Belakang ini dunia maya sempat dihebohkan dengan sosok selebgram (selebriti Instagram) bernama Karin Novilda atau kerap disapa dengan sebutan Awkarin. Gadis belia berumur 19 tahun ini praktis menjadi bahan pembicaraan jagad media sosial karena gaya hidup bebas yang dilakoninya. Pemilik akun dengan followers lebih dari 675.000 ini tak segan mengunggah foto-foto dengan pakaian terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Selain itu, awkarin juga sering mempublish gaya hidup hedonis (bermewah-mewah) bersama kekasihnya yang masih duduk di bangku kelas X SMA.

Sekilas fakta tentang awkarin tersebut mungkin cukup menjadi bahan renungan bahwa perbuatan awkarin sangatlah jauh dari nilai keislaman. Akan tetapi mungkin saja pandangan kita terhadap Awkarin akan berubah setelah mengetahui bahwa Awkarin adalah siswa yang pernah mendapatkan nilai UN tertinggi ketika SMP, ditambah lagi gadis ini sudah mampu hidup mandiri dengan penghasilan yang besar dari menjadi model produk-produk bermerk. Awkarin juga mengaku bahwa dirinya sudah tidak menyusahkan orang tuanya lagi disaat banyak gadis seumuran dia yang masih menjadi beban orang tua.  Dia juga pernah menulis di salah satu akun instagramnya statemen “Nakal boleh, Bego jangan”. Bukan tidak mungkin 675.000 followersnya bisa jadi akan mengikuti jejak Awkarin dengan dalil tersebut. Mengikuti gaya hedonismenya, liberalnya, dan gaya lainnya yang jauh akan nilai keislaman.

Nah, apakah pandangan kita terhadap Awkarin bergeser? Dari pandangan bahwa gaya hidup Awkarin jauh dari nilai keislaman menjadi pandangan yang mentolelir gaya hidup Awkarin dengan alasan prestasi dunianya? Kalau pandangan kita bergeser dan cenderung menjadikan Awkarin sosok ideal menjadi penutan, berarti itu mengindikasikan bahwa kita sebagai pemuda Islam masih bingung dengan siapa sosok ideal yang harusnya menjadi teladan. Fenomena Awkarin merupakan satu dari sekian banyak fenomena yang menunjukkan tidak kenalnya pemuda Islam terhadap sosok yang harusnya menjadi contoh. Banyaknya muslim yang menjadi fans berat K-Pop, artis dan aktris Barat merupakan pemandangan yang sudah sangat umum dikalangan pemuda, dan bahkan menjadi tidak umum jika hari ini tidak ngefans dengan K-pop atau artis-artis luar negeri lainnya. Pemuda sekarang rela menangis demi melihat sosok artis yang mungkin tidak pernah menangisi mereka bahkan tidak mngenali mereka. Rela mengeluarkan uang ratusan ribu untuk mengikuti gaya hidup mereka, mulai dari cara berpakaian, model rambut, makanan favorit, yang mayoritas kita ketahui semua jauh dari nilai keislaman. Keteladanan apa yang pemuda islam cari?

Pemuda Islam berada dimasa kebingungan menjatuhkan pilihan siapa sebenarnya sosok teladan bagi mereka. Kebingungan itu terjadi karena standar kebahagian mereka terbatas pada standar kebahagiaan duniawi saja. Mereka lupa bahwa setelah kehidupan dunia ada kehidupan yang kekal. mereka tidak tahu sosok ideal sebagai teladan dunia dan akhirat. Sesungguhnya nikmat Allâh swt. kepada manusia sangat banyak. Di antara nikmat besar yang Allâh swt. anugerahkan kepada para hamba-Nya, adalah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ kepada seluruh manusia sebagai contoh atau panutan. Allah swt. berfirman:

“Sesungguhnya Allâh telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allâh mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allâh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur`ân) dan al-Hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. [Ali-‘Imrân/3: 164]

Nabi Muhammad ﷺ, beliau adalah teladan terbaik bagi kaum muslim, yang 1400 tahun lalu menangisi keadaan kita saat ini. Beliau yang mengkhawatirkan keselamatan kita, masa depan keimanan kita, walau tidak pernah berjumpa dengan kita. Meneladani Rasulullah dapat kita mulai dengan menjadikan Rasulullah sebagai tokoh idola atau orang sangat disukai. Sama seperti ketika kita mengidolakan seorang tokoh, penyanyi atau bintang dunia, tentunya kita berusaha mencari hal-hal yang disukainya untuk kita sukai juga. Dan mau melaksanakan apa yang dimintanya. Apalagi pernyataan bahwa Rasulullah adalah suri tauladan yang baik itu datangnya dari Allah yang tentunya semakin menambah keyakinkan kita. Mari kita kenali sifat-sifat Rasulullah yang patut kita contoh yaitu:

1). Shiddiq

Siddiq artinya jujur.  Sudahkah kita berlaku jujur dalam ujian sekolah? Jujur mengakui kesalahan? Dan jujur di segala aktifitas? Lalu apakah idola kita selama ini mengajarkan kejujuran pada kita? Jika tidak, patutkah kita jadikan sebagai teladan?

2). Amanah

Amanah artinya dapat dipercaya. Rasulullah tidak berbuat yang melanggar aturan Allah
swt. Rasulullah taat kepada Allah swt. Nah.. seberapa sering kita melanggar syariat Allah? Membuka aurat, pacaran, berkata kasar pada orang tua, tidak amanah menjaga kesehatan dengan merokak, minuman keras, mengkonsumsi narkoba? Apakah idola kita selama ini mengajarkan demikian?

3). Tabligh

Tabligh artinya menyampaikan. Rasulullah sangat tidak mungkin untuk menyembunyikan (kitman). Setiap wahyu dari Allah disampaikan kepada umatnya tidak ada yang ditutup- tutupi atau disembunyikan walaupun yang disampaikan itu pahit dan bertentangan dengan tradisi orang kafir. Maka dari itu segala apa yang diperintah Rasulullah maka laksanakanlah, dan segala sesuatu yang dilarang Rasulullah maka jauhilah karena semua itu berasal dari Allah tanpa ada yang disembunyikan olehnya.

4). Fathonah

Fathonah artinya cerdas. Pemuda islam harus cerdas, cerdas dalam menyaring budaya dan pemikiran yang bertentangan dengan Islam, misalnya Sekulerisme (pemisahan urusan dunia dengan akhirat), hedonisme (bermewah mewahan/boros), liberalisme (kebebasan), dan kapitalisme (menuhankan materi/uang). Kita harus cerdas dalam menanggapi statemen-statemen yang menggelincirkan umat Islam dari syariat Islam, sepeti “Nakal boleh, bego jangan” atau “ga masalah pacaran, asal rajin sholat’’, dan masih banyak lagi pemikiran yang meracuni pemuda muslim sehingga terjerumuslah generasi yang seharusnya menjadi generasi terbaik menjadi generasi terbalik.

Hanya Rasulullah teladan kita, manusia yang maksum (terjaga dari dosa), manusia yang sangat menyayangi umatnya dan khawatir akan keselamatan umatnya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Tidak ada manusia yang sempurna akhlaknya selain Rasulullah ﷺ, maka cukuplah Beliau menjadi teladan kita. Mari kita lebih mengenali Rasulullah dengan membaca perjalanan hidup beliau kemudian mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Wallahua’lambissowwab.

 

Advertisements