“Menjadi Kartini Sejati “

 

-LOVE-love-36983825-1680-1050

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar nama Kartini? Emansipasi wanita? Habis gelap terbitlah terang? Atau ada jawaban yang lain? Raden Ajeng Kartini, tentulah bukan sosok asing ditelinga kita utamanya bagi kaum wanita. Kartini dilahirkan pada tanggal 21 April dari kalangan bangsawan. Beliau dibesarkan dalam lingkungan adat jawa yang tidak mengizinkan kaum wanita mendapatkan pendidikan yang tinggi. Jadi bisa dikatakan, Kartini hidup di zaman ketika kekuatan budaya masyarakat sangat permisif dalam memandang kaum wanita. Beliaulah wanita yang berani berteriak dengan lantang dan mendobrak paradigma mainstream menjadi paradigma yang mengangkat harkat dan martabat kaum wanita dari ketertindasan dengan emansipasi wanita yang diperjuangkannya.

Berbicara sosok Kartini pasti tidak lepas dari surat-surat yang pernah ditulisnya. Tulisan yang sangat menginspirasi, tulisan yang menggambarkan perjuangan luhur. Namun jangan salah dalam memaknai cita-cita luhur beliau. Dewasa ini banyak yang salah kaprah dalam mengartikan esensi emansipasi wanita yang dibawa oleh beliau. Sebagian aktivis feminisme berusaha membajak sejarah untuk kepentingan-kepentingan atau menjunjung nilai-nilai tertentu yang sebenarnya jauh dari maksud dan cita-cita Kartini. Seperti apa bentuk pembajakan tersebut?

Pendekatan legal formal dilakukan oleh beberapa oknum guna mengubah apa yang mereka sebut sebagai “konstruksi sosial” yang merugikan kaum perempuan, atau sistem nilai yang cenderung patriarkis dan berorientasi pembedaaan gender. Namun Kartini tidak dapat dipanggil kembali untuk sebuah konfirmasi. Isi dalam benaknya tetap tersimpan dalam deretan tulisan sejarah yang ditorehkan orang lain dan tumpukan surat-surat kepada para sahabatnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah yang diperjuangkan Kartini sama dengan apa yang diperjuangkan kaum feminis hari ini hingga mereka merasa memiliki lisensi untuk mencatut nama Kartini? Yang kita tahu adalah kaum feminis dewasa ini sedang memperjuangkan sebuah nilai yang berkiblat pada Barat.

Salah satu kesalahan pemaknaan perjuangan Kartini adalah menganggap bahwa wanita adalah makhluk yang tiada bedanya dengan laki-laki. Mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan laki-laki, parahnya dalam segala bidang. Hal ini jelas-jelas bertentangan dengan Islam dimana wanita memiliki hak dan kewajiban yang berbeda secara khusus. Dalam hal yang umum, memang Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, seperti halnya hak mendapatkan pendidikan yang layak dan sebenarnya inilah yang diperjuagkan oleh Kartini. Jadi Kartini pada hakikatnya memperjuangkan apa yang memang menjadi hak wanita, tidak memperjuangkan yang bukan menjadi hak wanita seperti yang banyak diklaim oleh para feminis.

Pakar sejarah Ahmad Mansur Suryanegara menulis tentang sosok Kartini. Dalam bukunya yang fenomenal, Api Sejarah, Ahmad Mansur menulis :

“Dari surat-suratnya yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang, ternyata R.A Kartini tidak hanya menentang adat, tetapi juga menentang politik kristenisasi dan westernisasi. Dari surat-surat R.A. Kartini terbaca tentang nilai Islam di mata rakyat terjajah waktu itu. Islam sebagai lambang martabat peradaban bangsa Indonesia. Sebaliknya, Kristen dinilai merendahkan derajat bangsa karena para gerejawannya memihak kepada politik imperialisme dan kapitalisme.” (Afif Sholahudin).

Masih menurut Ahmad Mansur, Kartini memiliki sikap demikian setelah memperoleh dan membaca tafsir Al-Qur’an. Kekagumannya pada Qur’an ia tulis dalam suratnya kepada E.C. Abandenon : “Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami.” Qur’an ia sebut dengan “gunung kekayaan”.

Lalu sebenarnya apa yang diperjuangkan Kartini? Perjuangan kartini pada masa itu, sesuai dengan tuntunan Islam untuk menuntut ilmu bagi semua muslim baik laki-laki maupun perempuan. Dan gugatan tentang kesetaraan dalam kehidupan bermasyarakat sebenarnya sudah ada sejak jaman Rasulullah ﷺ sebagaimana pernah diriwayatkan:
Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia suka hadir dalam pengajian Rasulullah ﷺ. Pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah ﷺ, engkau diutus Allah kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at, sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka. Maka, Rasulullah ﷺ menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini. Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil Bar).

Satu hal yang jarang diungkapkan adalah usaha Kartini untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, serta bercita-cita agar Islam disukai. Simak saja salah satu isi suratnya: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902). Kian hari emansipasi kian mirip saja dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sendiri sesungguhnya makin meninggalkan semuanya, dan ingin kembali kepada fitrahnya. Yang kita salahkan adalah mereka yang menyalahartikan kemauan Kartini. Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya : “Door Duisternis Tot Licht”, yang terlanjur diartikan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Prof. Haryati Soebadio (cucu tiri Ibu Kartini) mengartikan kalimat “Door Duisternis Tot Licht” sebagai “Dari Gelap Menuju Cahaya” yang bahasa Arabnya adalah “Minazh-Zhulumaati ilan-Nuur“. Kata dalam bahasa Arab tersebut, tidak lain, merupakan inti dari dakwah Islam yang artinya: membawa manusia dari kegelapan (jahiliyah) ke tempat yang terang benderang (hidayah atau kebenaran Ilahi), sebagaimana firman-Nya:
”Allah pemimpin orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpinnya adalah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya ke kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal didalamnya” (QS. Al-Baqarah : 257).

Orang sering menjuluki Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita. Benarkah? Simak saja petikan suratnya: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]. Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya, namun kenyataannya sering diartikan secara sempit dengan satu kata: emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri.

Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Namun cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh tabir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini telah kembali kepada Pemiliknya, sebelum ia menuntaskan usahanya untuk mempelajari Islam dan mengamalkannya, seperti yang didambakannya.

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902). Itulah sekelumit surat yang menyatakan bahwa pandangan barat itu salah, dan islam itu lebih indah.

Jika “emansipasi” dikatakan sebagai penyetaraan hak dan kewajiban pria dan wanita seperti yang diusung faham feminis, penulis pribadi tidak menyetujuinya. Bagaimana mungkin, makhluk ALLAH SWT yang diciptakan dengan fisik berbeda, dengan kadar kemampuan dan kebutuhan yang berbeda, dibebankan kepada peran dan tanggung jawab yang sama? Padahal kartini ingin mengangkat wanita dalam khasanah islam,
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902). Wallahua’lambisshawab. [HA].

Advertisements