renunganRenungan seorang remaja masjid

            Sebuah hal yang lumrah terjadi ketika seseorang pergi merantau, jauh dari keluarga, jauh dari ibu bapak, jauh dari sepupu, jauh dari teman – teman dan jauh dari sanak family. Merantau bukanlah hal yang tak boleh, akan tetapi merantau untuk apa? Apakah untuk mencari ilmu, untuk bekerja, mencari pekerjaan atau malah perjalanan yang kita lakukan malah membuat kita binasa atau terperangkap dalam kemaksiatan.

            Namun, jika perjalanan kita untuk mencari ilmu, mencari pekerjaan, dan lain sejenisnya, maka sungguh itu adalah hal yang mulia, bagaimana tidak, bahwa mencari ilmu (menuntut ilmu) adalah kewajiban bagi setiap individu muslim, maka sekali lagi itu adalah termasuk amal sholeh.

        Maka beruntunglah setiap manusia yang dapat menemukan kehidupan yang baru akibat merantaunya tersebut, maksudnya, dari yang dulunya suka celana jeans, yang model “paku” berubah menjadi celana kain (catatan : meskipun kita tidak bisa langsung menilai baik buruknya seseorang dari celananya), dari yang dulunya suka pacaran berubah menjadi pribadi muslim yang taat, tanpa pacaran langsung lamaran. Dari yang dulunya suka musik rock, jazz, pop and k-pop berubah menjadi pendengar murattal, menjadi pendengar setia opick misalnya, atau menjadi pendengar lagu hijjaz dan lain sejenisnya. Atau jika yang dulunya jauh dari masjid dan sekarang berada paling dekat dengan masjid (pemakmur masjid), maka beruntunglah ia. Sungguh itu adalah keberuntungan yang luar biasa, sebab hanya orang-orang pilihan yang diberi amanah oleh Allah untuk memakmurkan masjid. Iya hanya orang-orang pilihan. Sebagaimana Firman Allah:

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (at Taubah: 18).

            Dimasjid Kita lebih dekat lagi dengan Tuhan kita, Allah. Kita dapat melaksanakan sholat berjamaah secara rutin dimasjid, kita bisa mempelajari Agama Islam lebih dalam lagi, ya dimasjid tempatnya. Kita dapatkan saudara-saudara yang sholeh, ya dimasjid tempatnya. Kita mendakwahkan Islam, maka dimasjidlah tempat pembinaan akidah dan akhlak yang mulia. Kita dapat belajar banyak hal tentang Islam di masjid.

            Namun tragedi yang sangat menakutkan dan sekaligus merugikan, ketika terjadi. Tragedi itu adalah ketika kita menjadi pemakmur masjid, yang sangat dekat dengan masjid, namun ketika kita pulang ke halaman rumah, maka keistiqomahan sholat berjamaah kita menurun, bacaan rutin qur’an kita menurun, belajar ilmu Agama kita menurun. Atau yang lebih menakutkan dan merugikan lagi adalah ketika kita lebih parah dari orang tidak pernah belajar ilmu seperti kita, misalnya, kita ikut – ikutan balapan motor, cangkruan yang tak bermanfaat, dan lain sejenisnya. Maka ketika itu yang terjadi pada Anda dan kami, segeralah kita sadar dan bangkit dari kemalasan untuk beribadah.

            La tahzan, don’t be sad, jangan bersedih. Karena kami akan berbagi dengan Anda semua, untuk memperbaiki kesalahan yang telah kita lakukan yakni kesalahan ketidak istiqomahan, dan itu disebabkan oleh lemahnya iman. Big question! Pertanyaan terbesar kita adalah apa penyebab lemahnya iman? Jawabannya adalah :

  1. Tidak menomorsatukan Allah di atas segalanya. Dan akibat yang akan muncul adalah poin kedua.
  2. Tidak berbuat sesuatu karena Allah. Contoh sederhana 1; ketika kita mendapatkan amanah, menjadi pengurus dimasjid, menjadi ketua pemuda remaja masjid, menjadi koordinator, menjadi anggota, maka kita melaksanakannya. Contoh sederhana 2; ketika kita melihat orang-orang pada pergi kemasjid, dan kita pun dekat dengan masjid, maka kita pun melangkah kemasjid. Contoh sederhana 3; ketika kita di beri amanah untuk mengisi sebuah forum, kita melaksanakannya.

Masya Allah kesemua yang kami sebutkan diatas adalah hal – hal yang mulia, tapi apakah benar perbuatan yang kita lakukan mulia?

Dari contoh yang pertama, kita diberi tugas oleh manusia, untuk menjadi ini, menjadi itu. Dari contoh yang kedua, kita melangkah kemasjid, sebab kita dekat dengan masjid. Dari contoh yang ketiga, mengisi forum karena diberi amanah oleh panitia (panitia itu manusia).

Maka, akan ada dua jenis orang yang akan menanggapi permasalahan tersebut;

Orang pertama, ia sadar bahwa panitia atau orang yang memberikan perintah adalah sebagai perantara saja, dan tidak lebih dari perantara. Perantara dari Allah untuk kita melakukan kesemuanya yang telah tadi disebutkan.

Orang kedua, ia menganggap bahwa panitia atau orang yang memberikan perintah adalah orang yang telah memberi perintah. Maksudnya, ia beranggapan bahwa amanah itu memang dari manusia. Maka sambungannya kepada Allah terputus, ia tidak mengaitkan atau menghubungkan kepada Allah.

“Lalu, termasuk yang manakah kita? Dan mau jadi yang mana?”

“Jika kita melakukan sesuatu karena Allah, maka kita insyaAllah akan istiqomah. Namun jika kita tidak/susah istiqomah maka kemungkinan besar kita melakukan sesuatu karena hal yang lain, selain Allah”

Wallahua’lambisshowab.

Diselesaikan Sabtu, 14 November 2015

Al akh Muhammad Said As-Syamsuri.

Advertisements