Seseorang pasti pernah merasakan sukses (namun terkadang ia tiada menyadari), sebaliknya ia juga pernah mengalami kegagalan dalam kehidupannya. Namun sebelum gagal atau sukses pasti ia melalui sebuah proses atau dengan kata lain ia pasti berusaha dulu. Kebanyakan orang sekarang adalah berusaha mencari harta sebanyak-banyaknya tanpa mempedulikan caranya, demikian juga dalam mencari keuntungan setinggi-tingginya, juga menuruti hawa nafsu semaunya, akibatnya, ia membolehkan pacaran, membolehkan riba, membolehkan yang jelas-jelas suatu kemaksiatan. Bukan salah untuk kemudian berusaha mencari keuntungan atau menjemput rizki. Namun yang perlu ditekankan adalah caranya, harus cara yang sesuai dengan aturan dalam Islam (syariat Islam). Karena kita adalah seorang muslim, hamba Sang Pencipta, seyogyanya kita patuh kepada yang telah menciptakan kita.

Wahai saudaraku! Berusahalah, berjuanglah hanya untuk beribadah kepada Allah, tidak mengapa kita berdagang, sekolah, belajar, kuliah, tapi yang harus kita ingat adalah niat kita untuk beribadah kepada Allah. Karena di dunia ini kita hanya sekedar mampir, tak lebih dari sebentar saja. Dalam faktanya, telah banyak orang yang meninggal yang mendahului kita, dalam Al Qur’an Allah berfirman: “Tiap – tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran:185). Maka sudah barang tentu, kita! kita! kita! akan merasakan mati. Dari itu perbanyaklah amal sholeh untuk memudahkan kita menerima kitab (catatan amal) dari tangan kanan kita.

Nantinya, setelah manusia (mukmin) meninggal dunia ia akan melewati beberapa tahapan, alam kubur, hari kebangkitan (yang dikumpulkan dipadang mahsyar), syafaat, hisab, pembagian catatan amal, mizan, telaga, ujian keimanan seseorang, melewati sirath (jika jatuh maka ia jatuh ke dalam neraka, jika melewati maka ia masuk dalam surga). Namun pahamilah, dari semua proses ini tidaklah sebentar namun sangat, sangat lama. Namun saat menerima buku catatan amal inilah suatu keadaaan yang sangat mencekam, menegangkan dan merisaukan hati setiap manusia. Sungguh, hati saat itu sangat berdebar kencang, cemas dan tidak karuan, dan memikirkan apakah catatannya berisi amal baik ataukah amal buruk.

Dari Aisyah r.a, bahwasanya ia mengingat neraka hingga ia menangis. Maka Rasulullah bertanya, “Kenapa engkau menangis?” Aisyah menjawab: “Aku ingat neraka, maka aku menangis. Apakah di hari kiamat kelak anda masih ingat istri-istri anda?” Rasulullahn bersabda : Adapun dalam tiga keadaan, maka tiada seorangpun yang mengingat orang lain yaitu: 1. Ketika menghadapi mizan (timbangan amal) sehingga ia mengetahui apakah buku catatan amalnya ringan ataukah berat? 2. Ketika dibagikan buku catatan amal, sehingga ia mengetahui dimana terletak kitabnya, apakah di sebelah kanannya atau di sebelah kirinya atau dari belakang? 3. Dan ketika sirath diletakkan di atas dua tepi punggung jahanam sehingga ia berhasil melewatinya”. (HR. Abu Daud, Al Hakim)

Adapun seseorang akan menerima buku catatan amalnya, dengan terbagi menjadi dua kelompok,

  1. Orang mukmin yang shalih

Buku catatan amal yang diberikan kepadanya dari depan dan tangan kanannya, sungguh setelah menerima itu ia merasa bahagia dan bergembira, sebagaimana dijelaskan keadaannnya dalam Al Qur’an: adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya. Maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah. Dan dia akan kembali kepada kaumnya(yang sama-sama beriman) dengan gembira. (Al Insyiqaq : 7-9). masyaAllah, kami mengharap kerihoanMu ya Allah, mengharap cintaMu, agar Engkau memberikan kemudahan bagi kami dalam menerima catatan amal dari sebelah kanan. aamiin

  1. Orang kafir, munafik dan pendosa

Buku catatan amal yang diberikan kepadanya dari belakang dan tangan kirinya. Saat membaca dan meneliti buku catatan amalnya, mereka akan gemetar ketakutan dan berteriak dengan keras, karena mereka tahu kecelakaan dan siksa neraka akan menyambutnya. Maka pada saat itu mereka menyesal, namun pada hari itu penyesalan tiada berguna sedikitpun, sebagaimana dijelaskan keadaan mereka dalam Al Qur’an: “Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang. Maka dia akan berteriak, celakalah aku. Dan dan dia akan masuk ke dalam api yang ,menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya dia dahulu (didunia) bergembira di kalangan kamunya(yang sama-sama kafir). Sesungguhnya dia menyangkan bahwa dia sekali-kali tidak akan kembali (kepada Rabbnya). Bukan demikian yang benar, karena sesungguhnya Rabbmu selalu melihatnya”. (Al Insyiqaq : 10-15)

    Demikianlah gambaran yang sangat jelas, maka akankah kita termasuk orang-orang yang menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk kesenangan sementara yang akhirnya buruk, atau kita memanfaatkan hidup ini hanya untuk kesusahan sementara yang akhirnya baik. Maka ayo kita bersama-sama untuk membuat catatan amal kita penuh dengan kebaikan, penuh dengan amal yang sholeh. Dan kemudian menghindari yang nantinya menjadi catatan buruk bagi kita. Wallahu ‘alam bisshowab.

Penulis: Mohammad Said as Syamsuri

Advertisements