Wiping debts away.

          Sobat Aer semua pasti paham dong, ‘nobody is perfect’. Yup, di dunia ini tak ada manusia yang sempurna. Semua manusia pasti pernah berbuat salah dan dosa kecuali Nabi dan Rasul yang dijaga Allah yang memiliki sifat ma’shum alias terjaga dari dosa. Tapi, taukah Sobat? Rasulullah bersabda, “Setiap anak Adam adalah sering berbuat salah. Dan, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat”. (HR. Tirmidzi). Sudahkah kita bertaubat? Bagaimana kualitas taubat yang diterima Allah? Yuk, simak kisah berikut!

Pada suatu hari Rasulullah duduk di dalam masjid bersama para sahabat. Beliau tengah mengajar, mendidik dan mensucikan (hati) mereka. Tiba-tiba datanglah seorang wanita berhijab masuk melalui pintu masjid. Melihat wanita itu, Rasulullah terdiam, dan begitu juga para sahabat. Wanita tersebut menghadap dengan perlahan. Dia berjalan sampai kepada Rasulullah, lalu berdiri di hadapan beliau, dan mengaku bahwa dia telah berzina! Dia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan (maksiat yang mewajibkan adanya) hukuman had (atasku), maka sucikanlah aku!” Seketika merahlah wajah Rasulullah seolah hampir meneteskan darah. Kemudian beliau mengarahkan wajah beliau ke arah kanan, dan diam, seakan-akan beliau tidak mendengar sesuatu. Rasulullah berusaha agar wanita ini mencabut perkataannya, akan tetapi wanita tersebut adalah wanita yang istimewa, wanita yang sholehah, wanita yang begitu kokoh keimanannya. Rasulullah pun bersabda kepadanya, “Pergilah, sehingga engkau melahirkannya.”

Bulan demi bulan berlalu, wanita itu pun melahirkan puteranya. Pada hari pertama nifasnya, dia pun datang dengan membawa anaknya yang telah diselimuti kain dan berkata, “Wahai Rasulullah, sucikanlah aku dari dosa zina, inilah dia, aku telah melahirkannya, maka sucikanlah aku wahai Rasulullah!” Rasulullah SAW melihat kepada anak wanita tersebut, sementara hati beliau tercabik-cabik karena merasakan pedih yang sangat. Beliau merasa sangat iba terhadap anak wanita itu, jika hukum had dikenakan kepada ibunya, lantas siapa yang akan mengurusi semua keperluannya? Maka Nabi SAW bersabda, “Pulanglah, susuilah dia, jika engkau telah menyempurnakannya, kembalilah kepadaku.”

Wanita itu pun pergi ke rumah keluarganya, dia susui anaknya, dan tidaklah bertambah keimanannya di dalam hatinya kecuali keteguhan, seperti teguhnya gunung. Tahun pun berganti. Wanita itu datang kembali dengan membawa anaknya yang sedang memegang roti. Dia berkata: “Wahai Rasulullah, aku telah menyempurnakan memberinya susu, maka sucikanlah aku!”. Dia dan keadaannya sungguh sangat menakjubkan! Masa sekitar tiga tahun tidaklah menambahnya kecuali kekuatan iman. Rasulullah mengambil anaknya, seakan-akan beliau membelah hati wanita tersebut dari antara kedua lambungnya. Akan tetapi ini adalah perintah Allah dan kebenaran harus ditegakkan. Rasulullah bersabda, “Siapa yang mengurusi anak ini, maka dia adalah temanku di surga seperti ini”. Kemudian beliau memerintahkan agar wanita tersebut dirajam. Maka manusia pun berkumpul dan merajamnya.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Nabi memerintahkan agar wanita itu dirajam, kemudian beliau mensholatinya. Maka berkatalah Umar, “Anda mensholatinya wahai Nabi Allah, sungguh dia telah berzina.” Maka beliau bersabda, “Sungguh dia telah bertaubat dengan satu taubat, seandainya taubatnya itu dibagikan kepada 70 orang dari penduduk Madinah, maka taubat itu akan mencukupinya. Apakah engkau mendapati sebuah taubat yang lebih utama dari pengorbanan dirinya untuk Allah?” (HR. Ahmad).

Demikianlah kisah pertaubatan yang begitu agung. Sungguh, hanya Allah yang Maha memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Satu hikmah besar yang bisa kita petik dari kisah di atas ya, Sobat, bahwa sebagaimana sifat manusia yang sangat lekat dengan salah dan dosa kita tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Seberapa banyak dan besar dosa yang kita kerjakan, kita harus senantiasa yakin ketika kita bertaubat dengan sungguh-sungguh (taubatan nasuha), niscaya Allah akan mengampuninya. Sebagaimana Allah telah berfirman, ““Katakanlah: “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar:53). Tapi, ingat, ya Sob, jangan sampai kita meremehkan dosa! Dosa yang diremehkan akan membuatnya menjadi dosa besar. Na’udzubillah…Wallahu’alam.

Ar-Rayyan Edisi Desember 2015

Advertisements