SolehMuslim_Buskota-2xoca7tahvmpuftrnkpt6oPARA sahabat Nabi dan generasi pelanjut yang akhirnya sampai kepada wali-wali Allah adalah manusia biasa. Meski demikian, kecintaan mereka kepada Allah dan Rasulnya di atas segala-galanya melebihi bangsa, keluarga bahkan apapun di dunia.

Mereka  makan, minum dan bertempat tinggal layaknya manusia. Mereka juga berusaha untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarga. Maka, tak heran ada sahabat berdagang seperti Abdurrahman bin ‘auf. Tapi, pada saat Allah dan Rasulnya meminta hijrah disebabkan di Makkah tidak kondusif untuk dakwah dan melaksanakan ajaran Islam, maka Abdurrahman bin ‘auf tanpa berpikir panjang hijrah meninggalkan harta dan keluarga karena Allah.

Inilah yang dinamakan cinta kepada Allah dan Rasulnya melebihi harta dan keluarga atau di atas segala-galanya. Allah berfirman :

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS: at Taubah : 24)

Hijrah tersebut dalam rangka menyampaikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Rahmat tersebut saat ajaran-ajarannya dilaksanakan di dalam kehidupan baik hubungannya dengan khaliq ataupun dengan makhluk. Rahmat tersebut tidak hanya untuk diri-sendiri tetapi untuk seluruh alam, sehingga Islam dan ajarannya harus disebarkan ke seluruh alam.

Berdakwah disamping menjadi rahmat bagi orang lain agar tidak terjerumus ke dalam neraka, juga mengantarkan pengemban dakwah menjadi orang-orang yang beruntung. Sebagaimana dalam surah al ‘ashr ayat 2-3 dan ali Imran ayat 104. Allah berfirman :

إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر

“Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.” (QS: al ‘ashr 2-3).

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS: Ali ‘Imran :104)

Untung dakwah tentu bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat Insya Allah mendapat jannahnya. Hal ini adalah janji allah. Jelas hal tersebut akan ditepati oleh Allah.

Di dalam ayat lain, Allah sudah berfirman : يا أيها الذين آمنوا إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolong kamu sekalian dan mengokohkan kedudukanmu.” (QS: Muhammad : 7)

Di dalam Tafsir al-Sa’di di jelaskan, ayat ini adalah perintah Allah kepada orang mukmin, hendaknya menolong agama Allah dengan tegak berdasarkan agamanya, berdakwah (mengajak ke Islam), berperang di jalan Allah dan semuanya bertujuan karena Allah semata. Seorang pendakwah juga menjalankan sunnah Nabi saling menasehati dalam kebenaran dan amar ma’ruf nahi munkar. Namun jika tidak mampu, diam menjadi pilihan.

Tentu, dakwah adalah sebaik-baiknya perkataan dan sebaik-baiknya nasehat, karena mengajak orang pada kebaikan, melarang orang menjauhi keburukan dan maksiat.

عن أبي تميم بن أوس الـداري رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال ” الدين النصيحة قلنا لمن ؟ قال : لله ولرسوله وللأئمة المسلمين و عامتهم

“Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari radhiallahu ‘anh, “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ?, Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum muslim.” [HR Muslim no. 55].

Maka dengan adanya pendakwah, tersebarlah nasehat-nasehat dan esensi-esensi dari agama. Dalam hadits yang lain Nabi menyuruh kita merubah dengan tangan (kekuasaan), lisan, baru kemudian dengan hati (mengingkari dan berdoa) saat melihat kemungkaran.

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان . رواه مسلم

“Barangsiapa diantara kamu sekalian melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tangan (kekuasaan), jika tidak mampu, maka dengan lisan, jika tidak mampu, maka dengan hati, dan itu paling lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Berdakwah (menyebarkan ajaran Islam) bukan hanya tugas dari seorang ustadz, kiai ataupun syaikh, tetapi adalah kewajiban seluruh ummat Islam sesuai dengan kapasitas masing-masing. Sebagaimana sabda rasul بلغوا عنى ولو اية” “sampaikanlah dariku walaupun hanya satu ayat.” (HR. Bukhari).

Jahiliyah

Dakwah juga tidah harus dilakukan di mimbar-mimbar jum’at, pengajian-pengajian umum tetapi dapat dilakukan di rumah-rumah, kantor-kantor bahkan dengan keluarga dan teman dekat. Selanjutnya, dakwah senantiasa menjadi poros utama ummat, harus dilakukan oleh siapapun dan apapun profesinya sesuai dengan kemampuan, dilangsungkan hingga hari kiamat demi menerangi kehidupan dengan cahaya Islam serta untuk melawan iblis dan keturunannya yang senantiasa menggoda manusia.

Jahiliyah bukanlah bodoh secara pengetahuan dan teknologi, karena pada zaman dulu puncak ketinggian sastra Arab dan sudah mengenal kawin silang kurma. Tetapi, jahiliyah adalah sikap orang jauh dari ajaran agama Islam (aqidah, syari’ah dan akhlaq) atau bahkan menentangnya.

Oleh karena itu, Sayyidina Umar yang pernah merasakan sikap jahiliyah mengatakan : نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة بغيره أذلنا الله

“Kami adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan agama Islam, apabilah kami mencari kemuliaan di luar Islam, justru Allah menghinakan.”

Maka tak heran, orang yang bermaksiat, tidak menutup aurat, mencuri, berzina akan dihinakan oleh Allah.*

Oleh: Ust. Herman Anas, S.P. alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Jawa Timur.

Tulisan ini dkirim untuk pertama kali ke redaksi  Hidyatullah.com.

Advertisements