tumblr_inline_mu72y8PTc41rzxsp6-600x360Sistem pergaulan dalam Islam atau bahasa populernya adalah an-nizhâm al-ijtimâ‘î didefinisikan sebagai sistem yang mengatur pergaulan pria dan wanita atau sebaliknya serta mengatur hubungan/interaksi yang muncul dari pergaulan tersebut dan segala sesuatu yang tercabang dari hubungan tersebut. Allah menciptakan manusia begitu sempurna karena manusia merupakan khalifah di muka bumi ini. Ada dua jenis manusia yang diciptakan oleh Allah SWT, yaitu laki-laki dan perempuan. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat: 13, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Pergaulan merupakan suatu fitrah bagi manusia karena sesungguhnya manusia merupakan makhluk sosial. Manusia juga memiliki sifat tolong-menolong dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Namun, di zaman sekarang ini banyak sekali remaja yang terjerembab dalam kemaksiatan akibat salah pergaulan, seperti maraknya video mesum, pemerkosaan, dan berbagai perilaku menyimpang lainnya. Hal ini dapat terjadi karena pergaulan tidak dibentengi dengan iman yang kokoh sehingga mudah tergoyahkan oleh arus pergaulan yang bersifat negatif.

A. Pergaulan dengan Lawan Jenis

Berikut ini adab-adab bergaul dengan lawan jenis. Di antaranya:

  1. Pertama: Dilarang untuk berkholwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya)
  2. Kedua: Menundukkan pandangan (ghadwul bashar)
  3. Ketiga: Jaga aurat terhadap lawan jenis
  4. Keempat: Tidak boleh ikhtilat (campur baur antara wanita dan pria)
  5. Kelima: Menjaga kemaluan

B. Pergaulan Sesama Jenis

Dalam hal menjaga aurat, Nabi pun menegaskan sebuah tata krama yang harus diperhatikan, beliau bersabda: “Tidak dibolehkan laki-laki melihat aurat (kemaluan) laki-laki lain, begitu juga perempuan tidak boleh melihat kemaluan perempuan lain. Dan tidak boleh laki-laki berkemul dengan laki-laki lain dalam satu kain, begitu juga seorang perempuan tidak boleh berkemul dengan sesama perempuan dalam satu kain” (HR. Muslim).

C. Pergaulan Seorang Muslim dengan Non Muslim

Dalam perkara-perkara umum (sosial), kita tetap menjalin hubungan yang baik dengan non muslim sekalipun. Contoh: Nabi berdiri ketika iring-iringan jenazah non muslim melewati beliau. Kita perlu tahu bahwa ada tiga jenis non muslim yaitu kafir harbi, kafir dzimmi, dan kafir mu’aahad. Masing-masing mendapat perlakuan yang berbeda. Dalam masalah aqidah dan ‘ubudiyah, kita tegas terhadap non muslim. Seperti: kita tidak mengucapkan dan menjawab salam kepada mereka, tidak mengikuti ritual ibadah mereka, dan semacamnya.

D. Pergaulan terhadap Sesama Muslim

Sesama muslim adalah bersaudara. Seperti tubuh yang satu dan seperti satu bangunan yang kokoh dan saling mendukung antar bagiannya. Pergaulan sesama muslim dibalut dengan Ukhuwah Islamiyah. Ada banyak hak saudara kita atas diri kita, diantaranya sebagaimana dalam hadits Nabi yaitu jika diberi salam hendaknya menjawab, jika ada yang bersin hendaknya kita doakan, jika diundang hendaknya menghadirinya, jika ada yang sakit hendaknya kita jenguk, jika ada yang meninggal hendaknya kita sholatkan dan kita antar kepemakamannya, dan jika dimintai nasihat hendaknya kita memberikannya. Selain itu, sesama muslim juga tidak saling meng-ghibah (bergosip), tidak memfitnahnya, tidak menyebarkan aibnya, berusaha membantu dan meringankan bebannya, dan sebagainya.

E. Pergaulan dengan Orang Tua dan Keluarga

Bersikap santun dan lemah lembut kepada ibu dan bapak, terutama jika telah lanjut usianya. Jangan berkata ‘ah’ kepada keduanya. Terhadap keluarga, hendaknya kita senantiasa saling mengingatkan untuk tetap taat kepada ajaran Islam. Sebagaimana Nabi telah melakukannya kepada Ahlu Bait. Dan Allah berfirman: “Quu anfusakum wa ahliikumnaara” yang isinya merupakan perintah agar kita memelihara diri dan keluarga kita dari api neraka.

F. Pergaulan denganTetangga

Tetangga harus kita hormati. Misalnya dengan tidak mendzhalimi, menyakiti dan mengganggunya, dengan membantunya, dengan meminjaminya dengan sesuatu yang dibutuhkan, memberinya bagian jika kita sedang masak-masak dan sebagainya. Wallahua’lam Bishshowab.

Ar-Rayyan Edisi Desember 2015

Advertisements