tayamumDalam Kitab Ilmu Fiqih, hal yang yang dibahas pertama kali adalah masalah thaharah, karena thaharah adalah salah satu syarat pokok sahnya untuk melakukan aktifiitas ibadah. Kalau kita perhatikan, tidak ada satu agamapun yang betul-betul memperhatikan thaharah seperti agama Islam. Thaharah menurut bahasa adalah bersih. Sedangkan menurut para fuqaha (ahli fiqh), thaharah berarti membersihkan hadats atau menghilangkan najis. Thaharah dari hadats dan najis itu menggunakan air sebagaimana firman Allah “…dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu…” (QS.Al-Anfal:11).

Sakit adalah hal fitrah yang terkadang menghampiri makhluk hidup namun bagi seorang muslim sakit bukanlah segalanya untuk beralasan meninggalkan hukum-hukum Allah. Apakah Sobat Aer,,tau?? bahwa Allah telah menurunkan rukhsoh (keringanan) bagi hambanya yang sedang sakit. Nah, orang yang sakit mempunyai hukum-hukum yang khusus, Sobat Aer,,,dan keadaannya mendapat perhatian yang khusus pula dalam syariat Islam. Sebab Allah telah mengutus NabiNya, Muhammad SAW; dengan membawa kebenaran dan kelonggaran yang didasarkan kepada kemudahan. Allah berfirman: “Dia sekali-kali tidak menjadikam untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj: 78). “Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (Al-Baqarah: 185). “Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupam kalian dan dengarlah serta taatlah.” (At-Taghabun: 16)

Adapun cara bersuci bagi orang yang sakit adalah:      

  1. Orang yang sakit harus bersuci dengan air, wudhu dari hadats kecil dan mandi dari hadats besar.
  2. Jika tidak sanggup bersuci dengan menggunakan air karena kondisinya yang memang lemah atau karena khawatir sakitnya bertambah parah atau menunda kesembuhannya, maka dia boleh bertayammum. Adapun cara bertayammum: Telapak tangan ditempelkan di debu yang bersih dan suci dengan sekali tempelan, lalu ditepis-tepiskan agar debunya tidak terlalu banyak, lalu mengusap ke seluruh wajah. Kemudian menempelkan lagi di debu, lalu saling diusapkan tangan antara yang satu dan lainnya.
  3. Jika dia sendiri tidak bisa wudhu atau tayammum, maka orang lain bisa mewudhukan atau menayammuminya.
  4. Jika di sebagian anggota thaharah terdapat luka, maka dia tetap harus membasuhinya dengan air. Namun jika terkena air, luka itu bertambah parah, maka tangannya cukup dibasahi air, lalu diusapkan di permukaan luka sekedarnya saja. Jika ini pun tidak memungkinkan, maka dia bisa bertayammum.
  5. Jika anggota thaharah ada yang patah, lalu ditutup perban atau digips, maka dia cukup mengusapnya dengan air dan tidak perlu bertayammum. Sebab usapan itu sudah dianggap sebagai pengganti dari mandi. Boleh mengusapkan tangan ke dinding saat tayammum, atau ke tempat lain yang memang suci dan juga mengandung debu. Jika dinding itu dilapisi sesuatu yang bukan dari jenis tanah, seperti dicat, maka tidak boleh tayammum padanya, kecuali memang di situ ada unsur debunya.
  6. Jika tidak memungkinkan tayammum di tanah atau di dinding atau sesuatu yang ada debunya, maka boleh saja meletakkan tangan di sapu tangan umpamanya, yang di atasnya ditaburi debu.
  7. Jika dia tayammum untuk satu shalat, kemudian tetap dalam keadaan suci hingga masuk waktu shalat berikutnya, maka dia bisa shalat dengan tayammum untuk shalat yang pertama. Sebab dia masih dalam keadaan suci dan tidak ada sesuatu pun yang membatalkannya.
  8. Orang yang sakit harus membersihkan badannya dari berbagai jenis najis selagi dia sanggup untuk melakukannya. Jika tidak bisa, maka dia bisa shalat dalam keadaan seperti apa pun, dan tidak perlu mengulang shalatnya setelah suci.
  9. Orang yang sakit harus shalat dengan pakaian yang suci. Jika di pakaiannya ada najis, maka dia harus mencucinya atau menggantinya dengan pakaian lain yang suci. Jika tidak memungkinkan, maka dia bisa shalat dalam keadaan seperti apa pun, dan tidak perlu mengulang shalatnya setelah suci.
  10. Orang yang sakit harus shalat di atas sesuatu atau di tempat yang suci. Jika tempatnya itu ada najisnya, maka harus dicuci atau diganti dengan yang suci atau dilapisi sesuatu yang suci. Apabila tidak memungkinkan, maka dia bisa shalat dalam keadaan seperti apa pun dan tidak perlu mengulang shalatnya setelah suci.
  11. Orang yang sakit tidak boleh menangguhkan shalatnya dari waktunya karena alasan ketidakmampuan dalam bersuci. Dia harus bersuci menurut kesanggupannya, kemudian shalat pada waktunya, sekalipun di badan, pakaian atau tempatnya terdapat najis.

Nach Sobat Aer, mulai sekarang jangan sekali-kali mencari-cari dan mengungkapkan alasan untuk meninggalkan perintahNya, karena Allah memberikan jalan yang mudah untuk kita… OK. Wallahua’lambisshowab.

Ar-Rayyan Edisi Desember 2015

Advertisements