forgivemeSobat A’er dalam kehidupan ini banyak sekali permasalahan dan interaksi dengan orang lain. Sebagai contoh, kita mengahadapi seorang kawan yang sifatnya lain di mulut lain di hati, lain bicara lain kenyataan, teman yang omongannya besar, penjilat ataupun pengkhianat. Kita sering kali membenci, memusuhi, mendendam bahkan mengucilkan orang itu apalagi jika posisi kita kuat. Padahal, pantaskah mereka semua mendapatkan yang demikian? Mau dan mampukah kita memaafkan mereka dengan penuh keikhlasan? Mau ga’ sob?

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Al Imraan 133-134)

Jelas banget tuh sob, menahan amarah dan memaafkan saudara kita adahal hal yang amat mulia, ampunan dan surga Allah jadi balasannya. Jangan kita simpan kebencian, amarah, kesal dalam hati kita karena sama saja kita menyimpan api dalam kalbu. Setiap saat akan siap membakar rohani kita sehingga kita jadi orang yang jauh dari ilahi. Nabi ﷺ bersabda “Sesungguhnya perbuatan anak cucu Adam diperlihatkan pada setiap kamis malam jumat, maka tidak akan diterima amalnya orang yang memutus tali silaturahmi”. (HR Ahmad).

Orang-orang yang Bisa Menyeret Kita ke Neraka 

Pada suatu keadaan, ketika orang lain yang kita dzalimi tersebut terlebih dahulu meninggalkan kita, maka kemalangan sebenarnya ada pada pihak yang masih hidup. Pada umumnya orang yang ditinggalkan dengan mudah memberikan maaf terhadap orang yang sudah mati, namun sebaliknya, bagaimana bisa si mati punya kesempatan untuk memaafkan yang hidup..? Maka kedzaliman anda yang belum termaafkan itu mau tidak mau akan anda bawa ke liang kubur.

Memaafkan kedzaliman orang lain terhadap kita tanpa menunggu mereka memintanya, merupakan perbuatan yang amat mulia. Maka bersegeralah untuk memberi maaf dengan hati yang tulus, berlapang dada untuk tidak lagi mengingat sikap orang yang yang telah memunculkan dendam dan sakit hati, bahkan mendo’akan mereka agar tidak menerima akibat atas kelakuan tersebut. Seperti sikap Idola kita Rasulullah ﷺ, ketika beliau dianiaya oleh kaum kafir, lalu Allah mengutus malaikat, bersiap mengikuti perintah apa saja yang akan dikeluarkan beliau untuk menghukum kaum tersebut, Rasulullah malah berkata, ”Yaa Allah, ampunilah perbuatan mereka karena mereka sama sekali tidak mengerti apa yang telah mereka lakukan..”. Ya Rasul-ku, idolaku, sooo sweeeet.

 “Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya”. (QS Thaaha : 112)

Meminta maaf dan memaafkan, sekali lagi, hanya merupakan kesempatan yang diberikan Allah di dunia saja, maka apa gunanya dendam dan sakit hati harus kita pelihara sampai ke liang kubur..??? Apa manfaatnya..?? Sama sekali TIDAK ADA.., Bersegeralah melakukannya dengan tulus, datangi orang-orang terdekat kita, hapus segala ganjalan dihati, do’akan keselamatan untuk mereka, karena keselamatan mereka bisa menjadi keselamatan kita juga. Wallahua’lambisshowab. [Yuzu]

Ar-Rayyan Edisi Juli 2015

Advertisements