Alhamdulillah, allahumma sholli ‘ala Muhammad. Sobat AeR yang dirahmati Allah, kami akan sedikit berbagi tentang kisah kasih Rasulullah kepada kita (umatnya) dan sikap kita kepada beliau, harus bagaimana? Biar berkah yuk bismillah.

1. Cinta Umatnya

Rasulullah ﷺ adalah utusan Allah yang terakhir, setelahnya tidak ada lagi seorang Nabi dan atau Rasul. Sudah biasa ketika Allah mengutus seorang Nabi dan atau Rasul ditengah-tengah masyarakat jahiliyah, untuk menyeru “tauhid”. Menyeruh hanya kepada Allah saja manusia beribadah.

Mengajak pada Islam. Ini bukti awal, bahwa Rasulullah mencintai umatnya. Contoh sederhananya pada diri kita sendiri, jawablah dengan jujur, ketika seorang Ibu menyuruhmu sholat, apakah dia membenci atau mencintaimu?

Maka ketika Rasulullah mengajak umatnya untuk memeluk Islam, mentauhidkan Allah, beribadah kepada Allah, berpuasa, meninggalkan yang haram. Apakah beliau membenci atau mencintai umatnya? MasyaAllah, jawaban sobat AeR benar.

Ummatii, ummatii, ummatii. Ini bukti yang lain, bahwa Rasulullah mencintai umatnya. Diluar pintu terdengar salam, kemudian Az-Zahra pun menjawab, “wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh”, siapakah yang diluar? Terdengar dibalik pintu, “Saya sudah datang, salamkan kepada Rasulullah aku sudah datang”. Kemudian Az-Zahrah berkata, “Ya, Rasulullah diluar ada tamu”. Lalu, Rasulullah menatap wajah putrinya itu secara mendalam seolah hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut”, kata Rasulullah. Mendekatlah malaikat maut. Kemudian Rasulullah bertanya mengenai haknya dihadapan Allah. Malaikat maut pun menjawab yang semua isinya kabar gembira, tentang kenikmatan Surga. Tapi, belum membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak? Jangan khawatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: “Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya”. Kemudian badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Berkata dengan tenaga seadanya, Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku [peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu). Lalu beliau bersabda, Ummatii, ummatii, ummatiii (Umatku, umatku, umatku].

2. Mencintai Rasulullah

Hakikatnya kita lah yang butuh akan Rasulullah (butuh bimbingannya, butuh syafa’atnya). Umar pernah berkata kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apa pun kecuali diriku”. Maka dijawab: “Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu”. Lalu Umar berkata, “Demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku”. Maka Rasulullah bersabda, “Sekarang (engkau benar), wahai Umar”.

Mencintai Rasulullah berarti mengikuti pola hidupnya, tutur katanya, akhlaknya, mencintai apa yang dicintainya, membenci apa yang dibencinya, dan yang semisal. Hakikat menjalankan perintah Rasulullah adalah hadirnya Rasulullah di hati kita. Misal, ketika wudhu, maka hadirkan Rasulullah dihati kita, tidak hanya sekedar berwudhu.

3. Cinta Dia Bersama Dia

Suatu ketika dalam pengajian Rasulullah menyampaikan kabar kiamat yang dahsyat, mengerikan, suasana menjadi ramai dengan isak tangisan shahabat. Tiba-tiba salah seorang bertanya, “Ya Rasulullah kapan akan terjadi kiamat?”. Dengan heran Rasulullah menoleh, [semua pada menangis dia kok malah nanya kapan kiamat, barangkali dia banyak amalan]. “Lalu apa yang engkau persiapkan?”, tanya Rasulullah. Dia menjawab, “Ya Rasulullah, aku bertanya karena aku tidak memiliki harta banyak sehingga bisa bersedekah karenanya, juga ibadahku sangatlah sedikit, kecuali kecintaanku kepadamu ya Rasulullah”. Mendengar jawaban orang itu Rasulullah menghadapkan wajah dan badan ke orang tersebut dan tersenyum, “anta ma ‘aman ahbabta” engkau bersama orang yang engkau cintai. MasyaAllah, ini adalah kabar gembira untuk orang itu, dan para shahabat dan juga kita yang ada saat ini.

Ini adalah modal kita untuk bersanding dengan beliau, kalau kita menumbuh suburkan makna kecintaan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya cinta butuh bukti. Ketika kita cinta kepada Rasulullah ﷺ mari kita mengikuti sunnah dan mengamalkannya. Wallahua’alam bisshowab. [ASM]

Advertisements