fbDewasa ini, media (sosial/komunikasi) telah menjadi bagian penting dalam sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Tak tanggung-tanggung, media senantiasa menjadi tumpuan pertama oleh masyarakat untuk memperoleh informasi tentang keadaan sekitar baik itu di dalam lingkungan sendiri maupun di luar lingkungan mereka. Hal ini senada dengan perkembangan zaman yang telah melahirkan berbagai media informasi dalam menyampaikan pesan kepada khalayak ramai.

Tapi, tidak dapat dipungkiri bahwa “media” ibarat pisau bermata ganda, di satu sisi media memberi manfaat dan sisi lainnya bisa untuk mencelakai orang lain. Karena hal ini sangat tergantung pada dan di tangan siapa media itu berada, ketika ia berada di tangan orang yang baik maka baiklah manfaatnya. Sebaliknya, ketika ia berada di tangan orang jahat maka jahatlah dampaknya yang dihasilkannya.

Terlepas dari persepsi itu, tentu sangat menarik untuk mengaitkan media dengan syiar Islam. Bagaimana tidak? Ke-populer-an media sebagai sumber informasi pertama masyarakat harus dijadikan landasan pentingnya pemakaian media dalam menebar panji Islam di era kekinian. Hadirnya media sudah seharusnya memberi “Smart Solution” di tengah stagnansinya variasi syiar Islam saat ini. Jika pada umumnya syiar Islam berbentuk majelis pengajian di balai desa, masjid atau musholla. Maka, sudah sejatinya wajah “syiar Islam” tampil beda dalam membungkus bingkaian pesan Ilahinya.

Ya! Dalam konteks media sosial, Facebook dan Twitter merupakan salah satu alat yang paling ampuh sebagai media syiar Islam sekaligus dakwah berbasis teknologi era modern. Kedua media sosial ini telah menciptakan berbagai kemudahan dalam menghubungkan antar manusia untuk saling berkomunikasi tanpa adanya batas ruang dan waktu. Kini, hadirnya media sosial semestinya tidak perlu lagi bersusah payah merogoh kocek terlalu dalam untuk menyebarkan risalah Islam ke berbagai tempat, apalagi biaya transportasi mulai merangkak naik.

Baru-baru ini Indonesia mendapatkan julukan baru sebagai “negara paling berisik” di media sosial. Julukan ini tidak berlebihan mengingat 72 juta pengguna internet di Indonesia 93% aktif mengakses Facebook. Jumlah ini akan terus meningkat mengingat semakin berkembangnya jaringan internet di Indonesia. Terlebih lagi, televisi dan handphone sebagai media komunikasi telah menjelma menjadi alat komunikasi yang paling banyak di gunakan seluruh masyarakat Indonesia bahkan di dunia. Lebih dari 95% masyarakat Indonesia telah memilikinya. Penggunaan media di atas tentunya akan menambah luas jangkauan radius syiar Islam.

Selain sebagai alat untuk menyebarkan syiar Islam, media dapat dijadikan alternatif dakwah yang sangat efektif dalam menjawab berbagai problem yang mendera umat Islam saat ini. Apalagi saat ini banyak manusia yang selalu sibuk akan urusan duniawinya, membuatnya lalai mengerjakan kewajibannya dalam menambah wawasan ilmu agama. Walhasil, tidak sedikit orang Islam yang kehilangan arah dalam menjalani kehidupannya, mengalami stagnasi keilmuan agama serta kehilangan figur teladan yang membuatnya terlempar dari rotasi fitrahnya.

Di sinilah urgennya media dalam membantu para da’i melakukan upaya pencerahan, seperti upaya publikasi tulisan-tulisan Islam dengan beragam pembahasan yang berwarna-warni melalui media sosial/internet, penayangan syiar Islam dalam bentuk tabligh akbar di stasiun televisi, serta mengirim untaian kata tausiyah yang menyejukkan dengan media short message service (SMS) merupakan cara dari beribu cara untuk mengajak hati yang tersesat kembali kepada fitrahnya. Bukan hal yang mustahil jika aktivitas dakwah di atas dilakukan secara intensif dan berkala akan menyelamatkan orang-orang yang berjiwa rapuh. Paling tidak sedikit demi sedikit orang-orang yang tersesat akan kembali merasakan embun nikmat bersedekap dengan keagungan cahaya Ilahi.

Peran media (sosial dan komunikasi) dalam mengawal syiar dan dakwah Islam di era modern sangat vital. Penampilan syiar Islam dengan wadah baru harus menjadi “trending topic” dalam menjaga eksistensi Islam di era modern ini. Wadah baru tersebut tentunya harus digunakan secara maksimal agar masyarakat benar-benar memberi respons positif terhadap syiar Islam. Pastinya kemampuan mengelola wadah baru dengan benar dan menarik sangat di butuhkan.

Maka tak salah sekiranya kita berkaca pada da’i yang sudah sukses mensyiarkan Islam saat ini. Dialah Ustad Felix Siauw, da’i kelahiran Palembang ini dikenal sebagai aktivis syiar Islam sekaligus pendakwah di media sosial, dari cara ia mensyiarkan Islam sampai dakwahnya di Twitter begitu mantap, berpengaruh dan menyentuh hati follower-nya. Tercatat hingga saat ini jumlah followers-nya sudah mencapai lebih dari satu juta. Hal ini bukanlah sesuatu yang kebetulan melainkan ini adalah janji Allah kepada orang yang menegakkan agamanya. Sebagaimana tersirat dalam surat Muhammad ayat 7 :

يا أيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Jejak sukses dari kegigihannya ini yang harus ditiru, da’i yang notabene adalah seorang mualaf namun sekarang telah menjelma menjadi seorang yang sangat penting dalam mengangkat mutiara yang telah lama berada dalam kubangan lumpur. Jika hal ini juga ditiru oleh yang lain, bukan tidak mungkin masyarakat madani akan tercipta untuk membangun Indonesia yang lebih beradab.

Oleh : Giovano Bhakti Meizhar (Pemenang Lomba Menulis Fikrul Islam Kategori Mahasiswa)

Ar-Rayyan Edisi September 2015

Advertisements