Assalamu’alaikum wr. wb.

Ustadz mau nanya. Bentar lagi agustusan pasti banyak karnaval ya, ada JFC jg. Fakta di jalanan karnaval banyak peserta karnaval harus menjalani kegiatan dari habis dzuhur sampe magrib, lha shalat asarnya gimana? Bahkan siswa putri terkadang mulai antri merias wajah dan tubuh sejak sebelum subuh. Ketika dzuhur dan asar datang tidak bisa shalat karen takut riasannya rusak saat wudhu. Ada mungkin teman kita yang bilang bisa di qadha’ ato dijama’. Apakah benar? Biasanya siswa yang dtunjuk guru wajib ikut, jadi serba repot dah. Mohon penjelasannya ustadz Fitroni Hariadi, S.E. Trims.

Jawab:

Waalaikumsalam wr. wb. Alhamdulillah, Ash-sholatuwassalamu ‘ala rasulillah, Waba’du. Pertimbangan utama seorang yang beriman untuk beramal adalah pertimbangan hukum, karena setiap perbuatan seorang hamba asalnya adalah terikat dengan hokum syara’ (hukum islam), termasuk dalam hal ini adalah keputusan mengikuti karnaval. Dengan melihat fakta karnaval semacam JFC (Jember fashion Carnival) tentunya kita sudah bisa mengambil keputusan untuk menolaknya, karena sama sekali tidak memberikan manfaat bagi agama kita, bahkan justru melemahkan keimanan kita. Jika kita diminta ikut karnaval semacam JFC, maka sebaiknya menolak dengan berbagai upaya. Ingat ketaatan itu hanya untuk Allah dan Rasul-Nya, tidak ada ketaatan kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Allah.

Memang dibanyak event kegiatan sering kali yang menjadi permasalahan utama adalah pelaksanaan ibadah shalatnya, para peserta muslim banyak yang meninggalkan kewajiban shalat karena memang waktunya bersamaan dengan jam-jam shalat. Lalu, apakah boleh shalatnya dijama’ atau diqodlo’?

Menjama’ shalat sebenarnya bukan saja hanya untuk orang musafir, tetapi boleh juga dilakukan orang yang sedang sakit, atau karena hujan lebat atau banjir yang menyulitkan seorang muslim untuk bolak-balik ke masjid. Dalam keadaan demikian kita dibolehkan menjama’ shalat. Ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, bahwasanya Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjama’ shalat Dhuhur dengan Ashar dan shalat Maghrib dengan Isya’ di Madinah. Imam Muslim menambahkan, “Bukan karena takut, hujan dan musafir”.

 

Imam Nawawi dalam kitabnya Syarah Muslim, V/215, dalam mengomentari hadits ini mengatakan, “Mayoritas ulama membolehkan menjama’ shalat bagi mereka yang tidak musafir bila ada kebutuhan yang sangat mendesak, dengan catatan tidak menjadikan yang demikian sebagai tradisi (kebiasaan). Pendapat demikian juga dikatakan oleh Ibnu Sirin, Asyhab, juga Ishaq Almarwazi dan Ibnu Munzir, berdasarkan perkataan Ibnu Abbas ketika mendengarkan hadist Nabi di atas, “Beliau tidak ingin memberatkan umatnya, sehingga beliau tidak menjelaskan alasan menjama’ shalatnya, apakah karena sakit atau musafir”. Dan menjama’ shalat karena sebab hujan adalah terkenal di zaman Nabi. Itulah sebabnya dalam hadist di atas hujan dijadikan sebab yang membolehkan untuk menjama’, (Al Albaniy, Irwa’, III/40).

Jadi, dibolehkannya shalat jama’ harus disertai dengan udzur syar’i, sedangkan suatu kemaksiatan tidaklah bisa dijadikan alasan/rukhsoh. Sehingga JFC/semacamnya bukanlah udzur syar’i karena didalamnya terdapat beberapa kemaksiatan seperti, 1) Tabarruj, pamer kecantikan, berjalan berlenggak lenggok di depan lawan jenis. 2) Tabdzir, berlebihan dan menghamburkan anggaran, 3) Menyebabkan banyak orang meninggalkan kewajiban agamanya seperti shalat.

Bagaimana dengan qodlo’ shalat? Pada prinsipnya shalat yang kita tinggalkan baik sengaja, tidak disengaja, lupa atau tertidur maka wajib baginya mengqodlo’(mengganti) shalatnya yang tertinggal.

Wallahua’lambishshowab.

Advertisements