Makna Syukur

Syukur berasal dari kata syakara yang berarti berterima kasih, membalas jasa. Sedangkan menurut syara’, suatu pengakuan terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan ketundukan kepadanya dan mempergunakan nikmat tersebut untuk beribadah kepada Allah swt. Bahasa sederhananya, mengucapkan secara lisan agar telinga kita mendengar dan mempertegas akan hati kita untuk meyakini nikmat Allah, serta melakukan ketaatan-ketaatan. Jadi, tidak cukup dengan ucapan alhamdulillah saja.

Romantis sebatas ujung sajadah

Berjumpa dengan si ‘Masalah’, barulah kemudian ‘merayu’ Allah dengan sangat romantis pada ujung sajadah yang kita hamparkan. Itu, kita tidak sadar sobat AeR, bahwa hal semacam itu (ada masalah baru mengadu, memohon, meminta kepada Allah, sedang ketika mendapat nikmat kita ‘lupa’ akan Allah) berulang secara teratur. Kita lupa bahwa nikmat, sehat, lapang, sengsara, sakit adalah semuanya bagian dari ujian. Aneh kita ini, menganggap hanya [sengsara, sakit, terluka, dihina dll] adalah ujian.

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui” (Az Zumar: 49)

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya: 35)

Ibnu ‘Abbas r.a mengatakan, “Maksudnya, Kami akan menguji kalian dengan kesulitan dan kesenangan, kesehatan dan penyakit, kekayaan dan kefakiran, halal dan haram, ketaatan dan maksiat, serta petunjuk dan kesesatan. (Tafsiir ath-Thabari)

3 in 1 by 1 (three in one by one)

  1. Syukur Lisan

Yaitu bentuk syukur yang diucapkan dengan lisan, baik kepada Allah, juga kepada sesama manusia (berterima kasih). Syukur lisan kepada Allah sebagai buktinya adalah, kita mengucapkan kalimat alhamdulillah. Ibnu Abbas memaknai alhamdulillah adalah kalimat syukur ketika seorang hamba mengucapkannya. Ibnu Jarir dan al-Hakim, menyebutkan hadits, “Rasulullah ﷺ bersabda, apabila kalian mengucapkan “al- Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin”, dengan demikian engkau telah bersyukur kepada Allah dan Dia akan menambah ni’mat-Nya

Adapun syukur lisan kepada sesama manusia dilakukan dengan mengucapkan kata-kata pujian yang tidak berlebihan, atau juga kata-kata yang baik terhadap orang yang berbuat baik, sebagai ungkapan rasa syukur (terima kasih, red).

  1. Syukur Hati

Adalah syukur yang ada didalam hati. Dilakukan dengan mengingat nikmat atau menggambarkan nikmat yang telah diberikan Allah dengan perasaan hati. Contoh sederhana, dulu tidak punya apa-apa sekarang punya kekayaan, dulu cuma punya aba sana (dua baju satu celana) sekarang bisa memilih sesuai kehendak, dulu tidak bekerja sekarang dapat pekerjaan, dulu sering sakit sekarang ada dalam kesehatan yang berkepanjangan, kita terpenuhi sandang dan pangan sementara orang lain hidup dalam kesulitan, dan lain sejenisnya. Dengan demikian akan muncul perasaan hati untuk lebih bersyukur kepada pemberi nikmat. Al-Maraghi (I:29) menyebutkan, syukur dengan hati itu dengan melahirkan ketulusan, kemurnian hati dan rasa cinta pada Allah (al-Nashu wa al-Mahabbah).

  1. Syukur Amal

Adalah syukur dalam bentuk amal perbuatan dengan menggunakan anggota badan. Dilakukan dengan tujuan membalas nikmat atau kebaikan yang telah Allah berikan. Perlu diingat, walaupun kita sudah melakukan semua ketaatan, itu tidak akan cukup menggantikan nikmat Allah. Namun itulah salah satu cara supaya Allah ridho kepada hambaNya. Yang kemudian disebut Syukur Jawarih. Untuk itu Ibnu al-Mundzir menyebutkan, “Shalat itu adalah syukur, shaum juga syukur, seluruh kebaikan yang dilakukan atas dasar karena Allah itu adalah syukur.”

3 in 1 by 1 (three in one by one); Three [tiga syukur; lisan, hati, amal], one first [gabungan dari syukur lisan, hati, amal adalah hakikat syukur], one second [kita bisa bersyukur itu dari Allah, maka kembalikan lagi syukur kita untuk Allah, one=ahad]. Wallahua’lambisshowab.

Advertisements