Sobat AeR, coba bagaimana selama ini sobat mengukur yang namanya kesuksesan? Tentunya kita penting untuk mengetahui tolak ukur kesuksesan. Mengapa? Karena pasti setiap orang punya standar yang beda-beda tentang kesuksesan. Ada yang merasa sukses saat sudah meraih impiannya, ada yang berfikir kekayaan sebagai wujud kesuksesan dirinya, ato mungkin juga ada yang merasa sukses saat mampu membahagiakan orang tuanya. Namun kebanyakan orang akan merasa sukses saat mereka mampu menumpuk harta. So, kali ini kita akan ngebahasnya lebih dalam.

Seorang muslimah lulusan sarjana ekonomi, menganggap dirinya belum sukses meskipun kemampuan mendidik buah hatinya sangat dibutuhkan dirumah. Menurutnya, bekerja sebagai seorang akuntan disebuah perusahaan ternama dan mendapat gaji yang besar adalah kesuksesannya. Sedangkan mendidik anak di rumah tidak dianggap bentuk kesuksesan karena tidak mendapatkan gaji (materi). Muslimah tadi merupakan satu dari sekian banyak contoh manusia yang salah dalam meletakkan standart kesuksesan. Contoh lain misalnya, banyak orang tua menyekolahkan anaknya setinggi mungkin agar menjadi orang sukses kaya. Dampaknya, anak merasa terbebani dengan cita-cita orang tua yang cenderung materialistic sehingga segala jalan ditempuh sang anak untuk memperoleh nilai terbaik dikelas, nyontek misalnya. Bahkan orang tua cenderung merasa bangga ketika anaknya jadi seorang polisi, pilot, artis, dll. Coba kalian survey ada ga orang tua yang pengen anaknya jadi ustadz/ustadzah? Ato jadi hafizd kali?

Hal itu terjadi karena semua dinilai dari segi materi. Mayoritas standar kebahagian kaum muslimin sekarang adalah duniawi dan mengesampingkan orientasi akhirat. Ditambah di era kapitalis saat ini, kebutuhan manusia tidak ada habisnya untuk minta dipenuhi. Gaya hidup hedonis (berlebihan dan mermewah-mewahan), menjadi gaya hidup kaum muslim padahal islam mengajaran untuk hidup zuhud. Kita sering mendengar istilah sekulerisme. Apakah sekulerisme itu? Sekulerisme adalah sebuah paham yang memisahkan urusan dunia dengan urusan akhirat. Sehingga dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya muslim cenderung mengabaikan syariat-syariat-Nya. Akhirnya banyak bermunculan muslim tapi korupsi, muslim tapi berzina, muslim tapi mencuri dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana standart sukses dalam Islam? Pertama kita harus percaya bahwa Islam adalah kunci sukses kehidupan. Ketika Islam menolak sekulerisme dan hedonisme, bukan berarti Islam menganggap keberadaan materi seperti uang, ataupun kekayaan menjadi suatu hal yang tidak penting. Dan juga bukan berarti Islam melarang umatnya mencari materi (uang, dsb). Hanya saja Islam menempatkan materi sebagaimana sifatnya sebagai materi yaitu sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan manusia dan bukan menjadi satu-satunya hal yang hendak diraih dalam kehidupan manusia. Sebab Islam memandang manusia hidup di dunia untuk menjalankan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah swt. Sehingga tujuan dari segala tujuan hidup manusia adalah mendapatkan ridho dariNya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Ad-Dzariyat: 56).

Manusia diperkenankan mencari materi dengan cara-cara yang disyariatkan oleh Allah dan tidak dengan menghalalkan segala cara. Memperoleh sedikit materi dengan jalan sesuai syariat Allah merupakan kesuksesan daripada memperoleh banyak  materi namun menghalalkan segala cara. Oleh sebab itu, hendaklah selalu mengarahkan kehidupan sesuai dengan arahan ajaran Islam (syariat Islam) dan meninggalkan arahan ajaran kehidupan yang tidak sesuai dengan Islam (sekululer, hedonis, liberalis, dsb). Rasulullah bersabda:

“Demi Allah, bukan kemaksiatan yang aku khawatirkan menimpa kalian, melainkan aku khawatir akan digelarkan dunia ini sebagaimana telah digelarkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengenainya sebagaimana mereka berlomba-lomba tentangnya, dan duniapun nanti akan membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka” (HR. Syaikhain dan Turmudzi)

Keberadaan materi tidak bisa dijadikan sebagai ukuran kesuksean hidup seseorang. Demikian juga keberadaan pekerjaan untuk mencari materi dan penghasilanpun tidak bisa dijadikan ukuran kesuksesan. Orang yang kita pandang bergelimang harta, tidak bisa kita katakan sukses jika harta yang dia peroleh dari cara yang dibenci Allah, begitu juga sebaliknya. Kesuksesan hidup diukur dari sejauh mana keterikatan manusia dalam melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah swt. yang mereka wujudkan dalam kehidupan di dunia dengan dorongan karena ketakwaannya kepada Allah swt. Jadi kunci sukses adalah keimanan kita kepada Islam yaitu memiliki keyakinan yang kuat dan benar terhadap aturan Islam serta menerapkannya disetiap hembusan nafas. Wallua’lambissshawab. [R]

Ar-Rayyan Edisi April 2016

Advertisements