CaptureRamadhan akan usai, Idul Fitri akan ber-say ‘hai’. Biasanya, Idul Fitri identik dengan saling berkunjung ke sanak saudara, tetangga, teman sekolah, atau teman kerja buat maaf-maafan, kan? Tapi, apa iya minta maafnya nunggu lebaran? Kelamaan!!! Kalo lagi khilaf, ya langsung aja minta maaf. Pihak yang merasa dirugikan, nggak ada ruginya langsung memaafkan. Kagak perlu rapel nunggu lebaran, mumpung ada kesempatan sebelum ajal datang. Apa sih istimewanya ‘sifat pemaaf’? Simak kisah yang berikut deh sob. Kisah ini diceritakan oleh sahabat Anas bin Malik melalui hadits riwayat Imam Ahmad dan An-Nasa’i.

          Suatu hari, para sahabat tengah duduk bersama Rasulullah ﷺ. Di tengah perbincangan, Rasulullah berkata, “Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang lelaki penghuni surga”. Tak lama, muncul seorang lelaki anshar dengan janggut masih basah oleh air wudlu. Ia berjalan dengan tangan kiri menjinjing sandal. Esok hari, pada kesempatan yang sama, Rasulullah ﷺ kembali berkata, “Akan datang seorang lelaki penghuni surga”. Lelaki itu kembali muncul. Pada kesempatan yang lain, untuk ketiga kalinya Rasulullah ﷺ mengatakan hal yang sama. Karena penasaran, sahabat Abdullah Ibn Amr Ibn Al-Ash mengikuti lelaki anshar yang disebut-sebut Rasulullah sebagai penghuni surga itu.

          Abdullah Ibnu Amr berusaha mencari alasan yang tepat untuk menyelidiki lelaki itu. Ia menghentikan langkah lelaki itu dan berkata, “Wahai kawan, dapatkah kamu memberi pertolongan? Aku bertengkar dengan ayahku dan berjanji tidak akan menemuinya selama tiga hari. Maukah kamu memberi tumpangan selama tiga hari itu?”, pinta Abdullah Ibn Amr. Setelah diperbolehkan, Abdullah Ibn Amr mengikuti lelaki itu menuju rumahnya dan bermalam di sana selama 3 hari. Tujuannya, tidak lain agar ia dapat melihat ibadah apa yang dilakukan lelaki yang kelak menjadi penghuni surga itu. Hingga malam ketiga, Abdullah Ibnu Amr tak melihat sesuatu yang istimewa dari lelaki itu dalam ibadahnya, sampai hampir saja ia meremehkan amalan ibadah lelaki itu.

Akhirnya, Abdullah Ibn Amr berterus terang, “Hai hamba Allah, sebenarnya aku tidak sedang bertengkar dengan ayahku dan juga tidak sedang bermusuhan. Aku hanya ingin membuktikan apa yang telah dikatakan Rasulullah tentang dirimu. Beliau katakan dalam sebuah majlis sampai 3 kali, ‘Akan datang seorang di antara kalian seorang lelaki penghuni surga’. Aku ingin tau, amalan apa yang membuatmu demikian dan aku ingin menirukan agar bisa mencapai kedudukan seperti dirimu”.

Lelaki itu berkata, “Yang kuamalkan setiap hari tak lebih dari apa yang kau saksikan”. Saat Abdullah Ibn Amr hendak berpamitan pulang, lelaki itu kembali berkata, “Demi Allah, amalku tidak lebih dari yang kau lihat, hanya saja aku tak pernah menyimpan niat buruk terhadap sesama muslim (juga yg lain). Aku juga tak pernah memiliki rasa dengki kepada mereka yang mendapat anugerah dan kebaikan dari Allah”. Mendengar pernyataan itu, Abdullah Ibn Amr membalas, “Begitu bersihnya hatimu dari prasangka buruk dan perasaan dengki kepada orang lain. Inilah nampaknya yang membuatmu berada di tempat yang mulia itu. Sesuatu yang tak dapat aku lakukan”.

Demikianlah, wilayah hati adalah wilayah tersembunyi yang tak ada satu orang yang tahu kecuali Ilahi rabbi. Memiliki hati yang bersih, bebas dari iri, dengki, dan benci memang tampak sederhana, namun sebagaimana kisah di atas, justru amalan yang sepertinya sepele itulah yang bisa mengantarkannya ke surga. Sederhana, tapi nggak dimudah dilakukan, bukan? Barangkali kita mampu qiyamullail, sujud, rukuk di hadapan-Nya, tapi amat sulit menghilangkan kedengkian yang timbul karena anugerah Allah kepada orang lain dan kita tak mendapatkannya. Berhati putih, bebas dari noktah hitam prasangka sangatlah sulit. Apalagi untuk bisa mudah memaafkan kesalahan orang lain sangatlah sulit karena hati yang terlanjur sakit. Namun, apa kita tidak bisa berbuat demikian? Tentu bisa! Caranya? Latihan mulai sekarang! Latihan untuk selalu qana’ah, legowo, menahan amarah serta mudah memaafkan kesalahan orang lain. Apa yang bisa kita dapatkan dengan memiliki sifat pemaaf? Banyak, diantaranya dapat menghilangkan dendam, rasa benci, kesombongan, keangkuhan, memperat silaturrahim, menghilangkan permusuhan, perselisihan serta menguatkan ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya, “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf 7:199) Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”(QS. Al-Fushilat 41:35). Semoga kisah di atas bermanfaat. Fastabiqul khoirot! Wallahua’lambisshowab. [WD]

Ar-Rayyan Edisi Juli 2015

Advertisements