jual beli islam

Quinsha sosok wanita yang selalu up tu date masalah produk HP terbaru dikalangan teman sekolahnya, meskipun dia tergolong dari keluarga yang pas-pasan. Namun Quin lebih terkenal lagi ketika saatnya dia harus membayar cicilan HPnya akan tetapi uang tidak berpihak padanya. Namun, dengan kecerdasannya Quin mulai menawarkan HPnya kepada teman-temannya untuk dijual agar bisa membayar cicilan atau melunasi hpnya. Sehingga dia terkenal dengan julukan “ratu kredit”.

So bagaiman dalam islam tentang hal ini???

Dalam islam hukum jual beli ini termasuk katagori jual beli tawarruq. Yang dimaksud jual beli tawarruq secara istilah adalah membeli suatu barang secara tidak tunai kemudian menjualnya lagi dengan tunai pada orang lain (bukan pada penjual pertama) dengan harga yang lebih murah dari harga saat dibeli. Hukum jual beli tawarruq diperbolehkan berdasarkan firman Allah: “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275).

Jual beli tawarruq merupakan istilah fiqih Hambali sedangkan menurut ulama mazhab lainya termasuk katagori jual beli ‘inah.

Jual beli ‘inah yaitu seseorang menjual barang secara tidak tunai (kredit), kemudian ia membelinya lagi dari pembeli tadi secara tunai dengan harga lebih murah.

Contoh: Quins menjual HP pada pihak A seharga 6 juta dan pembayarannya dilunasi sampai satu tahun ke depan. Belum juga dilunasi oleh si A, Quins membeli lagi hp tersebut dari si A dengan harga lebih rendah yaitu 4 juta, dengan dibayar tunai. Sehingga dari sini sebenarnya yang terjadi pada jual beli ‘inah adalah utang dengan kedok jual beli dan bermaksud mencari untung dari utang tersebut. Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad. Beliau tidak membolehkan jual beli tersebut dan menghukuminya haram. “Setiap utang yang mendatangkan keuntungan, maka itu adalah riba.” “Rasulullah melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”

Kenapa jual beli ‘inah diharamkan???

  1. Untuk menutup jalan pada transaksi riba. Jika jual beli ini dibolehkan, itu sama saja membolehkan kita menukarkan uang 6 juta dengan 4 juta namun yang salah satunya tertunda. Ini sama saja riba.
  2. Larangan jual beli ‘inah disebutkan dalam hadits, “Jika kalian berjual beli dengan cara ‘inah, mengikuti ekor sapi (maksudnya: sibuk dengan peternakan), ridha dengan bercocok tanam (maksudnya: sibuk dengan pertanian) dan meninggalkan jihad (yang saat itu fardhu ‘ain), maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Jual beli tawarruq menunjukkan bahwa barang yang sudah dibeli secara kredit sudah menjadi milik pembeli seutuhnya, karena sama saja dengan berhutang atau membeli secara tidak tunai. Kemudian ia menjualnya kepada orang lain karena alasan tertentu. Dari sini jual beli tawarruq dan ‘inah jelas berbeda. Jual beli ‘inah, kita menjual dan membeli lagi pada pihak yang sama. Sedangkan jual beli tawarruq, membeli dan menjualnya pada pihak yang berbeda. Sehingga dari sini jelas hukumnya berbeda. Jual beli ‘inah jelas mengandung trik riba sehingga hukumnya adalah haram sedangkan jual beli tawarruq hukumnya adalah mubah. Wallhua’lambisshawab. [Z]

 

Advertisements