Sobat, di negeri kita ini, seringakali diingatkan peristiwa-peristiwa bersejarah yang dipelopori oleh para pemuda seperti peristiwa Sumpah Pemuda dan perlawanan arek-arek Suroboyo. Tau ga’ sih? Islam juga punya pemuda-pemuda hebat yang turut serta dalam dakwah Rasulullah ﷺ dalam membawa risalah Islam. Salah satunya adalah Usamah bin Zaid bin Haritsah.

Pada tahun ketujuh sebelum hijrah, saat Rasulullahﷺ tengah resah dalam menghadapi tekanan kaum Quraisy yang terus menerus berupaya menyakiti beliau dan para sahabat, tiba-tiba seberkas cahaya memancar memberikan hiburan yang menggembirakan. Seorang pembawa berita mengabarkan kepada beliau, “Ummu Aiman melahirkan seorang bayi laki-laki.” Wajah Rasulullah berseri-seri karena gembira menyambut berita tersebut.

Siapakah bayi itu? Mengapa Rasulullah begitu gembira mendengar kabar kelahirannya? Itulah dia, Usamah bin Zaid putra dari Ummu Aiman, wanita yang telah menemani, merawat dan membesarkan Rasulullah sepeninggal ibu kandung beliau, Aminah.  Rasulullah menyayangi Ummu Aiman layaknya ibu kandung. Beliau sering berucap, “Ummu Aiman adalah ibuku satu-satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu-satunya keluargaku yang masih ada.” Adapun bapaknya adalah kesayangan Rasulullah, Zaid bin Haritsah. Rasulullah pernah mengangkat Zaid sebagai anak angkatnya sebelum ia memeluk Islam. Dia menjadi sahabat beliau dan tempat mempercayakan segala rahasia. Dia menjadi salah seorang anggota keluarga dalam rumah tangga beliau dan orang yang sangat dikasihi dalam Islam.

Rasulullah sangat menyayangi Usamah yang sebaya dengan cucu Rasulullah, Hasan binti Fatimah az-Zahra. Saat Usamah beranjak remaja, sifat-sifat dan pekerti yang mulia sudah kelihatan pada dirinya, yang memang pantas menjadikannya sebagai kesayangan Rasulullah. Dia cerdik dan pintar, bijaksana dan pandai, takwa dan wara. Ia senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela.

Saat terjadi Perang Uhud, Usamah bin Zaid datang ke hadapan Rasulullah ﷺ beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak karena usianya masih sangat muda. Usamah bin Zaid termasuk kelompok anak-anak yang ditolak. Karena itu, Usamah pulang sambil menangis. Selanjutnya, saat Perang Khandaq, Usamah bin Zaid datang lagi bersama kawan-kawannya. Usamah berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi agar beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Karena itu, beliau mengizinkannya, Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun.

Saat Perang Hunain, tentara muslimin terdesak sehingga barisannya menjadi kacau balau. Tetapi, Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-sama dengan ‘Abbas (paman Rasulullah), Sufyan bin Harits (anak paman Usamah), dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia. Dengan kelompok kecil ini, Rasulullah berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan. Beliau berhasil menyelamatkan kaum muslimin yang lari dari kejaran kaum musyrikin.

Dalam Perang Mu’tah, Usamah yang masih berusia 18 tahun turut berperang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Usamah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tatkala ayahnya gugur sebagai syuhada. Tetapi, Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan, dia terus bertempur dengan gigih hingga akhir. Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah swt. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (Syria) dengan mengenang segala kebaikan almarhum.

Pada tahun kesebelas hijriyah, menjelang wafatnya, Rasulullah menurunkan perintah penyerangan kepada pasukan Rum. Rasulullah mengangkat Usamah bin Zaid yang belum genap 20 tahun menjadi panglima seluruh pasukan yang akan diberangkatkan. Namun, sebelum pasukan diberangkatkan Rasulullah saw. terlebih dahulu wafat sehingga pemberangkatan tertunda. Awalnya, kaum muslimin tidak setuju dengan pengangkatan Usamah bin Zaid sebagai panglima karena usianya yang terlalu muda. Namun, Khalifah Abu Bakar tetap menjalankan sebagaimana pesan Rasulullah, sehingga dua hari sepeninggal Rasulullah, pasukan Usamah diberangkatkan ke perbatasan Syam. Hanya selama sekitar empat puluh hari, pasukan Usamah kembali ke Madinah dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar, dan tanpa jatuh korban seorang pun. Usamah kembali dari medan perang dengan kemenangan gemilang. Sepanjang hidupnya, Usamah bin Zaid berada di tempat terhormat dan dicintai kaum muslimin. Karena, dia senantiasa mengikuti sunah Rasulullah dengan sempurna dan memuliakan pribadi Rasul. Setelah menjalani hidupnya bersama para sahabat, Usamah bin Zaid wafat tahun 53 H / 673 M pada masa pemerintahan khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan ra.

Sobat, demikianlah kisah Usamah bin Zaid, seorang pemuda yang berani dalam membela agama Allah tanpa mempedulikan sesuatu yang mengancam jiwanya. Kita patut meneladani semangat beliau dalam membela Islam dan membantu dakwah Rasulullahﷺ. Semoga sobat semua bisa menjadi pemuda-pemudi generasi Islam yang kokoh imannnya, baik akhlaknya, hebat semangatnya untuk berfastabiqul khoirot. (SPSS) Salam Penuh Semangat, Sobat! Wallahua’lambisshawab.  [WD]

 

 

 

 

 

Advertisements