Sobat, kita tentu sering mendengar kisah perjuangan para pahlawan di negeri ini saat melawan para penjajah. Nah, sebagai muslim kita juga perlu tahu lho kisah heroik pahlawan Islam dalam memperjuangkan agama Allah di muka bumi ini. Salah satunya adalah kisah pertempuran Manzikert. 

          Pertempuran Manzikert adalah sebuah pertempuran besar yang terjadi pada 483 H atau bertepatan dengan bulan Agustus 1071 antara Kesultanan Turki Seljuk dan Kekaisaran Romawi Timur Konstantinopel yang terjadi di sebuah tempat bernama Manzikert, Armenia. Pertempuran ini disebabkan oleh takluknya beberapa wilayah yang ada di dalam kekuasaan Romawi Timur oleh Turki Seljuk seperti Armenia, Georgia, dan Syam utara juga selatan.

1

Pelakon utama dalam pertempuran Manzikert adalah Sultan Alp Arslan yang dijuluki  Singa Pemberani.  Ia adalah pemegang kendali pemerintahan Turki Seljuk setelah meninggalnya Tughril Baek, pamannya. Alp Arslan dikenal sebagai orang yang cerdik, murah hati, dan cinta kaum fakir miskin. Ia juga dikenal sebagai sosok yang selalu mencari sebab-sebab kemenangan dari segi maknawi dan materi. Sebelum pertempuran Manzikert, Alp Arslan telah menaklukkan kota Aleppo yang menginduk kepada Dinasti Fathimiah yang beraliran Syiah di Mesir. Ia memaksa pemimpinnya Mahmud bin Saleh bin Muradas untuk kembali mengakui pemerintahan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di kota Baghdad. Sejak itu, nama Alp Arslan begitu ramai disebut-sebut dalam khutbah Jumat karena sejak itu pula wilayah-wilayah yang telah terbebas dari cengkraman Dinasti Fathimiyyah yang beraliran Syiah mulai meninggalkan ucapan “Hayya ‘alal ‘amal” (tambahan ini merupakan tambahan azan dalam aliran Syiah setelah ucapan “Hayya ‘alal falah”).

Pertempuran Manzikert terjadi karena Kaisar Romawi, Romanus Diogenes IV mempersiapkan pasukannya untuk menyerang dan membantai orang Islam. Menurut Ibnu Katsir, pasukan Romanus adalah pasukan gabungan yang terdiri dari Romawi, Perancis, dan Georgia. Pasukan itu terdiri dari 35 ribu Bitriq (komandan pasukan Romawi), 100 ribu penunggang kuda, 35 ribu pasukan Perancis, 15 ribu pasukan yang bermarkas di Konstantinopel, 100 ribu tukang seruling dan penggali lubang, 1000 pasukan kuda pekerja, 1400 gerobak pengangkut senjata, 200 orang yang khusus mengurus senjata tempur yang berat seperti pelempar batu dan manjaniq. Jumlah mereka kurang lebih 300 ribu. Sedangkan pasukan Alp Arslan tak lebih dari 20 ribu pasukan saja.

Ketika sang Sultan yang digelari Singa Pemberani ini melihat pasukan besar Bizantium, ia sempat gentar. Namun, gurunya bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik al Bukhari menasihati sultan,” “Sesungguhnya engkau berperang dalam membela agama yang Allah janjikan untuk menolongnya dan akan Allah menangkan atas semua agama. Saya berharap Allah telah menuliskan kemenangan ini atas namamu. Maka hadapilah mereka disaat para khatib Jum’at sedang berdoa di atas mimbar, sebab mereka berdoa untuk kemenangan kaum mujahidin.” Hal ini juga merupakan kebiasaan yang dicontohkan Rasulullah ketika memulai perang. Muhammad Al-Fatih juga memulai perang dengan Konstantinopel pada hari Jumat yang juga disebut sebagai sayyidul ayyaam.

Ketika masuk hari Jumat, Sultan menjadi imam shalat Muslimin. Ia menangis yang diikuti isak tangis mujahidin. Ia lalu berdoa dan diaminkan oleh seluruh pasukan. Kemudian ia berkata lantang, “Siapa yang ingin meninggalkan tempat ini, maka tinggalkanlah. Sebab di sini, tidak ada seorang sultan yang menyuruh dan melarang.” Pada saat peperangan, Alp Arslan memakai pakaian serba putih. Ia berharap jika ia terbunuh dalam pertempuran maka pakaian itulah yang menjadi kain kafannya. Sebelum peperangan dan ketika sudah berhadap-hadapan dengan musuh, Sultan Alp Arslan bersujud kepada Allah dengan melekatkan wajahnya ke tanah dan kemudian berdoa kepada Allah. Akhirnya, pasukan Konstantinopel yang berjumlah kurang lebih 300 ribu berakhir dengan kekalahan.

Pertempuran ini sangat berpengaruh dalam masa-masa selanjutnya. Dimana mental Konstantinopel sudah cukup hancur dengan kekalahan telak ini. Peristiwa ini juga melemahkan pengaruh Romawi Timur di Asia Kecil yang merupakan wilayah-wilayah strategis Konstantinopel. Ini sangat membantu untuk melemahkan dan menghancurkan kekaisaran Konstantinopel secara berangsur-angsur di bawah kekuasaan penerus Turki Seljuk, yaitu Turki Utsmani.

Sobat, yakinlah barang siapa menolong agama Allah, maka Allah akan menolongnya dan meneguhkan kedudukannya (QS. Muhammad :7). So, tetap semangat untuk berlomba dalam kebaikan ya… Wallahua’lambisshawab.

 

Advertisements