Ramadhan merupakan bulan pembelajaran, di bulan tersebut banyak masyarakat bersemangat dalam melakukan amal ibadah bahkan sangat enggan dalam melakukan kemaksiatan. tetapi bagaimana kondisi masyarakat setelah Ramadhan tersebut berakhir? Terdapat 2 kondisi/fenomena apabila Ramadhan telah berakhir/bulan Syawal, yaitu :
1. Kondisi seseorang yang tetap beristiqomah dan bersemangat dalam melakukan ibadah
sebagaimana pada bulan Ramadhan.
2. Kondisi penurunan yang terjadi pada seseorang dalam melakukan amal ibadah dan kembali melakukan kemaksiatan.
Hendaklah kita termasuk ke dalam kondisi yang pertama karena tanda di diterimanya amal yaitu tetap menjaga dan selalu bersemangat dalam beribadah. Kita juga hendaknya selalu beristiqomah biarpun amal yang kita lakukan tergolong sedikit, Karena dalam suatu hadits disebutkan : “Amal yang lebih disukai Allah yang tetap dikerjakan, biarpun sedikit”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam bulan Ramadhan kita dilatih untuk menjadi hamba yang bertaqwa. Dengan berakhirnya bulan Ramadhan ini bagaimana cara kita mengukur apakah diri kita telah bertaqwa atau tidak? Allah dalam Al-Quran telah menyebutkan ciri-ciri orang yang bertaqwa, yaitu:

Pada surah al-Baqarah yang artinya, “Alif laam miin. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.  (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah : 1-5)

Dan pada surah Ali Imran yang artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri*, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS. Ali Imran : 133-136)
*Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil. Wallahua’lambisshawab.

Dirangkum oleh Ust. Muhammad Anang, S.Kom dari tausiyah Ust. Herman Anas,S.P pada acara Kajian Islam

Advertisements