Manusia dewasa ini semakin berlomba-lomba untuk meraih kekayaan sebanyak-banyaknya dengan segala macam cara untuk mencapai tujuannya, termasuk dengan cara riba. Benarlah sabda Rasulullah ﷺ, “Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari).

Meminjam uang di bank, berarti melakukan transaksi riba dengan bank. Karena pada saat meminjam ke bank, dia menyetujui nota kesepakatan adanya penambahan ketika pelunasan (bunga). Dan itu riba.

Meskipun riba itu belum diberikan pada saat dia menerima pinjaman. Tapi dia telah berkomitmen, dirinya akan memberikan riba ketika pengembalian.

Jabir ra. berkata, “Rasulullah telah melaknati pemakan riba, orang yang memberikan/membayar riba (nasabah), penulisnya (petugas pencatat), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya’.” (HR. Muslim).

“Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya.” (HR. Thabrani).

Jadi, meminjam uang ke bank meskipun untuk tujuan usaha yang halal, statusnya terlarang. Karena bagaimanapun bank akan mempersyaratkan riba. Lalu bagaimana bila kita akan mengembangkan usaha dan butuh banyak uang sebagai modal? Kita bisa melakukan aqad murabahah. Seperti apa murabahah? Simak yuk sob…

Murabahah menurut istilah adalah salah satu bentuk jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam pengertian lain Murabahah adalah transaksi penjualan barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan (margin) yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Hal inilah yang membedakan Murabahah dengan jual beli lainnya yaitu penjual harus memberitahukan kepada pembeli harga barang pokok yang dijualnya serta jumlah keuntungan yang diperoleh. Dan hal ini diperbolehkan dalam islam. “Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.” (HR. Baihaqi, Ibnu Majah).

Misalnya Ahmad ingin mengembangkan toko elektroniknya. Dia butuh uang 75 juta untuk menambah jumlah barang dagangannya seperti TV, lemari es, mesin cuci, dll. Ahmad bisa datang ke lembaga keuangan syariah/ sahabatnya yang kaya, bersepakat melakukan aqad murabahah. Ahmad akan menunjukkan tempat dimana ia akan beli barang elektronik lalu dia memilih semua barang yang ia butuhkan. Kemudian dia sampaikan kepada pemberi modal (lembaga keuangan syariah/sahabatnya). Lembaga tersebut yang akan membayar barang-barang tadi dengan tunai. Setelah jual beli selesai sempurna lembaga akan menjual lagi seluruh barang kepada yang membutuhkan (Ahmad) dengan menyampaikan berapa keuntungan yang akan didapat oleh lembaga. Ahmad akan membayar barang tadi dengan kredit (angsur) sesuai kesepakatan dengan pihak lembaga.

Jadi barang yang Ahmad butuhkan akan dipenuhi oleh lembaga dalam bentuk barang dan Ahmad membayarnya dengan kredit sehingga Ahmad tidak meminjam ke lembaga melainkan melakukan aqad jual beli. Aqad seperti ini disebut murabahah dan statusnya diperbolehkan. Meskipun ujungnya hampir sama yaitu Ahmad harus membayar angsuran tiap bulan tetapi aqad murabahah jelas berbeda dengan aqad pinjam uang yang melahirkan bunga.

Aqad murabahah juga bisa diterapkan ketika kita ingin kredit sepeda motor, handphone, elektronik, rumah, dsb. Saat ini sudah mulai banyak orang-orang yang melayani aqad murabahah. Kita juga bisa temukan produk murabahah di lembaga keuangan syariah seperti bank syariah, dll. Namun kita harus jeli memeriksa agar setiap transaksi yang kita lakukan sah dan halal. Jangan kita opo jare (pasrah apa kata lembaga/pemberi jasa, red) karena berdasar pengalaman penulis tidak semua pegawai paham dengan aqad murabahah, ada yang menyamakannya dengan pinjaman. Jelas ini akan berbahaya ketika nanti terjadi kesalahan dalam aqadnya. Semoga bermanfaat ya Sob, kalau ada yang kurang jelas bisa tanya di rubrik konsulasi atau hubungi FB Ar-Rayyan. Wallahua’lambisshawab. [Z]

Advertisements