Bagi sebagian umat Islam saat ini, menyandang nama islam saja seakan ga’ cukup, karena kita akan segera ditanya islam apa kita, karena diluar sana ada banyak atribut Islam yang mengkotak-kotakkan kaum muslim. Ada Islam Liberal, Islam tradisional, Islam garis keras, Islam nasionalis bahkan ada Islam Nusantara. Bukankah Allah telah berfirman, “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19).

Ya.. yang diridhai Allah hanyalah Islam dan itu sebenarnya sudah cukup tanpa perlu menambah atribut apapun. Ditengah hiruk pikuk atribut islam dan saling klaim sesama umat Islam, muncul nama ahlus sunnah wal jamaah. Istilah yang cukup tua sebetulnya tapi kembali populer karena klaim bahwa antara semua atribut Islam, Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaahlah (Aswaja) adalah yang paling benar, paling murni, dan yang akan selamat.

Istilah ini memang sengaja dipopulerkan oleh para ulama karena berkembangnya berbagai paham yang menyimpang dari ajaran Islam. Penggunaan kata ahlussunnah sebenarnya untuk membedakan dan memberikan klarifikasi terhadap profil orang yang digunakan dalam periwayatan hadist karena tidak sembarang orang bisa dipercaya dalam periwayatan hadist.

Sebut saja diantaranya kelompok khawarij yang mengkafirkan pelaku dosa besar bahkan mentargetkan membunuh shahabat nabi Khalifah Ali bin Abi Tholib, Muawwiyah bin abi sufyan dan Amr bin Ash. Muktazilah yang berkeyakinan bahwa Alquran adalah makhluk bukan firman Allah ta’ala. Paham ini begitu menjunjung tinggi rasionalitas yang kebabalasan. Inilah yang kemudian memicu ucapan Muhammad bin Sirrin agar mempertanyakan setiap profil yang ada dalam mata rantai periwayatan hadist sebagaimana yang terdapat dalam muqaddimah kitab Shahih Muslim.

Selanjutnya Ahlus sunnah waljamaah disingkat menjadi sunni. Inilah Islam sesungguhnya yang berkembang di Indonesia, Ahlus Sunnah Wal Jamaah berasal dari bahasa arab yang jika dibedah maka akan terdapat tiga kata yaitu Ahlu, Sunnah, dan Jamaah. Ahlu berarti golongan atau kelompok, sedangkan Sunnah adalah sesuatu yang bersumber dari Rasulullah, dan kata Jamaah adalah bersama-sama atau bersatu. Dengan demikian ahlus sunnah adalah kelompok atau orang-orang yang mengikuti sunnah nabi ﷺ dan menjaga kesatuan barisan kaum muslimin. Berdasarkan susunan kalimatnya maka ada dua ciri utama yang melekat pada ahlus sunnah yaitu mengikuti Rasulullah ﷺ dan menjaga persatuan.

Menelaah hadist atau ayat yang berkaitan dengan sifat-sifat ahlus sunnah maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa ahlus sunah waljamaah adalah islam itu sendiri dan Islam itu adalah Ahlus sunnah. Hanya saja dikemudian hari ada pihak-pihak yang membuat interpretasi yang menyimpang dari ajaran Islam dengan mengatasnamakan Islam. Berikut beberapa persoalan yang dijadikan objek penyimpangan paham lain dan penjelasan paham ahlus sunah dalam perkara tersebut.

Pertama, tentang Alquranul karim, Ahlussunah waljamaah meyakini bahwa Alquran adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad ﷺ melalui perantara malaikat jibril dan keseluruhan Alquran telah disampaikan Nabi Muhammad kepada Ummatnya tanpa kurang satu huruf pun. Alquran adalah satu-satunya kitab suci umat Islam. Jadi jika ada yang mengatakan Alquran kurang sempurna berarti sama saja menuduh Nabi Muhammad mengkhianati risalah kenabian yang Allah amanahkan atau meyakini ada kitab atau buku lain yang lebih mulia atau setara dengan Alquran adalah menyalahi prinsip Ahlussunnah waljamaah.

Kedua, tentang sunnah atau hadist nabi adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad ﷺ baik perkataan, perbuatan, ketetapan, ataupun diamnya. Hadist merupakan sumber hokum kedua dalam ajaran Islam. Alquran tidak bisa dipisahkan dari hadist dan demikian sebaliknya. Allah berfirman, “Katakanlah: Jika memang kamu cinta kepada Allah, maka turutkanlah aku, niscaya cinta pula Allah kepada kamu dan akan diampuniNya dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi penyanyang.“ (QS. Ali Imran: 31)

Ketiga, tentang shahabat nabi. Shahabat nabi ﷺ adalah orang-orang yang bertemu langsung dengan nabi, mereka beriman kepada beliau dan kemudian teguh mempertahankan keimananya sampai mereka gugur. Ahlussunah menghormati seluruh shahabat nabi tanpa terkecuali.

Keempat, tentang nabi terakhir. Ahlus sunah waljamaah meyakini Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi, setelah beliau tidak ada lagi nabi. Siapapun yang mengaku nabi setelah beliau maka itu adalah dusta, bagian dari mata rantai dajjal.

Kelima, tentang Iman. Ahlussunah waljamaah meyakini bahwa iman terdiri dari keyakinan, perkataan, dan perbuatan. Iman bukanlah sifat yang stagnan, iman bisa berfluktiasi naik dan turun. Iman akan naik karena ketaatan kebaikan dan akan turun karena perbuatan dosa dan perbuatan maksiat. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal: 2).

Iman juga memiliki prinsip dan rukun. Selama prinsip tersebut masih diyakini oleh seorang muslim maka ia berada dalam naungan iman. Dengan demikian seorang muslim yang melakukan maksiat atau dosa besar tidak serta merta bisa dikatakan kafir bahkan perbuatan kafir sekalipun tidak serta merta menyebabkan orang menjadi kafir, seseorang dinyatakan kafir atau murtad jika telah terpenuhi syarat-syaratnya. Ahlussunah waljamaah meyakini rukun Iman dan rukun Islam. Ajaran ahlussunah wal jamaah adalah ajaran yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ dan Ahlussunnah adalah umat Islam yang mengikuti Rasulullah ﷺ dan para shahabatnya, mereka adalah umat yang selalu berjuang dan berdakwah menyebarkan Islam keseluruh penjuru bumi dalam setiap masa hingga akhirnya cahaya Islam bisa dirasakan diseluruh penjuru dunia. Ahlussunah meski berada diberbagai ormas, madzhab yang berbeda, mengaji pada guru yang berbeda tapi mereka loyal kepada Islam yang satu. Islam yang bermuara pada Alquran dan sunnah, mereka tidak mengklaim kebenaran untuk kelompoknya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah tidak akan membuat umat ini sepakat diatas kesesatan. Ikutilah mayoritas umat ini karena menyelisihi mereka akan berada di neraka” (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Ahlussunnah selalu menjaga persatuan, tidak saling menyalahkan, tidak saling memvonis sesat sesama muslim. Ahlussunnah bukanlah sekumpulan orang suci yang tidak bisa berbuat salah, mereka bisa salah mereka bisa khilaf tetapi bukan kesalahan dan kekhilafan yang melanggengkan kebathilan dan menumbuhkan kesesatan. Ahlussunnah selalu menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Sesama ahlussunnah bisa saja berbeda pendapat tapi perbedaan itu tidak menjadikan mereka saling bermusuhan, saling membenci bahkan saling menyesatkan. Jika berbeda, mereka berargumen secara beradab tanpa menyakiti atau merendahkan. Ahlussunnah waljamaah inilah yang menjadi jalan para ulama yang lurus dan ikhlas dari dahulu hingga sekarang.

Di Indonesia perjuangan Ahlussunnah dilakukan oleh para wali yang merupakan utusan khalifah dimasa itu untuk meyebarkan Islam di bumi Nusantara, kemudian dilanjutkan oleh para ulama dan para pahlawan muslim. KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, Buya Hamka dan para ulama lainnya yang telah memperjuangkan jalan Ahlussunnah waljamaah. Semoga Allah merahmati mereka semua.

Mayoritas umat Islam Indonesia adalah ahlussunah waljamaah. Meskipun banyak kelompok dakwah di negeri ini, janganlah kita sibuk dengan klaim paling benar atau paling sesuai sunnah, tetaplah beramal sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulullah. Beda organisasi, beda pesantren/ma’had, beda pengajian, beda majlis taklim, beda kyai/ustadz bukan alasan untuk berpecah belah tapi ia adalah alasan untuk bersinergi dan bekerja sama.

Perbedaan pendapat tidak mungkin bisa dihilangkan, diskusikan dengan hangat dan penuh keakraban tak perlu caci maki dan umpatan, tetaplah beramal sesuai yang diyakini. Jika ijtihad sudah dilakukan dalam koridor yang benar maka inshaAllah tetap Allah berikan jalan. Berhentilah jadi buih dilautan, berhentilah jadi wayang yang didalangi pihak lain. Ahlussunnah bukanlah eksklusifitas yang dimiliki oleh kelompok tertentu, ahlussunnah adalah seperangkat prinsip dan ajaran yang bisa dimiliki umat islam manapun selama konsisten dengan prinsip dan keyakinannya, yaitu tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur’an dan sunnah. Ahlussunnah tidak dibatasi oleh teritorial tertentu ataupun waktu tertentu, ahlussunah waljamaah adalah Islam dan Islam adalah ahlussunnah. Wallahua’lambisshawab. (HA)

Advertisements