Assalamualaikum Sobat AeR, Ahlan Wasahlan ……

Sobat AeR ada yang hobi nge-gambar ? atau suka fotografi ? atau suka selfie ? heheheh

kira-kira Sobat AeR sudah tau gimana siiih hukumnya menggambar dan fotografi dalam Islam. Langsung ajaa yaaa simak ulasan singkat tentang fiqih menggambar dan fotografi… Check this out ….

images

Dizaman yang modern dengan teknologi semakin canggih membuat sebagian manusia terlena akan pernak pernik kehidupan saat ini. Semua berlomba-lomba untuk menghasilkan karya terbaik agar dapat diakui oleh orang sekitarnya, namun lupa akan pengakuan Allah atas dirinya, baik dari kalangan anak–anak maupun orang dewasa.

Menggambar, Rasulullah bersabda “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Siapakah yang lebih zholim daripada orang yang berkehendak mencipta seperti ciptaan-Ku. Coba mereka menciptakan lalat atau semut kecil (jika mereka memang mampu)!” (HR. Bukhari dan Muslim juga Ahmad). Dari Abduallah Bin Mas’ud rasulullah bersabda “Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah tukang penggambar.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari Abdullah Bin Umar rasulullah bersabda “Sesungguhnya mereka yang membuat gambar-gambar akan disiksa pada hari kiamat. Akan dikatakan kepada mereka, “Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dari Abu Hurairah rasulullah bersabda “Jibril ‘alaihis salam meminta izin kepada Nabi maka Nabi bersabda, “Masuklah.” Lalu Jibril menjawab, “Bagaimana saya mau masuk sementara di dalam rumahmu ada tirai yang bergambar. Sebaiknya kamu menghilangkan bagian kepala-kepalanya atau kamu menjadikannya sebagai alas yang dipakai berbaring, karena kami para malaikat tidak masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.” (HR. An-Nasai Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dalil hadits diatas menunjukkan keharaman menggambar makhluk Allah yang bernyawa, sedangkan menurut ibnu taimiyah menggambar pohon dan bangunan atau selain makhluk yang bernyawa hukumnya mubah.

Adapun fotografi pada prinsipnya mubah, selama tidak mengandung objek yang diharamkan. Misalkan berfoto dengan patung, tempat ibadah non muslim, dan gambar atau lukisan makhluk yang bernyawa.

berfoto dalam kacamata islam, dalam masalah hal ini para ulama berbeda pendapat ada yang memperbolehkan dan ada yang mengharamkan. Ulama yang mengharamkan beralasan bahwa tidak bisa membantah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga mengharamkan dengan alasan bahwa foto hasil kamera masih tetap disebut shuroh (gambar) walaupun dihasilkan dari alat, tetapi tetap sama-sama disebut demikian. Sedangkan pendapat yang memperbolehkan alasannya karena foto dari kamera bukanlah menghasilkan gambar baru yang menyerupai ciptaan Allah. Gambar yang terlarang adalah jika mengkreasi gambar baru. Namun gambar kamera adalah gambar ciptaan Allah itu sendiri. Sehingga hal ini tidak termasuk dalam gambar yang nanti diperintahkan untuk ditiupkan ruhnya. Foto yang dihasilkan dari kamera ibarat hasil cermin. Para ulama bersepakat akan bolehnya gambar yang ada di cermin.

Para ulama yang membolehkan foto mensyaratkan beberapa hal diantaranya; tidak boleh berupa foto yang di haramkan seperti foto kaum wanita yang terlihat auratnya, foto porno, foto yang mengandung syi’ar orang kafir atau kesyirikan, foto yang mempermainkan agama islam, foto berupa pengagungan/pengkultusan para tokoh, dan semisalnya.

 

 

 

 

 

Advertisements