nasehat-kepada-saudaraMenjaga hati agar senantiasa tetap berada dalam keimanan, menjaga lisan dari apa yang dikhawatirkan menyakiti hati orang lain, menjaga pandangan dari apa yang di haramkan bagi kita untuk memandangnya. Ketiga hal itu adalah keharusan sesungguhnya yang harus dimiliki oleh setiap pribadi muslim yang yang merasa beriman. Namun, Kita akan membahas salah satu dari ketiganya “menjaga lisan dari apa yang dikhawatirkan menyakiti orang lain”.

Dalam perjalanan hidup yang tanpa diketahui berakhirnya ini, setiap orang akan saling membutuhkan bantuan yang lain untuk memenuhi kebutuhannya, sebagaimana yang dikatakan “manusia adalah makhluk sosial” artinya tidaklah manusia berguna kepada yang lain kecuali mereka saling membantu satu dengan yang lainnya. Perlu kiranya disebutkan lebih rinci bahwa makna membantu itu ada beberapa bagian, yakni membantu dengan harta, membantu dengan pikiran (ide) serta membantu dengan tenaga dan yang terakhir membantu dengan do’a.

Karena manusia adalah makhluk sosial, maka salah satu cara dari seribu cara, agar senantiasa dalam ketentraman dalam berinteraksi adalah menjaga lisan. Makna menjaga lisan pun ada dua (2), yakni: yang pertama, menjaga lisan dari apa yang dikhawatirkan menyakiti orang lain. Yang kedua, menjaga lisan maksudnya, memberikan peringatan kepada yang lain untuk kebaikannya. makna yang kedua ini lebih cenderung ke pencegahan. Sebagaimana yang sering kita dengar “mencegah lebih baik daripada mengobati”.

Makna menjaga lisan yang pertama, menjaga lisan dari apa yang dikhawatirkan menyakiti orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47). Tidaklah berbicara yang baik akan membuat orang lain marah, apalagi sampai memutuskan hubungan karena kita berbicara yang baik. Dan Tidaklah diam mendatangkan amarah seseorang, melainkan akan membuat mereka segan.

Makna manjaga lisan yang kedua, memberikan peringatan kepada yang lain untuk kebaikannya. Dalam al qur’an Allah swt berfirman: “Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat, yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka diharapakan termasuk orang – orang yang beruntung” (QS. Ali Imran : 104).

Menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mecegah dari yang mungkar adalah tanda memberikan peringatan jika kita melaksanakannya. Sekali lagi jika kita melaksanakan ayat tersebut maka kita adalah termasuk orang – orang yang memberikan peringatan (nasihat).

Sahabatku, dunia ini begitu kecil jika dibandingkan dengan surgaNya Allah swt. maka tidakkah kita akan merasa terenyuh jika saudara kita melakukan kemaksiatan? Tidakkah kita akan menangis saat mengetahui saudara kita melakukan maksiat? Sahabatku, mari kita sama-sama tanamkan dalam hati, bahwa mereka yang bermaksiat itu adalah saudara kita. Dan lupakah kita terhadap sabda Rasulullah ﷺ “Tidaklah sempurna keimanan seseorang, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. MasyaAllah, setiap kalimat Rasulullah adalah lebih baik dari mutiara.

Sahabatku, pandanglah mereka yang bermaksiat dengan mata kasih, dan jangan pandang mereka dengan mata merendahkan, sebab matahari belum terbit dari barat, boleh jadi yang ahli maksiat menjadi ahli ibadah akhirnya dan boleh jadi yang ahli ibadah awalnya menjadi ahli maksiat pada akhirnya karena hanya Allahlah yang Maha memberi Petunjuk. Pahamilah bahwa hakikat bersaudara adalah mengajak untuk saling bertakwa kepada Allah swt. sebagaimana FirmanNya : “Dan tolong menolonglah kalian dalam mengerjakan kebajikan dan takwa. Dan jangan tolong menolong kalian dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksaNya” (QS. Al Maidah : 2). Wallahu a’lam bisshowab.

Diselesaikan Senin 12 Oktober 2015/ 28 Dzulhijjah 1436 H.

Al akh Muhammad Said As-Syamsuri.

Di posting utuk semua sobat muslim via http://www.buletinarrayyan.wordpress.com

Advertisements