bukhara-uzbekistan-5Siapa yang tak kenal sosok satu ini? Kalo kita ngaku muslim, pasti kita tahu namanya. Imam Bukhari, begitulah umat muslim akrab menyebutnya. Imam Bukhari bernama asli Abu Abdullah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah. Dilahirkan di Bukhara, Uzbekistan, Asia tengah pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M), cucu seorang Persia bernama Bardizbah. Ayahnya, Ismail, adalah seorang ulama besar ahli hadits. Riwayat hidupnya telah dipaparkan oleh Ibn Hibban dalam kitab As-Siqat, begitu juga putranya, Imam Bukhari, membuat biografinya dalam At- Tarikh Al-Kabir.

Ayah Bukhari dikenal sebagai orang berilmu, bertaqwa dan sangat wara’ (menghindari yang subhat/meragukan dan haram). Bukhari terlahir dengan mewarisi sifat-sifat mulia dari ayahnya. Tak lama setelah lahir, Bukhari kehilangan penglihatannya. Ayah dan ibunya sangat bersedih dan terus memohon kesembuhan kepada Allah, hingga suatu malam ibunya bermimpi didatangi Nabi Ibrahim yang berkata: “Wahai Ibu, Allah telah menyembuhkan penyakit putramu dan kini ia sudah dapat melihat kembali, semua itu berkat do’amu yang tiada henti-hentinya.” Penglihatan Bukhari pun normal kembali. Ayah Bukhari meninggal ketika ia masih kecil dan meninggalkan banyak harta. Bukhari tumbuh dengan sangat baik dalam pengasuhan sang ibu. Kecerdasan dan kejeniusannya telah tampak sejak ia kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat.

Ketika berusia 10 tahun, Bukhari sudah banyak menghafal hadits. Pada usia 16 tahun ia bersama ibu dan kakak sulungnya mengunjungi berbagai kota suci untuk memperoleh dan belajar hadits dari para ulama dan tokoh-tokoh negerinya, bertukar pikiran dan berdiskusi dengan mereka. Kakak sulungnya menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia dicela membuang karena tidak mencatat. Bukhari diam tidak menjawab. Karena kesal terhadap celaan yang terus menerus, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua karena Bukhari mampu menghafal 15.000 hadits di luar kepala, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Imam Bukhari telah banyak melahirkan karya yang sangat luar biasa. Karyanya yang pertama berjudul “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien) yang ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab “At-Tarikh” (sejarah). Beliau menulisnya di dekat makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama. Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami’ ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al ‘Ilal, Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du’afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami’ as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.

Imam Bukhari tidak hanya mencurahkan seluruh kecerdasan dan daya ingatannya yang luar biasa itu untuk menghasilkan karya-karya besarnya, tetapi ia melakukannya dengan penuh dedikasi dan kesalehan. Ia selalu mandi dan berdo’a sebelum menulis. Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari yang isinya meminta ia supaya menetap di negeri mereka. Maka, kemudian ia pergi untuk memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil yang terletak dua farsakh sebelum Samarkand, dan di desa itu terdapat beberapa keluarganya, ia pun singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi mereka. Tetapi di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya. Beliau wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H. (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan agar jenazahnya dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Jenazahnya dikebumikan lepas dzuhur, hari raya Idul Fitri, sesudah ia melewati perjalanan hidup panjang yang penuh dengan berbagai amal yang mulia. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan ridhaNya serta memberikan manfaat yang besar untuk kaum muslimin dari karya-karya yang telah ditulisnya. Aammiin… Wallahu a’lambisshowab. [WR]

Ar-Rayyan Edisi Oktober 2015

Advertisements