku memberinya, tetapi kemudian mereka keluar dengan mengapitnya di bawah ketiak, dan hal itu tidak lain adalah api baginya. ‘Umar berkata:“ Wahai Rasulullah, kenapa engkau memberi mereka?” Beliau bersabda:“ Sesungguhnya mereka tidak ingin yang lain kecuali meminta kepadaku, sedangkan Allah tidak menginginkan dariku sifat bakhil.” (HR. Imam Ahmad)

So,, sobat A’er walaupun manusia cenderung berambisi dengan kehidup mewah, kehormatan dan takut dengan kemiskinan namun kita jangan sampai terjerumus ke dalam perangkap setan. Yaitu dengan melakukan berbagai cara untuk mencapai keinginan kita tanpa mempertimbangkan apakah tindakan itu menyalahi prinsip-prinsip syariat islam. Wallahua’lambisshowab. [Z]

Ar-Rayyan Edisi Juli 2015

Advertisements